Bahasa Dondo Jadi Simbol Kearifan Lokal yang Harus Dilestarikan
- 10 Apr 2025 07:30 WIB
- Toli Toli
KBRN, Tolitoli: Perbedaan dialek dan kosakata dalam Bahasa Dondo yang digunakan di berbagai wilayah Kabupaten Tolitoli, khususnya di Kecamatan Ogodeide dan Kecamatan Lampasio, tidak menjadi penghalang dalam upaya pelestarian budaya daerah. Justru, perbedaan ini dianggap sebagai kekayaan budaya yang mempererat persatuan masyarakat dalam menjaga kearifan lokal.
Tokoh masyarakat Dondo, Moh Yasin, kepada RRI mengatakan bahwa meskipun penutur Bahasa Dondo di beberapa desa memiliki perbedaan dalam pelafalan dan kosakata, hal itu tidak menjadi hambatan dalam menjaga identitas budaya mereka.
“Bahasa Dondo memiliki ragam dialek yang berbeda-beda antarwilayah. Tapi perbedaan ini bukan jadi alasan untuk terpecah. Justru ini adalah kekayaan yang menunjukkan betapa beragam dan kayanya budaya kita,” ujarnya, Kamis (10/4/2025).
Menurut Yasin, ragam dialek tersebut tumbuh secara alami seiring perkembangan sejarah, geografis, dan interaksi sosial masyarakat di tiap wilayah. Namun, esensi dari bahasa dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya tetap satu: merekatkan masyarakat dalam satu identitas yang sama sebagai orang Dondo.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan semua elemen masyarakat—terutama generasi muda—dalam menjaga dan melestarikan Bahasa Dondo agar tidak tergerus zaman. Menurutnya, upaya tersebut bisa dilakukan melalui pendidikan informal, kegiatan seni-budaya, serta digitalisasi bahasa daerah.
“Kita harus bangga menggunakan Bahasa Dondo, meskipun logatnya beda-beda. Ini adalah identitas kita yang tidak boleh hilang,” tambah Yasin.
Pelestarian bahasa daerah seperti Bahasa Dondo menjadi bagian penting dalam menjaga jati diri bangsa. Pemerintah daerah dan masyarakat diharapkan terus berkolaborasi untuk menghidupkan kembali semangat cinta budaya lokal, termasuk dengan mengintegrasikan bahasa daerah ke dalam kegiatan pendidikan dan kebudayaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....