Stop Boros Pangan Dimulai dari Kebiasaan Kecil di Bangku Sekolah

  • 05 Sep 2026 20:57 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, Parigi Moutong - Suasana SDN Inpres Masigi, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, tampak berbeda pada Jumat, 4 September 2026. Sejumlah peserta didik mendapat edukasi tentang pentingnya mengonsumsi pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) berbasis pangan lokal sekaligus gerakan Stop Boros Pangan yang digagas Dinas Ketahanan Pangan Parimo.

Kepala Dinas Ketapang Parimo, Sofyana Pandean, mengatakan edukasi tersebut menjadi langkah penting untuk menanamkan pemahaman kepada anak-anak mengenai pola konsumsi pangan sehat dengan memanfaatkan potensi pangan lokal. Menurutnya, kebiasaan memilih makanan bergizi perlu dikenalkan sejak bangku sekolah agar tumbuh menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. “Termasuk MBG yang saat ini diberikan, itu sudah mencapai B2SA,” ujar Sofyana.

Ia menuturkan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berjalan di daerah perlu memenuhi prinsip B2SA. Pengolahan makanan juga diharapkan memanfaatkan bahan pangan lokal Parimo, mulai dari hasil pertanian hingga produk pangan rumahan masyarakat. Sofyana selaku pihak yang turut mengawasi pelaksanaan MBG mengingatkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar tidak mengabaikan kekayaan pangan di daerah sendiri. “Pemanfaatan pangan lokal sangat penting dalam mendukung ketahanan pangan daerah, peningkatan gizi, dan perekonomian masyarakat tentunya,” katanya.

Di hadapan peserta didik, pesan tentang pangan lokal terasa seperti membuka jendela kecil menuju kebiasaan hidup yang lebih sehat. Anak-anak diajak mengenali makanan sesuai kebutuhan tubuh sekaligus memahami pentingnya memilih dan menghabiskan makanan secara bijak. Edukasi itu juga diarahkan untuk membangun kesadaran sejak dini agar makanan tidak berakhir di tempat sampah tanpa alasan.

Sofyana juga mengajak peserta didik ikut menjadi bagian dari gerakan Stop Boros Pangan, bukan hanya saat makan di sekolah, tetapi juga ketika berada di rumah. Anak-anak didorong berani menyampaikan saran kepada orang tua mengenai porsi makanan dan kebutuhan bahan pangan keluarga. “Salah satunya anak diajarkan untuk berani memberi saran kepada orang tua perihal porsi makan dan kebutuhan pangan,” ujarnya.

Pesan tersebut mendapat respons positif dari peserta didik SDN Inpres Masigi. Salah seorang siswa mengaku mendapat pemahaman baru mengenai pentingnya mengambil makanan sesuai kebutuhan dan tidak menyisakannya. “Saya belajar supaya mengambil makanan secukupnya dan menghabiskan makanan agar tidak terbuang,” ujar seorang siswa. Kebiasaan sederhana itu diharapkan menjadi langkah kecil yang memberi dampak besar bagi keluarga sekaligus lingkungan.

Sofyana mengatakan, sosialisasi B2SA dan Stop Boros Pangan idealnya menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Namun, keterbatasan anggaran membuat pelaksanaan sementara difokuskan pada peserta didik sekolah dasar. Ke depan, Dinas Ketapang Parimo akan berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan untuk memperluas program, terutama kepada guru agar edukasi mengenai pangan sehat, pangan lokal, dan pengurangan pemborosan pangan dapat terus mengalir kepada siswa. “Ke depan, bersama kolaborasi dengan Dinas Pendidikan, program ini akan diperluas, khususnya kepada guru untuk terus memberikan edukasi kepada siswa,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....