Parigi Moutong Hadapi Kekeringan dan Banjir Bersamaan
- 31 Agt 2026 16:42 WIB
- Toli Toli
RRI.CO.ID, Parigi Moutong - Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, tengah menghadapi fenomena cuaca ekstrem yang kontras. Wilayah utara dilanda kekeringan dan ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), sementara wilayah selatan dan tengah justru menghadapi hujan deras yang memicu banjir bandang.
Kondisi tersebut disampaikan Bupati Parigi Moutong, H. Erwin Burase, saat menghadiri Rapat Koordinasi Penanganan Karhutla dan Kekeringan yang dipimpin Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. Anwar Hafid, M.Si., di Ruang Rapat Polibu Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, Senin (31/8/2026).
Di wilayah utara, Pemkab Parigi Moutong telah menetapkan status siaga Karhutla di lima kecamatan, mulai dari Mepanga hingga Moutong. Kekeringan tidak hanya mengancam kawasan hutan dan permukiman, tetapi juga mulai berdampak terhadap sektor pertanian akibat menyusutnya debit air sungai.
Kondisi paling serius terjadi di Kecamatan Mepanga, di mana sekitar 3.200 hektare tanaman padi masyarakat mulai mengering akibat terbatasnya pasokan air. Pemerintah daerah menyiapkan opsi pembangunan sumur bor untuk membantu memenuhi kebutuhan air bagi lahan pertanian apabila kekeringan berlangsung lebih lama.
"Masyarakat sudah merasa resah dan melapor langsung ke kantor bupati. Jalan keluar yang harus segera kita siapkan adalah pembuatan sumur bor untuk mengairi sawah warga jika kondisi ini berlangsung lama," ujar Erwin Burase.
Sementara itu, kondisi berbeda terjadi di wilayah Parigi hingga Kasimbar yang diguyur hujan deras hampir setiap hari. Kecamatan Kasimbar tercatat mengalami banjir bandang dua kali pada 16 dan 26 Agustus 2026. Material longsor bahkan sempat menutup total Jalan Trans Sulawesi di Desa Paningka sebelum akses lalu lintas kembali dibuka menggunakan jembatan darurat atau Bailey.
Banjir juga menyebabkan 73 kepala keluarga di Desa Avolua mengungsi karena rumah mereka diterjang banjir, dengan puluhan rumah dilaporkan mengalami kerusakan berat. Di Desa Toboli Barat, sekitar 350 KK terdampak krisis air bersih setelah tanggul penampung dan instalasi pipa SPAM rusak diterjang banjir bandang.
Menghadapi ancaman Karhutla di wilayah perbukitan dan hutan yang sulit dijangkau kendaraan pemadam, Erwin mengusulkan penguatan metode pemadaman manual. Menurutnya, pengalaman bersama sekitar 100 prajurit TNI, personel kepolisian, dan 1.000 warga menunjukkan penggunaan tangki semprot manual, alkon, serta kolam penampung air plastik efektif mengisolasi pergerakan api. "Mobil pemadam kita siapkan untuk memproteksi perumahan warga. Namun jika api sudah naik ke gunung dan masuk hutan, pergerakan pasukan manual dengan tangki semprot dan kantong penampung air adalah kunci tercepat sebelum ada bantuan helikopter," jelasnya.
Pemkab Parigi Moutong juga terus memperkuat upaya pencegahan dengan memasifkan himbauan kepada masyarakat hingga tingkat desa, termasuk melalui kegiatan pesta pernikahan dan rumah ibadah. Warga diingatkan tidak membakar sampah atau ranting sembarangan serta tidak membuang puntung rokok yang berpotensi memicu kebakaran. Hingga 28 Agustus 2026, tercatat 87 kejadian Karhutla dan 15 kejadian kekeringan di Sulawesi Tengah. Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. Anwar Hafid, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mencegah meluasnya dampak bencana. "Kasus kebakaran hutan dan lahan ini terjadi selain karena kelalaian juga dipengaruhi cuaca yang sangat panas. Harapannya melalui koordinasi ini kita bisa mencegah meluasnya dampak kerugian," tegasnya. Dukungan penanganan juga diberikan Pangdam XXIII/Palaka Wira, Mayjen TNI Jonathan Binsar P Sianipar, melalui pengerahan personel dan sarana pendukung di sejumlah titik rawan.Penulis: GARMAWAN/Sumber: Diskominfo Parigi Moutong
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....