Ustadz Ahmad Faris Bahas Cara Memaknai Pengalaman Hidup

  • 30 Agt 2026 19:58 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, Tolitoli : Pendakwah, dosen dan penulis, Ustadz Ahmad Faris BQ, Lc, M.Si., mengajak masyarakat untuk menjadikan pengalaman hidup sebagai sarana belajar dan memperkuat keimanan dalam menghadapi berbagai ketidakpastian. Hal tersebut disampaikan Ustadz Ahmad Faris dalam podcast Suara Berkelas episode “Stop Mengeluh! Yang Kamu Benci Hari Ini, Akan Kamu SYUKURI Di Masa Depan!” episode #188 bersama host Bilal Faranov.

Dalam diskusi tersebut, Ustadz Ahmad Faris menjelaskan bahwa pengalaman tidak secara otomatis menjadikan seseorang lebih bijaksana. Menurutnya, kebijaksanaan lahir dari kemampuan membaca pengalaman, mengambil pelajaran dan menggunakannya untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik. Ustadz Ahmad Faris juga memberi contoh pengalaman pandemi COVID-19 sebagai salah satu pelajaran mengenai keyakinan kepada Allah SWT sebagai penyembuh.

“Satu lagi pelajaran COVID adalah penyembuh sejati adalah Allah. Puluhan juta, ratusan juta orang terkena COVID dan sampai hari ini obat COVID itu enggak ditemukan. Tapi 91 persen sembuh. Allah ingin kasih tahu, yang ngasih sembuh itu Aku, bukan obat,” ujar Ustadz Ahmad Faris.

Ia menegaskan, keyakinan bahwa Allah SWT merupakan penyembuh tidak berarti mengabaikan ikhtiar medis. Menurutnya, ketika seseorang sakit, berobat tetap merupakan kewajiban sebagai bentuk usaha dan ketaatan terhadap syariat, sementara hasil akhirnya merupakan kehendak Allah SWT.

Lebih lanjut, Ustadz Ahmad Faris menjelaskan bahwa tauhid perlu menjadi pusat pandangan hidup dalam menghadapi ketidakpastian. Manusia memiliki tanggung jawab untuk mengelola hal-hal yang berada dalam kendalinya, sedangkan hasil dari usaha dan berbagai kejadian di luar kendali manusia perlu diserahkan kepada Allah SWT.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga iman dan kemampuan mengendalikan diri ketika berada dalam lingkungan yang kurang suportif atau toksik. Selain itu, kecerdasan emosional dan kemampuan mengendalikan diri diperlukan agar seseorang tidak mudah terbawa oleh kondisi lingkungan. Sebaliknya, individu diharapkan mampu memberikan pengaruh positif dan “mewarnai” lingkungan dengan sikap yang baik.

Ustadz Ahmad Faris mengajak masyarakat untuk terus belajar dari setiap pengalaman, memperkuat tauhid, mengelola hal-hal yang berada dalam kendali serta tetap berikhtiar dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Dengan cara tersebut, pengalaman yang awalnya dianggap berat atau tidak menyenangkan dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran yang pada akhirnya menghadirkan hikmah dan rasa syukur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....