Masalah Asrama di Palu, Mahasiswa Buol Layangkan 3 Tuntutan ke Gubernur Sulteng

  • 03 Jul 2026 16:15 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, Buol - Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Buol menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) pada hari ini. Aksi tersebut dipimpin langsung oleh Aldiansyah Musa selaku koordinator lapangan (korlap) sebagai bentuk protes terkait polemik pengelolaan asrama mahasiswa Buol yang terletak di Kota Palu.

Dalam aksi tersebut, Aldiansyah Musa bersama massa aksi menyampaikan aspirasi mereka yang dirangkum ke dalam tiga poin tuntutan utama. Berikut adalah ketiga tuntutan tersebut:

  1. Menolak Surat Keputusan Bupati Buol perihal permohonan penyerahan eks Kabupaten Induk berupa tanah dan bangunan asrama mahasiswa Buol di Palu, serta mendesak agar hak milik asrama tersebut diberikan sepenuhnya kepada Pemerintah Kabupaten Buol.
  2. Mendesak Bupati Buol untuk meminta maaf kepada seluruh masyarakat Buol atas kegaduhan yang telah terjadi akibat polemik ini.
  3. Menolak segala bentuk pernyataan atas klaim sepihak dari Kabupaten Toli-Toli terkait kepemilikan aset asrama tersebut.

Massa aksi memberikan tenggat waktu 2 x 24 jam kepada pihak berwenang untuk segera menanggapi hasil mediasi dan tuntutan yang mereka suarakan.

Menanggapi aksi tersebut, Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, langsung menemui massa aksi. Anwar Hafid menyatakan bahwa dirinya terus memantau perkembangan aspirasi mahasiswa di media sosial. Ia menegaskan akan segera memanggil Bupati Buol dan Bupati Toli-Toli untuk duduk bersama guna menyelesaikan polemik aset ini.

"Saya akan memanggil kedua bupati untuk membicarakan ini. Masalah ini cukup kami selesaikan bertiga terlebih dahulu untuk mencari jalan keluar yang terbaik," ujar Anwar Hafid di hadapan para mahasiswa, Kamis, 02 Juli 2026.

Lebih lanjut, Anwar Hafid menjelaskan bahwa polemik batas wilayah atau pembagian aset pasca-pemekaran daerah seperti ini merupakan hal yang lumrah terjadi, seperti yang pernah ditanganinya antara Morowali dan Morowali Utara. Namun, hal tersebut selalu bisa diselesaikan dengan kearifan kedua kepala daerah.

Gubernur Anwar Hafid juga memastikan akan tetap melibatkan tokoh dan saksi sejarah dalam proses audiensi lanjutan jika kedua belah pihak belum mencapai kesepakatan, guna memastikan keadilan bagi mahasiswa Buol maupun Toli-Toli.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....