Ancaman Child Grooming, Keluarga Jadi Benteng Utama

  • 21 Jan 2026 09:17 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, Tolitoli – Fenomena child grooming atau upaya manipulasi orang dewasa terhadap anak-anak kini menjadi ancaman nyata di ruang siber. Menyikapi kondisi tersebut, Pranata Humas Muda Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Sulawesi Tengah, Dr. Intje Yusuf, menekankan pentingnya membangun “firewall” atau benteng pertahanan sejak dari lingkup terkecil, yakni keluarga.

Hal itu disampaikan Yusuf dalam dialog bersama RRI, Selasa, 20 Januari 2026. Menurutnya, komunikasi publik memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Ia menegaskan bahwa negara telah hadir melalui landasan normatif, salah satunya Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas).

“Kita tidak bisa berjalan sendiri. Diskominfo perlu berkolaborasi dengan DP3A serta komunitas seperti Forum Genre untuk menyusun narasi komunikasi yang bersifat pedagogis. Tujuannya agar orang tua tidak hanya menjadi pengawas, tetapi juga mitra komunikasi bagi anak-anaknya,” ujar Yusuf.

Yusuf juga mengungkapkan, berdasarkan data, hampir 97 persen anak saat ini telah menggunakan gawai secara intensif. Karena itu, edukasi literasi digital dinilai jauh lebih efektif dibandingkan sekadar membatasi penggunaan teknologi tanpa dibarengi pemahaman yang memadai.

Pernyataan tersebut mendapat respons serius dari masyarakat. Rusli, salah satu warga yang bergabung dalam dialog melalui sambungan telepon, menyampaikan kegelisahannya terkait lemahnya pengawasan terhadap konten digital.

“Jangan hanya memberikan teknologi tanpa pengawasan. Jika ada admin atau konten yang merusak moral anak, harus segera diblokir. Masyarakat sering bingung siapa yang harus disalahkan ketika moral anak sudah rusak akibat penggunaan ponsel,” tegasnya.

Sementara itu, perwakilan DP3A Kabupaten Tolitoli, Erni Jafar, mengamini pentingnya kerja sama lintas sektor sebagaimana disampaikan Diskominfo. Ia mengungkapkan bahwa kasus kekerasan terhadap anak di Tolitoli cenderung mengalami peningkatan, dengan pelaku yang kerap berasal dari lingkungan terdekat korban.

“Kami sepakat, penanganan persoalan anak tidak bisa dilakukan secara single fighter. Orang tua adalah pintu masuk utama. Ketika anak berani bercerita atau speak up, jangan langsung disalahkan. Dengarkan terlebih dahulu agar pelaku tidak memanfaatkan celah dari ketidakharmonisan keluarga,” pungkas Erni.

Dialog tersebut ditutup dengan seruan bersama, “Stop Hoaks, Stop Kekerasan pada Anak, dan Tingkatkan Literasi Digital.” Masyarakat diimbau tidak ragu melaporkan setiap indikasi kekerasan seksual maupun manipulasi terhadap anak kepada pihak berwenang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....