Dr Ryan Ungkap Bahaya Kecanduan Konten Media Sosial

  • 24 Agt 2026 14:34 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, Tolitoli - Dokter Spesialis Bedah Saraf, dr. Ryan Rhiveldi Keswani, Sp.BS, membagikan sejumlah cara untuk melatih otak agar lebih mudah berkonsentrasi dan menyelesaikan pekerjaan yang sulit. Hal tersebut disampaikan dr. Ryan dalam podcast Suara Berkelas bersama Bilal Faranov bertajuk “#1 Neurosurgeon: CARA HACK Otak Kamu Agar MUDAH Kerjain Hal SULIT”, episode #207.

Dalam podcast tersebut, dr. Ryan yang aktif membagikan informasi mengenai kesehatan otak kepada masyarakat menjelaskan bahwa proses belajar melibatkan berbagai neurotransmitter, di antaranya glutamat, dopamin dan norepinefrin. Ia mengatakan, kebiasaan mencatat dan menggunakan habit tracker dapat membantu meningkatkan konsentrasi dan motivasi. Aktivitas tersebut memberikan rangsangan baru bagi otak yang berkaitan dengan munculnya norepinefrin.

Menurutnya, rasa senang ketika melihat perkembangan atau target yang berhasil dicatat juga dapat membantu otak membangun kebiasaan dan mempertahankan konsentrasi dalam waktu yang lebih panjang. Selain manfaat mencatat, dr. Ryan mengingatkan masyarakat mengenai risiko ketergantungan terhadap konten short form di media sosial.

Menurutnya, kebiasaan mengonsumsi video berdurasi sangat singkat secara terus-menerus dapat membuat seseorang terbiasa mencari rangsangan baru dan kesenangan secara cepat. Kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap perilaku adiktif dalam penggunaan media sosial.

“Makanya orang gampang kecanduan sosial media karena mereka sudah habis dopaminnya. Terus mereka akan selalu cari, selalu cari, selalu cari tapi enggak akan dapat kesenangan yang sama. Ya, akhirnya akan terus merasa haus, akan terus merasa ingin terus. Itu sebabnya kenapa sosial media bisa bikin orang jadi adiksi,” ujar dr. Ryan.

Ia menjelaskan, kemampuan otak untuk beradaptasi atau neuroplastisitas juga membuat pola konsumsi konten dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mempertahankan fokus. Jika seseorang terbiasa mengonsumsi konten berdurasi sangat singkat, otak dapat terbiasa dengan pergantian informasi yang cepat sehingga aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lebih lama terasa lebih sulit.

Sebaliknya, konsumsi konten long form, seperti podcast atau materi pembelajaran yang membutuhkan perhatian lebih lama, dapat menjadi salah satu cara melatih kemampuan konsentrasi. Melalui kebiasaan mencatat, membatasi konsumsi konten pendek, memperbanyak aktivitas yang membutuhkan fokus serta menerapkan mindfulness, kemampuan konsentrasi dapat dilatih secara bertahap dalam kehidupan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....