Pendidikan Inklusif Jadi Kunci Kemandirian Penyandang Disabilitas

  • 13 Agt 2026 09:04 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, TOLITOLI – Di tengah percepatan modernisasi dan dinamika sosial yang semakin kompleks, tantangan kehidupan sehari-hari yang dihadapi penyandang disabilitas masih kerap luput dari perhatian publik.

Bagi penyandang disabilitas atau difabel, pendidikan tidak hanya menjadi sarana untuk memperoleh ijazah maupun mengejar karier akademik. Pendidikan juga menjadi fondasi penting dalam membangun kemandirian, meningkatkan rasa percaya diri, sekaligus memastikan terpenuhinya hak asasi dalam kehidupan sehari-hari.

Akses terhadap pendidikan yang adaptif dan inklusif dapat membekali penyandang disabilitas dengan berbagai keterampilan hidup atau life skills. Keterampilan tersebut meliputi kemampuan berkomunikasi, mobilitas secara mandiri, literasi finansial hingga kemampuan memecahkan berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala Sekolah SLB Buol, Rahmawati, S.Pd., mengatakan akses pendidikan bagi penyandang disabilitas di daerah masih menghadapi sejumlah hambatan. Salah satunya adalah jarak sekolah yang cukup jauh sehingga menyulitkan orang tua untuk menyekolahkan anak-anak mereka.

"Kalau di Buol itu, hambatan mendasar yang kami alami adalah jarak yang cukup jauh serta perasaan malu orang tua difabel untuk menyekolahkan anaknya," ujar Rahmawati kepada RRI.co.id, Rabu (12/8/2026).

Menurutnya, kekhawatiran orang tua terhadap berbagai kemungkinan yang dapat terjadi pada anak selama berada di sekolah juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi akses pendidikan bagi penyandang disabilitas.

"Orang tua takut akan hal-hal yang tidak diinginkan, seperti menjadi korban kekerasan. Selain itu, asrama yang belum jelas juga membuat pihak orang tua merasa kurang percaya," katanya.

Rahmawati menilai, persoalan tersebut membutuhkan perhatian dan kerja sama berbagai pihak. Pemerintah, lembaga pendidikan, pihak swasta serta masyarakat perlu berkolaborasi untuk memperluas akses pendidikan yang ramah dan aman bagi penyandang disabilitas.

Ia menambahkan, fasilitas yang ramah disabilitas perlu terus dikembangkan, termasuk penyediaan kurikulum yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan hidup. Dengan demikian, peserta didik difabel dapat memiliki bekal untuk menjalani kehidupan secara lebih mandiri.

"Untuk memastikan setiap anak dan individu difabel mendapatkan hak pendidikannya, diperlukan kolaborasi lintas sektor. Kita perlu menyediakan fasilitas yang ramah disabilitas, kurikulum berbasis keterampilan hidup, serta membuka ruang partisipasi yang setara," ujarnya.

Pendidikan yang inklusif diharapkan mampu mengurangi ketergantungan penyandang disabilitas terhadap orang lain. Selain meningkatkan kemandirian, pendidikan juga dapat membuka kesempatan bagi mereka untuk berpartisipasi dan berkontribusi dalam kehidupan sosial maupun pembangunan daerah.

Dengan dukungan keluarga, pemerintah, sekolah dan masyarakat, penyandang disabilitas memiliki peluang yang lebih besar untuk berkembang secara optimal serta menjalani kehidupan yang mandiri dan bermartabat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....