Gempa M 7,7 Picu Kepanikan di Sekolah-sekolah Buol
- 09 Jun 2026 13:38 WIB
- Toli Toli
RRI.CO.ID,Buol Kepanikan sempat melanda sejumlah sekolah di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, dampak langsung dari gempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 7,7 mengguncang wilayah selatan Filipina, pada Senin pagi. Salah satu sekolah yang terdampak adalah MTS 1 Biau.
Kepala Tata Usaha (TU) MTS 1 Biau, Arifana, menceritakan kronologi kepanikan yang terjadi di lingkungan sekolah saat guncangan gempa beruntun mulai dirasakan.
Menurut Arifana, getaran pertama mulai dirasakan sekitar pukul 07.40 WITA. Pada guncangan awal ini, situasi masih relatif tenang karena getaran dinilai masih ringan. Siswa dan guru-guru pun masih bertahan di dalam ruang kelas dan ruangan masing-masing.
"Awalnya gempa ringan, kita belum panik. Anak-anak masih berada di kelas dan guru-guru juga masih di ruangan," ujar Arifana saat diwawancarai rri.co.id, Senin 08 Juni 2026.
Namun, situasi berubah mencekam ketika guncangan kedua terjadi hanya berselang sekitar tiga menit kemudian dengan intensitas yang lebih kuat. Mengingat MTS 1 Biau memiliki gedung berlantai dua, para guru langsung panik dan mengarahkan seluruh siswa untuk segera turun dan keluar dari gedung.
Setelah sempat mereda, anak-anak sempat diarahkan untuk kembali ke kelas mereka. Tak berselang lama, guncangan ketiga kembali terjadi, memaksa pihak sekolah meneriaki siswa untuk kembali melakukan evakuasi ke tempat yang aman.
Pasca-kejadian tersebut, para orang tua murid mulai berdatangan ke sekolah untuk menjemput anak-anak mereka. Pihak sekolah juga banyak menerima panggilan telepon dan pesan WhatsApp dari orang tua yang mengkhawatirkan keselamatan anak mereka.
Melihat situasi tersebut, pihak manajemen MTS 1 Biau mengambil kebijakan untuk mengizinkan orang tua membawa pulang anak mereka lebih awal. Pihak sekolah juga memastikan bahwa proses pembelajaran akan dilanjutkan kembali pada esok hari.
"Untuk ujian madrasah alhamdulillah kita sudah selesai. Anak-anak yang hadir hari ini kebanyakan yang masih ada tunggakan pembelajaran remedial, jadi kehadiran siswa hanya sekitar 50%. Karena orang tua datang satu per satu, proses kepulangan bisa kami izinkan dengan tertib," tambah Arifana.
Menyikapi status kewaspadaan di wilayah Sulawesi Tengah, Arifana mengimbau masyarakat, khususnya para guru di tingkat pendidikan yang lebih rendah seperti MI dan SD yang cenderung lebih mudah panik, untuk tetap tenang namun waspada.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....