Euforia Piala Dunia di Tolitoli Meredup, Warga Pilih Fokus Bekerja
- 26 Jun 2026 13:57 WIB
- Toli Toli
RRI.CO.ID, Tolitoli – Suasana Piala Dunia 2026 yang biasanya menghadirkan kemeriahan melalui kegiatan nonton bareng (nobar) di berbagai daerah di Indonesia, justru tampak berbeda di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah. Euforia masyarakat terhadap ajang sepak bola terbesar di dunia itu terlihat jauh lebih sepi dibandingkan edisi-edisi sebelumnya.
Minimnya atribut seperti bendera negara peserta di sepanjang jalan protokol, serta warung kopi yang beroperasi seperti malam biasa tanpa menggelar nobar, menjadi gambaran berkurangnya antusiasme masyarakat terhadap Piala Dunia tahun ini.
Salah seorang warga Kecamatan Galang, Askar, menilai kondisi tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Menurutnya, mayoritas masyarakat Tolitoli menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertanian, seperti cengkeh dan kelapa, serta perikanan. Selain itu, jadwal pertandingan yang berlangsung hingga larut malam atau dini hari WITA membuat banyak warga memilih beristirahat agar tetap bugar untuk bekerja keesokan harinya.
"Sebenarnya saya suka sekali nonton bola, cuma masalahnya pertandingannya terlalu malam. Kalau dipaksakan begadang tentu tidak bagus untuk tenaga dan tidak maksimal saat bekerja di kebun atau melaut. Karena bagi kami sebagai pejuang ekonomi keluarga, yang paling diutamakan sekarang bagaimana dapur bisa tetap berasap," ujar Askar kepada RRI.co.id, Kamis (25/6/2026).
Ia juga menambahkan bahwa perubahan tren hiburan turut memengaruhi berkurangnya gairah masyarakat terhadap Piala Dunia. Menurutnya, kalangan muda di Tolitoli kini lebih banyak menghabiskan waktu bermain gim daring seperti Mobile Legends dan PUBG Mobile dibandingkan mengikuti pertandingan sepak bola.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa meskipun Piala Dunia merupakan ajang olahraga paling bergengsi di dunia, kondisi sosial dan ekonomi masyarakat setempat menjadi faktor utama yang memengaruhi tingkat antusiasme. Bagi sebagian besar warga Tolitoli, menjaga produktivitas kerja dan memenuhi kebutuhan keluarga menjadi prioritas dibandingkan begadang menyaksikan pertandingan sepak bola.
Di tengah perhelatan Piala Dunia 2026, realitas kehidupan masyarakat Kota Cengkeh membuktikan bahwa kemenangan yang paling berarti bukan hanya melihat negara favorit menjadi juara, melainkan memastikan ekonomi keluarga tetap stabil dan mata pencaharian berjalan dengan baik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....