Manfaat Buah Kelor bagi Kesehatan, Kaya Vitamin C dan Menjaga Gula Darah
- 28 Sep 2026 21:01 WIB
- Toli Toli
RRI.CO.ID, Tolitoli - Kelor merupakan salah satu tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Tidak hanya bagian daunnya, buah atau polong kelor juga dapat dikonsumsi dan memiliki sejumlah kandungan nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh.
Buah kelor memiliki bentuk memanjang dengan penampang menyerupai segitiga dan umumnya berwarna hijau ketika masih muda. Di sejumlah daerah, buah kelor dikenal dengan sebutan klentang dan biasa diolah menjadi sayuran.
Tanaman dengan nama ilmiah Moringa oleifera ini memiliki beragam bagian yang dapat dimanfaatkan. Daun dan bijinya diketahui mengandung antioksidan, asam amino, vitamin, serta mineral.
Daun kelor bahkan dikenal memiliki kandungan protein yang cukup lengkap. Bubuk daun kelor dilaporkan mengandung sembilan asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh dan tidak dapat diproduksi sendiri oleh manusia.
Sementara itu, buah kelor memiliki kandungan vitamin C yang cukup tinggi. Biji kelor yang dapat dikonsumsi juga mengandung asam oleat, yakni jenis asam lemak tak jenuh yang juga banyak ditemukan dalam minyak zaitun.
1. Kaya Nutrisi
Kelor telah lama dimanfaatkan sebagai bahan makanan di sejumlah wilayah, termasuk India dan Afrika. Daunnya dapat dimasak atau diolah menjadi bubuk sebagai bahan tambahan makanan.
Mengacu pada data komposisi pangan USDA yang tercantum dalam bahan referensi, satu cangkir daun kelor segar atau sekitar 21 gram mengandung sejumlah nutrisi, antara lain protein, vitamin B6, vitamin C, zat besi, riboflavin, vitamin A, dan magnesium.
Daun kelor kering juga banyak dipasarkan dalam bentuk bubuk maupun kapsul sebagai suplemen makanan.
Dibandingkan daunnya, buah kelor memiliki kandungan beberapa vitamin dan mineral yang lebih rendah. Namun, salah satu keunggulannya adalah kandungan vitamin C.
Sekitar 100 gram polong kelor segar disebut dapat memberikan lebih dari kebutuhan harian vitamin C.
Meski demikian, kelor juga mengandung senyawa antinutrien. Senyawa tersebut dapat menghambat penyerapan sebagian mineral dan protein sehingga konsumsi kelor tetap perlu ditempatkan sebagai bagian dari pola makan yang beragam.
2. Berpotensi Membantu Mengontrol Gula Darah
Kelor juga menjadi objek sejumlah penelitian terkait kadar gula darah. Beberapa penelitian awal menunjukkan bahwa konsumsi kelor berpotensi membantu mengurangi peningkatan gula darah setelah makan.
Salah satu penelitian kecil pada sukarelawan sehat menemukan bahwa konsumsi bubuk daun kelor berkaitan dengan peningkatan kadar insulin dalam darah dan penurunan gula darah.
Penelitian lain yang melibatkan 17 orang dengan diabetes dan 10 orang sehat juga menemukan bahwa konsumsi kelor berpotensi mengurangi lonjakan gula darah setelah makan.
Sementara itu, penelitian pada hewan menunjukkan ekstrak kelor berpotensi meningkatkan sensitivitas insulin dan membantu menurunkan kadar gula darah.
Meski demikian, bukti tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa kelor dapat digunakan sebagai pengobatan diabetes. Sebagian penelitian masih melibatkan jumlah peserta yang kecil atau dilakukan pada hewan.
3. Berpotensi Mendukung Kesehatan Jantung
Manfaat lain yang banyak diteliti dari tanaman kelor adalah kaitannya dengan kesehatan jantung.
Ekstrak daun kelor dalam sejumlah penelitian dilaporkan berpotensi membantu menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida. Kondisi kadar lemak darah yang tinggi merupakan salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular.
Biji kelor juga secara tradisional digunakan untuk membantu menjaga tekanan darah. Penelitian pada hewan menunjukkan adanya potensi efek perlindungan terhadap jantung dan tekanan darah.
Namun, temuan tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menggantikan pengobatan medis. Penelitian pada manusia dalam skala lebih besar masih diperlukan untuk memastikan efektivitas dan keamanannya.
4. Mengandung Senyawa Anti-inflamasi
Kelor juga mengandung senyawa bioaktif yang memiliki aktivitas anti-inflamasi dalam penelitian laboratorium.
Salah satu kelompok senyawa yang banyak mendapat perhatian adalah isothiocyanate. Senyawa tersebut ditemukan pada daun, polong, dan biji kelor.
Penelitian laboratorium dan pada hewan menunjukkan adanya potensi aktivitas anti-inflamasi. Namun, sejauh mana efek tersebut dapat memberikan manfaat yang sama pada manusia masih perlu diteliti lebih lanjut.
Karena itu, kelor belum dapat disebut sebagai obat untuk mengatasi peradangan atau penyakit tertentu.
Perlu Memperhatikan Konsumsinya
Di balik berbagai potensi manfaatnya, konsumsi kelor tetap perlu dilakukan secara bijak. Orang yang ingin mengonsumsi kelor dalam bentuk suplemen atau ekstrak sebaiknya memperhatikan dosis yang tercantum pada produk.
Kelor juga dapat berinteraksi dengan sejumlah obat. Misalnya, konsumsi bersama obat diabetes berpotensi membuat kadar gula darah turun terlalu rendah. Begitu pula dengan obat untuk tekanan darah tinggi karena kelor juga berpotensi menurunkan tekanan darah.
Orang yang mengonsumsi levothyroxine untuk gangguan tiroid juga perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan produk kelor. Ekstrak kelor juga berpotensi memengaruhi proses metabolisme obat tertentu di hati.
Wanita hamil juga sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum mengonsumsi kelor dalam bentuk suplemen atau ekstrak, mengingat adanya kekhawatiran mengenai efek tertentu pada kehamilan.
Pada akhirnya, buah, daun, dan biji kelor dapat menjadi bagian dari pilihan pangan yang kaya nutrisi. Namun, berbagai klaim mengenai manfaat kesehatan kelor perlu dipahami secara proporsional karena sebagian bukti ilmiahnya masih berasal dari penelitian awal, penelitian laboratorium, maupun penelitian pada hewan.
Kelor sebaiknya dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang dan bukan sebagai pengganti obat atau terapi medis yang telah direkomendasikan tenaga kesehatan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....