Kebiasaan Berbohong Berdampak pada Kesehatan Mental dan Fisik

  • 25 Jul 2026 09:31 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, Tolitoli – Kebiasaan berbohong yang kerap dianggap sebagai hal sepele ternyata dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan mental maupun fisik apabila dilakukan secara terus-menerus. Selain mempengaruhi hubungan sosial, perilaku tersebut juga berisiko meningkatkan stres hingga memicu gangguan psikologis.

Berdasarkan kajian yang dikutip dari National Library of Medicine melalui penelitian berjudul Fenomenologi Kebohongan pada Orang Dewasa Muda dan Hubungannya dengan Kepribadian dan Kognisi, laporan yang dimuat National Geographic mengungkapkan bahwa sekitar 59 persen orang berusia 18 hingga 44 tahun mengaku berbohong antara satu hingga lima kali setiap hari. Sementara itu, sekitar 15 persen responden mengaku berbohong lebih dari lima kali dalam sehari.

Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa kebiasaan berbohong berkaitan dengan menurunnya kualitas kesehatan seseorang. Perilaku tersebut dapat memicu stres kronis, meningkatkan tekanan darah, hingga menurunkan rasa percaya diri. Beban psikologis yang muncul saat seseorang mempertahankan kebohongan juga dinilai memberi tekanan terhadap kondisi fisik.

"Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perilaku suka berbohong berkaitan dengan menurunnya kualitas kesehatan. Kebiasaan tersebut dapat memicu stres kronis, meningkatkan tekanan darah, serta menurunkan rasa percaya diri," demikian hasil kajian yang dikutip dari berbagai jurnal psikologi dan kesehatan.

Temuan lain yang dipublikasikan dalam British Journal of Social Psychology menyebutkan bahwa kebiasaan berbohong erat kaitannya dengan munculnya rasa tidak nyaman, menurunnya harga diri, serta berkurangnya kepercayaan diri. Dalam kondisi tertentu, apabila dilakukan secara berulang tanpa alasan yang jelas, perilaku tersebut bahkan dapat berkembang menjadi gangguan psikologis yang dikenal sebagai mythomania atau kebohongan patologis.

"Apabila dilakukan secara terus-menerus tanpa alasan yang jelas, perilaku tersebut bahkan dapat berkembang menjadi kondisi psikologis tertentu yang dikenal sebagai kebohongan patologis atau mythomania," demikian isi publikasi dalam British Journal of Social Psychology.

Selain berdampak secara psikologis, rasa takut kebohongan terbongkar juga dapat memengaruhi kondisi fisik. Beban pikiran yang terus menerus dapat meningkatkan detak jantung dan tekanan darah. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memicu depresi, gangguan kecemasan, serta mengganggu berbagai fungsi tubuh lainnya.

Karena itu, membangun kebiasaan berkata jujur menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga kesehatan mental sekaligus memperkuat hubungan sosial. Kejujuran dapat menciptakan rasa saling percaya, mengurangi beban psikologis, serta membantu seseorang menjalani kehidupan yang lebih tenang, sehat, dan berkualitas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....