Bukan Likuefaksi, Stasiun Geofisika Ungkap Pemicu Pergerakan Tanah di Mangubi
- 25 Mar 2026 15:19 WIB
- Toli Toli
RRI.CO.ID, BUOL – Intensitas hujan yang tinggi dalam sepekan terakhir di wilayah Kabupaten Buol tidak hanya memicu banjir, namun juga mengungkap ancaman geologi yang serius bagi warga Desa Mangubi, Kecamatan Momunu. Kepala Stasiun Geofisika Palu, Djati Cipto Kuncoro, memberikan penjelasan mendalam terkait fenomena pergerakan tanah yang melanda pemukiman warga tersebut.
Meski sempat menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya likuifaksi (pencairan tanah), Djati menegaskan bahwa fenomena di Desa Mangubi lebih merujuk pada longsor rayapan (soil creep) yang dipicu oleh kondisi topografi dan akumulasi curah hujan.
"Jika kita melihat kondisi lapangan, ini bukan likuefaksi yang terjadi tiba-tiba. Ini lebih kepada pengaruh topografi dan curah hujan yang sangat tinggi. Lokasi yang berada di lereng, meski tidak terlalu curam, menjadi pemicu utama saat tanah mencapai titik jenuhnya," ujar Djati saat dikonfirmasi RRI, Rabu 25 Maret 2026
Secara edukatif, Djati menjelaskan bahwa tanah memiliki kapasitas tertentu untuk menyerap air. Fenomena di Mangubi terjadi karena:
- Akumulasi Air: Hujan deras yang berlangsung terus-menerus (bahkan sempat memicu banjir selama dua hari) menyebabkan air meresap dan terkumpul di dalam lapisan tanah.
- Titik Jenuh: Setelah bertahun-tahun menampung endapan air, tanah mencapai titik jenuh dimana daya rekat antar material tanah, air, dan sedimen pengikatnya mulai melemah.
- Pergerakan Perlahan: Karena berada di kemiringan, material tanah yang sudah berat karena air tersebut perlahan-lahan merambat atau bergeser ke bawah.
"Proses ini tidak terjadi dalam satu dua tahun, tapi bisa puluhan tahun hingga mencapai titik jenuhnya. Saat daya rekatnya terlepas perlahan, terjadilah pergerakan tanah yang merusak infrastruktur di atasnya," tambahnya.
Pihak Stasiun Geofisika Palu meminta masyarakat untuk tetap waspada, terutama karena curah hujan masih diprediksi akan terus berlangsung.
Sebagai langkah mitigasi, warga sangat diminta untuk tidak melakukan aktivitas di area yang telah menunjukkan tanda-tanda retakan atau pergeseran tanah guna menghindari titik terdampak. Bagi masyarakat yang rumahnya sudah mengalami kerusakan struktur atau berada tepat di jalur rayapan tanah, sangat disarankan untuk segera melakukan evakuasi mandiri dengan mengungsi ke tempat yang lebih aman. Selain itu, penting bagi warga untuk terus melakukan koordinasi dengan BPBD serta mengikuti arahan dari Pemerintah Daerah melalui BPBD Kabupaten Buol untuk langkah penanganan lebih lanjut.
Kondisi geologi ini menuntut kesadaran kolektif bahwa pola pemukiman di daerah lereng memiliki risiko yang harus dimitigasi sejak dini, terutama melalui pemahaman tata air dan struktur tanah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....