Berawal dari Hobi, Johana Jhoni Tergerak Tingkatkan Literasi Anak di Desa Terpenci
- 22 Mei 2026 16:27 WIB
- Toli Toli
RRI.CO.ID, Tolitoli - Kepedulian terhadap pendidikan anak-anak di wilayah terpencil dapat tumbuh dari berbagai pengalaman sederhana. Hal itulah yang dialami pegiat literasi sekaligus pengajar, Johana Jhoni, yang memulai kegiatan mengajar anak-anak desa berawal dari hobinya berjalan-jalan dan berburu lokasi fotografi di sejumlah wilayah pedesaan.
Saat ditemui rri.co.id, Johana menuturkan bahwa ketertarikannya membantu anak-anak muncul ketika ia berkunjung ke sebuah desa terpencil pada tahun 2009. Dalam kunjungan tersebut, ia mengajak anak-anak bermain dan berbincang santai. Dari percakapan itu, pembahasan kemudian mengarah pada pelajaran sekolah dan kemampuan dasar yang mereka miliki.
“Berawal dari hobi jalan-jalan, hunting dan mencari spot foto yang bagus. Ketika saya berkunjung ke desa dan melihat anak-anak, saya ajak mereka bermain dan berbincang-bincang. Akhirnya pembicaraan mengarah ke pelajaran sekolah, dan saya menemukan ada anak yang sudah kelas tiga tetapi belum bisa membaca. Bahkan ada yang sudah kelas lima, namun perkaliannya belum hafal dengan baik dan belum menguasai rumus-rumus dasar matematika,” ujar Johana, Senin 18/05/2026.
Kondisi tersebut membuat Johana merasa terpanggil untuk memberikan pendampingan belajar kepada anak-anak di desa tersebut. Menurutnya, kemampuan membaca dan berhitung merupakan keterampilan dasar yang harus dikuasai siswa, terlebih bagi mereka yang akan memasuki jenjang pendidikan lebih tinggi.
“Saya merasa terpanggil untuk mengajak dan mengajarkan anak-anak ini. Akhirnya saya berinisiatif mengumpulkan mereka di rumah salah satu anak, kemudian mengajarkan membaca dan belajar menggunakan buku-buku yang ada. Alhamdulillah mereka tertarik mengikuti kegiatan itu,” katanya.
Antusiasme anak-anak, lanjut Johana, terus bertambah dari waktu ke waktu. Bahkan anak-anak yang awalnya tidak mengikuti kegiatan belajar turut berdatangan setelah mendapat ajakan dari teman-temannya. Kehadiran mereka menunjukkan tingginya semangat belajar meskipun berada dalam keterbatasan sarana dan akses pendidikan.
“Anak-anak yang sebelumnya tidak ada di rumah itu akhirnya datang berkumpul karena mereka saling memanggil satu sama lain. Yang membuat saya salut, orang tua mereka juga ikut berkumpul dan mendampingi kegiatan belajar tersebut,” ungkapnya.
Johana menjelaskan, rendahnya kemampuan literasi dan numerasi sebagian siswa saat itu tidak terlepas dari kondisi geografis desa yang masih sulit dijangkau. Infrastruktur yang terbatas menjadi tantangan tersendiri bagi proses belajar mengajar di sekolah, termasuk bagi para tenaga pendidik yang bertugas di wilayah tersebut.
“Saya bisa memahami kondisi sekolah mereka karena desanya memang terpencil. Jalannya masih sangat rusak waktu itu. Bahkan kadang-kadang anak-anak tidak mengikuti pelajaran karena gurunya tidak sempat hadir, apalagi saat musim hujan. Untuk menuju ke desa harus melewati sungai kecil dan jembatan besar yang saat itu masih terbuat dari kayu,” tuturnya.
Meski demikian, Johana bersyukur kondisi infrastruktur di wilayah tersebut kini telah mengalami banyak perubahan. Akses transportasi yang semakin baik diharapkan dapat mendukung pemerataan pendidikan serta meningkatkan kualitas pembelajaran bagi anak-anak di daerah terpencil. Kisah yang berawal dari hobi berburu foto itu pun menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap pendidikan dapat memberikan dampak nyata bagi masa depan generasi muda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....