Patah Hati Berdampak Pada Kesehatan Mental dan Fisik

  • 07 Apr 2026 15:00 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, Tolitoli – Patah hati merupakan proses emosional yang wajar dialami seseorang, namun perlu penanganan yang baik agar tidak berdampak serius terhadap kesehatan fisik maupun mental.

Isu kesehatan mental saat ini menjadi perhatian global, khususnya di kalangan generasi muda. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan sekitar satu dari lima orang berusia 15 hingga 29 tahun mengalami gangguan mental, dengan depresi dan kecemasan sebagai masalah utama. Kondisi ini juga kerap disertai gangguan tidur seperti insomnia yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Patah hati atau yang dikenal sebagai broken heart syndrome menjadi salah satu pemicu gangguan tersebut. Kondisi ini dapat menyebabkan stres emosional yang ekstrem, ditandai dengan rasa sedih mendalam, kemarahan, perubahan perilaku, hingga gangguan tidur.

Berdasarkan Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna tahun 2025, patah hati dapat memengaruhi kesehatan mental dan berdampak pada kualitas tidur seseorang. Penurunan hormon melatonin menjadi salah satu penyebab terganggunya siklus tidur, sehingga penderita mengalami kesulitan tidur dan penurunan kualitas istirahat.

Dari sisi fisik, patah hati juga dapat memicu reaksi pada jantung. Stres yang berlebihan dapat melemahkan otot jantung secara sementara dan menimbulkan nyeri dada yang kerap disalahartikan sebagai serangan jantung. Selain itu, memendam emosi dapat meningkatkan detak jantung dan tekanan darah, yang dalam jangka panjang berisiko terhadap penyakit serius seperti stroke dan gagal jantung.

Secara psikologis, individu yang mengalami patah hati cenderung merasakan kesedihan mendalam, kecemasan, hingga penurunan rasa percaya diri. Jika tidak dikelola dengan baik, emosi negatif tersebut dapat berkembang menjadi luka batin yang memengaruhi perilaku, seperti rasa curiga berlebihan dan ketakutan.

Meski demikian, patah hati bukan kondisi yang permanen. Penelitian menunjukkan rata-rata seseorang membutuhkan waktu sekitar 11 minggu untuk mulai pulih setelah putus cinta, sementara pada kasus perceraian, pemulihan bisa berlangsung hingga 18 bulan.

Dengan demikian, penting bagi individu untuk mengelola emosi secara sehat saat mengalami patah hati, agar tidak berdampak lebih luas terhadap kesehatan. Dukungan lingkungan, menjaga pola hidup sehat, serta kemampuan regulasi emosi menjadi kunci utama dalam proses pemulihan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....