Pulang Tepat Waktu Belum Tentu Work-Life Balance, Ini Alasannya!
- 27 Jul 2026 14:53 WIB
- Toli Toli
RRI.CO.ID, Tolitoli - Banyak orang menganggap work-life balance hanya sebatas pulang kerja tepat waktu atau memiliki waktu libur di akhir pekan. Padahal, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi memiliki makna yang lebih luas, yakni bagaimana seseorang mampu menjaga kesehatan fisik, mental, dan hubungan sosial tanpa mengabaikan tanggung jawab pekerjaan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut lingkungan kerja yang sehat berperan penting dalam menjaga kesehatan mental pekerja. Sebaliknya, beban kerja berlebihan, jam kerja yang panjang, minimnya kontrol terhadap pekerjaan, hingga ketidakjelasan peran dapat meningkatkan risiko stres dan gangguan kesehatan mental.
WHO memperkirakan sekitar 15 persen orang usia produktif hidup dengan gangguan mental. Secara global, depresi dan kecemasan menyebabkan sekitar 12 miliar hari kerja hilang setiap tahun, dengan kerugian ekonomi mencapai sekitar US$1 triliun akibat menurunnya produktivitas.
Karena itu, menjaga work-life balance tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga membutuhkan dukungan dari lingkungan kerja.
Menjaga Batas antara Pekerjaan dan Kehidupan Pribadi
Psikolog menilai salah satu tantangan pekerja saat ini adalah semakin kaburnya batas antara jam kerja dan waktu pribadi, terutama sejak berkembangnya sistem kerja hybrid dan penggunaan teknologi komunikasi yang memungkinkan karyawan tetap terhubung di luar jam kerja.
Akibatnya, tidak sedikit pekerja yang masih membalas pesan pekerjaan pada malam hari atau saat akhir pekan. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi waktu istirahat dan meningkatkan risiko kelelahan (burnout).
Karena itu, menetapkan batas waktu bekerja menjadi salah satu langkah penting. Misalnya, menghindari membuka email kantor setelah jam kerja jika tidak bersifat mendesak, serta memanfaatkan waktu istirahat untuk benar-benar melepaskan diri dari urusan pekerjaan.
Kualitas Waktu Lebih Penting daripada Durasi
Work-life balance juga tidak selalu berarti membagi waktu secara sama rata antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Yang lebih penting adalah kualitas waktu yang dimiliki.
Menghabiskan waktu bersama keluarga, berolahraga, menjalankan hobi, atau sekadar beristirahat tanpa memikirkan pekerjaan dapat membantu tubuh dan pikiran kembali pulih sebelum menghadapi aktivitas berikutnya.
WHO menilai aktivitas fisik, rekreasi, serta lingkungan kerja yang mendukung merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan mental pekerja. Organisasi tersebut juga mendorong perusahaan untuk menciptakan budaya kerja yang sehat, termasuk memberikan fleksibilitas kerja dan dukungan bagi kesehatan mental karyawan.
Kenali Tanda Keseimbangan Mulai Terganggu
Seseorang perlu mulai mengevaluasi keseimbangan hidupnya apabila mulai mengalami kelelahan berkepanjangan, sulit berkonsentrasi, mudah marah, kehilangan motivasi bekerja, hingga sulit menikmati waktu bersama keluarga atau teman.
Apabila kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, bukan hanya produktivitas yang menurun, tetapi juga berisiko memengaruhi kesehatan secara keseluruhan.
Karena itu, pekerja dianjurkan untuk tidak ragu mengambil cuti ketika diperlukan, menjaga waktu tidur, tetap berolahraga, serta berdiskusi dengan atasan apabila beban kerja dirasa tidak lagi seimbang.
Produktif Tidak Harus Mengorbankan Kesehatan
Pada akhirnya, work-life balance bukan sekadar soal pulang kantor tepat waktu. Keseimbangan ini tercermin dari kemampuan seseorang mengelola pekerjaan tanpa mengorbankan kesehatan fisik, kesehatan mental, maupun kehidupan sosial.
Dengan menjaga batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, memenuhi waktu istirahat, serta menerapkan gaya hidup sehat, produktivitas dapat tetap terjaga tanpa harus mengabaikan kualitas hidup.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....