Psikolog Ungkap Cara Mengenali Luka Batin dan Kesepian

  • 17 Sep 2026 14:06 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, Tolitoli : Hal tersebut disampaikan Psikolog Klinis Analisa Widyaningrum dalam Podcast Suara Berkelas bersama host Bilal Faranov, episode ke-209 bertajuk “Psikolog: Alasan Kamu Selalu Lelah Dengan Pekerjaanmu dan Hilang Jati Diri.” memberikan pencerahan seputar mengenali luka batin dan pengalaman emosional menjadi salah satu langkah penting dalam proses pemulihan diri.

Analisa menjelaskan, seseorang dapat mulai mengenali luka batin dengan memberikan nama pada emosi yang sedang dirasakan, kemudian mencoba memahami penyebab munculnya emosi tersebut.

“Cara paling gampang adalah mengartikulasikan perasaan yang kita alami tersebut. Ngobrol, cerita, ngobrol sama diri kita sendiri. Sesimpel kayak dikasih nama, nih aku lagi kesal banget, nih aku lagi marah banget, terus habis itu ditanya kenapa,” ujar Analisa.

Ia menggunakan perumpamaan seseorang yang sedang mengendarai mobil untuk menjelaskan pentingnya melihat pengalaman masa lalu. Menurutnya, seseorang perlu mengetahui kapan harus melihat ke depan dan kapan melihat ke belakang melalui “spion”, sehingga pengalaman masa lalu dapat menjadi bahan pembelajaran tanpa menghambat langkah ke depan.

Analisa juga menyoroti fase usia 20 hingga 30 tahun yang sering diwarnai keinginan memperoleh validasi dari lingkungan. Menurutnya, terlalu banyak menghabiskan energi untuk memenuhi penilaian orang lain dapat membuat seseorang kehilangan fokus terhadap kebutuhan dan kondisi dirinya sendiri. Karena itu, ia menyarankan agar pendapat orang lain tetap didengarkan dengan porsi yang tepat, tanpa menjadikannya sebagai satu-satunya ukuran dalam menentukan nilai diri.

Selain luka batin, kesepian juga menjadi bagian dari pembahasan. Analisa mengatakan kesepian merupakan pengalaman yang dapat dialami seseorang pada berbagai fase kehidupan, terlebih di tengah perkembangan media sosial yang sering menampilkan kehidupan orang lain secara berlebihan.

Menurutnya, kesepian yang tidak dikelola dapat membuat seseorang terjebak dalam pola pikir sebagai korban dan kehilangan energi untuk menjalani kehidupan. Seiring bertambahnya usia, jumlah teman dekat seseorang juga cenderung berkurang. Namun, kondisi tersebut tidak selalu menjadi persoalan karena kualitas hubungan yang tulus dan memberikan rasa nyaman menjadi semakin penting.

Analisa menjelaskan, kesepian tidak selalu berarti seseorang tidak memiliki banyak kenalan. Seseorang dapat memiliki banyak kontak atau relasi, tetapi tetap merasa kesepian ketika tidak memiliki orang yang dapat diajak berbagi secara nyaman dan jujur.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, menjaga hubungan yang sehat dengan teman maupun pasangan menjadi salah satu hal yang penting. Hubungan yang memungkinkan seseorang diterima dan dihargai apa adanya dapat menjadi ruang untuk membangun koneksi yang lebih bermakna.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....