Kebiasaan Tidak Sarapan Dapat Memicu Gangguan Mental Fisik
- 27 Nov 2025 15:36 WIB
- Toli Toli
KBRN, Tolitoli: Kesibukan aktivitas harian sering kali membuat seseorang mengabaikan pentingnya sarapan sebelum memulai rutinitas. Padahal, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa 26,1 persen anak usia sekolah di Indonesia tercatat tidak sarapan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena kebiasaan melewatkan sarapan dapat membawa dampak kesehatan jangka panjang.
Sejumlah penelitian, termasuk publikasi internasional Nutrition to Advance Food and Life Science Research, mengungkapkan bahwa kebiasaan tidak sarapan berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan kejiwaan, seperti depresi dan kecemasan. Hal ini diduga dipengaruhi oleh ketidakseimbangan hormon stres kortisol serta gangguan pada jalur serotonin dan dopamin yang berperan dalam regulasi suasana hati.
Selain itu, melewatkan sarapan juga dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan lain, seperti gangguan metabolik, peningkatan risiko obesitas akibat kecenderungan makan berlebihan pada waktu makan berikutnya, gangguan fungsi kognitif, melemahnya sistem imun, hingga risiko penyakit kardiovaskular.
Untuk mencegah efek buruk tersebut, masyarakat disarankan mengonsumsi sarapan pada rentang waktu pukul 06.00 hingga 09.45 pagi. Beberapa menu sarapan sehat yang dapat menjadi pilihan antara lain telur rebus, roti gandum utuh, oatmeal atau overnight oats, yogurt, buah-buahan, serta ubi rebus atau kukus. Kebiasaan sarapan sehat dan teratur diharapkan mampu meningkatkan energi, menjaga fokus, serta mendukung kesehatan metabolik dan mental dalam jangka panjang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....