El Nino Berkepanjangan, Apa Dampaknya Bagi Petani di Indonesia?
- 20 Apr 2026 20:01 WIB
- Tual
RRI.CO.ID, Langgur - El Niño adalah fenomena iklim yang menyebabkan kekeringan panjang di Indonesia akibat curah hujan rendah, berdampak serius pada petani berupa gagal panen (puso), penurunan produktivitas 15-45%, krisis air irigasi, dan lonjakan harga pangan akibat pasokan berkurang. Dampak terberat dirasakan oleh sawah tadah hujan.
Dilansir dari pertanian.go.id, ada beberapa dampak negatif yang terjadi pada para petani di Indonesia, karena perubahan iklim ini. Beberapa hal yang terdampak yakni:
1. Kekeringan Ekstrem & Gagal Panen: Pengurangan curah hujan drastis membuat sumber air mengering, menyebabkan lahan retak-retak dan puso, khususnya pada sawah tadah hujan.
2. Penurunan Produktivitas: Penurunan produksi tanaman pangan (padi/palawija) mencapai 15-45% di beberapa wilayah akibat kekurangan air dan suhu panas.
3. Gangguan Pola Tanam: Petani terpaksa menunda masa tanam, yang berpotensi mengurangi luas tanam keseluruhan.
4. Peningkatan Hama: Cuaca panas dan kekeringan sering kali mempercepat penyebaran hama penyakit tanaman.
5. Kerugian Ekonomi: Gagal panen menurunkan pendapatan petani secara drastis, sementara harga pupuk atau kebutuhan air mungkin meningkat.
Mengatasi hal itu, tindakan mitigasi yang harus dilakukan yaitu dari sisi pemerintah adalah mempercepat tanam, memperbaiki jaringan irigasi, dan meningkatkan cadangan pangan. Sedangkan dari sisi petani, secepatnya beralih ke varietas tahan kekeringan, menggunakan pompa air, atau beralih ke tanaman palawija yang membutuhkan lebih sedikit air.
Masih menurut para pakar cuaca, puncak dampak El Niño sering terjadi pada bulan-bulan kering (Agustus-September). Hal ini tentu saja meningkatkan risiko ancaman pangan nasional. Maka petani diharapkan bisa menyesuaikan kondisi tersebut, demi kelangsungan pangan secara mandiri dan berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....