Indonesia Darurat Campak, Kasus Tertinggi Kedua Dunia
- 17 Apr 2026 10:03 WIB
- Toli Toli
RRI.CO.ID, Tolitoli - Indonesia tengah menghadapi ancaman serius terhadap kesehatan anak akibat lonjakan kasus campak. Data terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia yang dirilis Centers for Disease Control and Prevention per Februari 2026 menempatkan Indonesia sebagai negara dengan kasus campak tertinggi kedua di dunia, setelah Yaman dan di atas India.
Ikatan Dokter Anak Indonesia mencatat, sepanjang 2025 terdapat 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 kasus terkonfirmasi dan 69 kematian. Sementara itu, hingga minggu ketujuh 2026, tercatat 8.224 kasus suspek, 572 terkonfirmasi, serta 4 kematian.
Ketua Umum IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan kondisi ini sudah mengarah pada kejadian luar biasa dan membutuhkan respons cepat dari semua pihak.
“Kita harus bertindak cepat untuk melindungi anak-anak Indonesia. Imunisasi adalah hak dasar anak dan kewajiban kita untuk memastikan setiap anak terlindungi,” ujarnya.
Lonjakan kasus ini tidak lepas dari dampak pandemi COVID-19 yang mengganggu layanan kesehatan, termasuk imunisasi rutin. Ketua Satgas Imunisasi IDAI, Hartono Gunardi, menjelaskan bahwa banyak anak yang melewatkan jadwal imunisasi, sehingga menciptakan kantong kerentanan di berbagai wilayah.
Hingga 2024, cakupan imunisasi campak-rubella dosis kedua masih 82,3 persen, jauh dari target 95 persen untuk mencapai Herd immunity.
“Imunisasi campak rubella aman dan efektif. Isu terkait keamanan vaksin tidak memiliki dasar ilmiah,” tegasnya.
Untuk menekan penyebaran, IDAI merekomendasikan enam langkah strategis, mulai dari percepatan imunisasi anak usia 9 bulan hingga kurang dari 15 tahun, penguatan sistem surveilans, peningkatan kapasitas laboratorium, hingga edukasi masif kepada masyarakat.
Selain itu, penanganan pasien difokuskan pada perawatan suportif karena belum tersedia antivirus spesifik. Pemberian vitamin A terbukti dapat menurunkan angka kematian hingga 50 persen. Pengendalian infeksi di rumah sakit juga menjadi perhatian penting, mengingat pasien dapat menularkan virus sejak empat hari sebelum hingga empat hari setelah ruam muncul.
Ketua UKK Infeksi dan Penyakit Tropis IDAI, Edi Hartoyo, turut mengingatkan pentingnya isolasi mandiri bagi pasien guna mencegah penularan lebih luas.
Sebagai penutup, dr. Piprim menegaskan bahwa kematian akibat campak merupakan tragedi yang sebenarnya bisa dicegah melalui imunisasi dan kesadaran bersama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....