Akademisi Untad Soroti Kualitas Bangunan Pascagempa Buol
- 20 Jul 2026 16:00 WIB
- Toli Toli
RRI.CO.ID,TOLITOLI – Akademisi Universitas Tadulako (Untad) Palu, Dr. Ir. Abdullah, M.T., menyoroti kerusakan puluhan infrastruktur dan bangunan akibat gempa bermagnitudo 5,1 yang mengguncang Kabupaten Buol beberapa waktu lalu. Menurutnya, dampak kerusakan yang cukup masif pada skala gempa tersebut menjadi alarm penting untuk mengevaluasi kualitas konstruksi bangunan di wilayah tersebut.
Hal tersebut diungkapkan Dr. Abdullah saat menjadi narasumber dalam dialog interaktif RRI Tolitoli bertajuk "Waspada Gempa, Kenali Sesar Aktif di Wilayah Tolitoli dan Buol", Selasa 14 Juli 2026.
"Sangat mengagetkan, gempa berkekuatan magnitudo 5,1 bisa merusak hingga belasan bahkan puluhan bangunan, termasuk fasilitas publik seperti kantor bupati. Ini menjadi hikmah dan pembelajaran besar bagi kita untuk mempertanyakan kembali bagaimana kualitas kelayakan struktur bangunan ke depan," ujar Abdullah.
Abdullah memaparkan bahwa ancaman gempa bumi di perairan Sulawesi Utara, Buol, dan Tolitoli sangat nyata. Merujuk pada peta Pusat Studi Gempa Nasional, wilayah utara Buol dan Tolitoli memiliki potensi gempa megathrust dengan magnitudo maksimum hingga 8,5. Sejarah juga mencatat Buol pernah diguncang gempa dahsyat bermagnitudo 7,7 pada tahun 2008 akibat aktivitas Sesar Gorontalo.
Selain mengevaluasi fisik bangunan, ia juga mendesak Pemerintah Kabupaten Buol dan Tolitoli untuk segera menentukan dan memasang marka batas aman tsunami secara konkret di wilayah pesisir. Langkah ini dinilai krusial untuk mencegah kepanikan massal dan jatuhnya korban jiwa tidak langsung akibat ketakutan berlebih terhadap tsunami,.
"Begitu gempa terjadi, warga pesisir langsung panik dan berlomba menjauh mencari tempat tinggi karena takut tsunami. Padahal, jika batas aman tsunami sudah dipetakan dan disosialisasikan dengan jelas, warga yang tinggal di luar batas tersebut tidak perlu ikut mengungsi dan menyumbat jalur evakuasi," jelasnya,,.
Menanggapi kendala anggaran klasik yang kerap dihadapi BPBD di daerah dalam merealisasikan rambu fisik mitigasi, pakar kebencanaan Untad ini menyarankan penerapan pendekatan kolaborasi Pentahelix. Ia mendorong BPBD Tolitoli dan Buol untuk menginventarisasi perusahaan swasta yang beroperasi di wilayah masing-masing dan meminta kontribusi nyata mereka melalui program Corporate Social Responsibility (CSR),.
"Jangan sampai perusahaan swasta hanya memanfaatkan sumber daya alam daerah, sementara kontribusi terhadap keselamatan warga di wilayah operasinya nihil. Mereka bisa dilibatkan untuk mendanai pembuatan papan jalur evakuasi, titik kumpul, hingga mendukung kegiatan simulasi kebencanaan," tegas Abdullah menutup pemaparannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....