Jaringan Jaga Deca Siapkan Agenda Sambut Hari Tani Nasional 2026

  • 11 Sep 2026 14:08 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, BUOL — Jaringan Jaga Deca menyiapkan sejumlah agenda dalam rangka menyambut Hari Tani Nasional 2026 yang diperingati setiap 24 September. Rangkaian kegiatan tersebut mengangkat berbagai isu masyarakat pedesaan, pertanian, perkebunan sawit, lingkungan, perempuan, pemuda, hingga keadilan agraria.

Founder Jaringan Jaga Deca, Fatrisia N. Ain, mengatakan rangkaian kegiatan tahun ini mengusung tema “Merebut Kembali Ruang Hidup, Memperkuat Kuasa Rakyat untuk Mewujudkan Keadilan Agraria.” Tema tersebut menjadi landasan dalam mendorong ruang dialog dan partisipasi masyarakat terkait berbagai persoalan agraria.

Menurut Fatrisia, sejumlah kegiatan telah disiapkan sebagai ruang bertukar pengalaman, berdiskusi, sekaligus memperkuat suara masyarakat yang berhadapan langsung dengan berbagai persoalan agraria dan lingkungan. Rangkaian agenda diawali dengan Rurai Convening pada 1 September 2026, yang membahas kondisi desa-desa terdampak perkebunan sawit serta desa yang menyatakan sikap menolak ekspansi perkebunan sawit.

Selanjutnya, pada 14 September 2026, Jaringan Jaga Deca akan menggelar dialog publik bertajuk “Menakar Efektivitas Penetapan Harga TBS di Sulawesi Tengah.” Forum tersebut menjadi ruang diskusi mengenai persoalan harga tandan buah segar (TBS) sekaligus dampaknya terhadap petani sawit di Sulawesi Tengah.

Puncak rangkaian kegiatan akan berlangsung pada 24 September 2026 melalui Karnaval Hari Tani Nasional. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas ruang publik untuk menyuarakan berbagai persoalan dan tuntutan masyarakat tani. Agenda kemudian dilanjutkan dengan Climate Camp/Kemah Iklim Pemuda pada 26–28 September 2026.

Kegiatan Climate Camp akan melibatkan pemuda dalam pembahasan mengenai perubahan iklim, lingkungan, dan masa depan ruang hidup masyarakat. Sementara itu, pada 2–4 Oktober 2026, Jaringan Jaga Deca akan menggelar Women Exchange: Pertukaran Pengalaman Perempuan Lingkar Sawit, sebagai ruang bagi perempuan di wilayah lingkar perkebunan sawit untuk berbagi pengalaman dan perspektif.

Fatrisia mengatakan seluruh rangkaian agenda tersebut diharapkan dapat memperkuat ruang dialog dan partisipasi masyarakat dalam membicarakan persoalan agraria yang terjadi di tingkat lokal maupun regional. “Melalui rangkaian agenda ini, kami ingin kembali membawa isu masyarakat pedesaan, pertanian, perkebunan sawit, perempuan, pemuda, lingkungan, serta keadilan agraria ke dalam ruang diskusi publik,” ujarnya.

Ia menambahkan, Hari Tani Nasional tidak hanya menjadi momentum seremonial, tetapi juga kesempatan untuk melihat kembali berbagai persoalan yang dihadapi petani dan masyarakat pedesaan. Momentum tersebut diharapkan dapat mendorong terwujudnya kebijakan agraria yang lebih adil dan berpihak kepada rakyat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....