Ustadz Ali: Infakkan Harta Tercinta Demi Raih Kemuliaan

  • 30 Jul 2026 21:36 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, Tolitoli – Membelanjakan harta yang paling dicintai di jalan Allah SWT merupakan salah satu bentuk ibadah yang memiliki nilai spiritual tinggi. Dalam Islam, seseorang tidak hanya dianjurkan bersedekah dari kelebihan harta, tetapi juga didorong menginfakkan sesuatu yang paling berharga sebagai bukti kecintaan kepada Allah SWT dan upaya menyucikan jiwa.

Prinsip tersebut ditegaskan dalam Al-Qur'an melalui Surah Ali Imran ayat 92 yang menjelaskan bahwa seseorang tidak akan mencapai kebajikan yang sempurna (al-birr) hingga menginfakkan sebagian harta yang paling dicintainya. Ajaran ini telah dicontohkan secara nyata oleh para sahabat Rasulullah SAW, salah satunya Abu Thalhah RA.

Abu Thalhah RA dikenal sebagai salah seorang sahabat Anshar yang memiliki banyak kebun kurma di Madinah. Di antara seluruh hartanya, Kebun Bairuha' menjadi aset yang paling dicintainya karena letaknya berhadapan langsung dengan Masjid Nabawi serta memiliki sumber air yang sangat jernih, bahkan Rasulullah SAW kerap meminum air dari kebun tersebut.

Ketika ayat tentang kewajiban menginfakkan harta yang dicintai diturunkan, Abu Thalhah RA segera mendatangi Rasulullah SAW dan menyerahkan Kebun Bairuha' sebagai sedekah di jalan Allah. Rasulullah SAW kemudian memuji keikhlasan tersebut seraya bersabda bahwa harta itu merupakan harta yang sangat menguntungkan, kemudian menyarankan agar kebun tersebut dibagikan kepada kerabat dekat Abu Thalhah.

Pengasuh Pondok Pesantren Nur Al Mustafa Wa Al Khairat0 sekaligus Pimpinan Majelis Al Manar Mustafa Kota Palu, Dr. H. Ali Sulthan, M.H.I, menjelaskan bahwa makna menginfakkan harta yang dicintai pada masa sekarang tidak selalu berupa aset fisik seperti tanah, kendaraan, maupun perhiasan. Menurutnya, dalam kehidupan modern, bentuk harta yang paling berharga bisa berupa sesuatu yang tidak berwujud (intangible), namun memiliki nilai tinggi bagi pemiliknya.

"Puncak dari memberi bukanlah pada seberapa besar nominal atau wujud fisik barangnya, melainkan seberapa besar keterikatan hati yang sanggup kita lepaskan demi mengharap keridhaan-Nya," ujar Dr. H. Ali Sulthan kepada RRI.co.id, Rabu (29/7/2026).

Ustadz Ali yang menjadi narasumber dalam Dialog Islami RRI Tolitoli menambahkan, manusia secara fitrah memiliki kecintaan terhadap harta. Ketika seseorang mampu melepaskan sesuatu yang paling dicintainya demi kepentingan agama dan kemaslahatan, hal itu menunjukkan bahwa kecintaannya kepada Allah SWT berada di atas kecintaan terhadap dunia.

"Manusia secara fitrah memiliki kecintaan alami pada harta. Ketika seseorang sanggup melepaskan harta yang paling ia genggam erat, ia sedang membuktikan bahwa cintanya kepada Pencipta jauh lebih besar daripada cintanya pada ciptaan," katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa sedekah memiliki berbagai keutamaan sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an dan hadis. Di antaranya, sedekah diibaratkan seperti benih yang tumbuh menjadi tujuh bulir dan setiap bulir menghasilkan seratus biji sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 261. Selain itu, sedekah juga menjadi penghapus dosa dan menjadi amalan yang terus memberikan manfaat hingga kehidupan akhirat.

Melalui kajian tersebut, masyarakat diajak untuk memaknai sedekah bukan sekadar aktivitas memberi, melainkan sebagai proses mendidik jiwa agar terhindar dari sifat kikir, mengurangi kecintaan berlebihan terhadap dunia, serta memperkuat keikhlasan dalam beribadah. Semangat berbagi dari sesuatu yang paling dicintai diharapkan mampu melahirkan pribadi yang dermawan sekaligus memperoleh keberkahan dari Allah SWT.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....