Tumbuh di Tanah Morowali, IMIP Bangun Harmonisasi Bersama Masyarakat Lokal

  • 13 Sep 2026 13:24 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID,Palu - Perkembangan industri di beberapa wilayah di Indonesia, termasuk Kawasan Industri IMIP di Kabupaten Morowali, tentunya memberikan wajah baru bagi wilayah tersebut, baik dari sisi ekonomi hingga kehidupan masyarakat lokal yang ada. Hal itu, berawal dari adanya kerja sama Tsingshan Group dan PT Bintang Delapan Investama, melalui pendirian PT Sulawesi Mining Investment (SMI) di Indonesia pada tahun 2009, kemudian pengembangan diarahkan pada pembangunan industri pengolahan nikel di Bahodopi, Morowali, ditandai dengan groundbreaking pembangunan pabrik pemurnian nikel pada Juli 2013. Selanjutnya, pendirian kawasan IMIP ditandatangani pada 3 Oktober 2013, dalam Forum Bisnis Indonesia–Tiongkok di Jakarta, oleh Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, bersama Presiden Tiongkok Xi Jinping dan akhirnya diresmikan pada 29 Mei 2015, oleh Presiden RI ke-7, Joko Widodo.

Sejak diresmikan, Kawasan Industri IMIP Morowali perlahan namun pasti mulai berkembang dengan pesat, yang awalnya hanya berupa pengembangan industri berbasis nikel, kini menjadi ekosistem industri terintegrasi yang menghubungkan kegiatan produksi, infrastruktur, tenaga kerja, serta berbagai industri pendukung. Bahkan, IMIP juga terus berupaya membangun harmonisasi berkelanjutan terutama bersama masyarakat lokal yang berada di kawasan industri tersebut. Upaya itu, dibuktikan dengan adanya berbagai program-program kerja yang menyasar dan melibatkan langsung masyarakat lokal di Kawasan Industri IMIP Morowali.

Head Section Pilar Ekonomi Departemen Community Development and CSR PT IMIP, Tarya, mengatakan semenjak Kawasan Industri IMIP hadir di Kabupaten Morowali, pertumbuhan industri telah memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, salah satunya melalui terbukanya kesempatan atau lapangan kerja bagi masyarakat, berkembangnya peluang usaha kecil dan menengah bagi masyarakat lokal, serta peningkatan kapasitas dan keterampilan masyarakat. Selain itu, pertumbuhan kawasan industri juga mendorong berkembangnya aktivitas ekonomi di sekitar kawasan, sehingga berdampak pada semakin banyak masyarakat lokal yang dapat terlibat dan memperoleh manfaat dari pertumbuhan ekonomi tersebut.

“Masyarakat dilibatkan sejak tahap identifikasi masalah dan kebutuhan, pemetaan potensi, sampai perumusan usulan solusi. Bukan hanya itu, untuk pemetaan partisipatif, masyarakat dan perwakilan desa terlibat langsung dalam mengidentifikasi isu prioritas dan menentukan kebutuhan yang perlu ditindaklanjuti. Sehingga, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, namun secara langsung dilibatkan sejak identifikasi kebutuhan, perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan pengelolaan program,” ujar Tarya, Sabtu (12/9/2026).

Dirinya juga menyebut, adapun sejumlah Program CSR IMIP yang menyasar masyarakat lokal dalam upaya mendukung peningkatan kesejahteraan, meliputi Pemberdayaan Kelompok Tani, diantaranya Tani Suka Maju, Berkah Mombula, Alam Terpadu di Desa Le-le dan Pomponangi di Desa Makarti Jaya. Kemudian, Pemberdayaan Kelompok UMKM melalui peningkatan kapasitas, pelatihan, pendampingan usaha dan pemasaran, fasilitasi legalitas, serta dukungan sarana dan prasarana usaha, yang mana hingga tahun 2026, tercatat sebanyak 23 UMKM di Kecamatan Bahodopi terlibat dalam Program Peningkatan Kapasitas dan Pendampingan CSR Kawasan IMIP. Terakhir, Pemberdayaan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang berfokus pada pengelolaan sampah melalui KSM Berlian Makmur Morowali dan KSM Bank Sampah Lestari Mandiri.

“Dengan adanya Program CSR IMIP, dapat terlihat adanya perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar kawasan, terkhususnya dalam hal peningkatan kapasitas, produktivitas dan kemandirian. Bahkan, secara bertahap menunjukkan adanya pergeseran pola dari yang berorientasi pada penerimaan bantuan, menuju masyarakat yang lebih mampu mengelola potensi dan sumber dayanya sendiri, mengambil peran dalam pembangunan, hingga membangun kemandirian sosial dan ekonomi,” jelasnya.

Namun demikian, ia menerangkan tantangan dalam mewujudkan harmonisasi berkelanjutan tidaklah mudah, pastinya ada beberapa tantangan yang hadir dalam proses mewujudkannya, salah satunya seperti tingginya mobilitas penduduk akibat perkembangan kawasan industri yang berdampak pada dinamika sosial, serta meningkatnya kebutuhan layanan dan infrastruktur masyarakat. Tidak hanya itu, koordinasi dan komunikasi dengan pemerintah, maupun pemangku kepentingan masih menjadi tantangan dalam menyelaraskan program dengan kebutuhan wilayah.

Maka dari itu, sebagai upaya mewujudkan harmonisasi berkelanjutan di Kawasan Industri IMIP, Tarya, mengungkapkan kedepannya pihaknya mempunyai visi untuk menjadi kawasan industri berbasis mineral terbaik di dunia dengan ekosistem bisnis yang bernilai tinggi, terintegrasi, nyaman, aman dan berwawasan lingkungan. Sehingga, jika dikaitkan dengan konteks CSR, visi tersebut dapat diwujudkan dengan mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitar, melalui Program CSR yang terintegrasi dan berkelanjutan, mengembangkan lingkungan yang lestari dan menjaga keseimbangan ekologis, serta membangun kemitraan dengan masyarakat dan pemerintah dalam pembangunan berkelanjutan.red:Ruth

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....