Indonesia Pilih Jalan tengah di Perebutan Teknologi Global

  • 07 Mei 2026 18:21 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, Tolitoli - Pemerintah Indonesia menegaskan sikapnya dalam menghadapi dinamika persaingan teknologi global, khususnya pada sektor kecerdasan artifisial (AI). Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyampaikan bahwa Indonesia memilih pendekatan kolaboratif dalam membangun ekosistem teknologi nasional.

Dalam pernyataannya pada IDN Times Leadership Forum di Jakarta Selatan, Rabu, 6 Mei 2026, Nezar menekankan pentingnya keterbukaan dan kerja sama lintas sektor. “Ini saatnya Indonesia menunjukkan kepemimpinan teknologi. Atas nama pemerintah, kami selalu membuka kolaborasi,” ujarnya.

Menurut Nezar, pembangunan industri AI tidak dapat hanya bergantung pada peran pemerintah semata. Ia menilai keterlibatan industri, akademisi, dan pemangku kepentingan lain menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem yang inklusif dan berdaya saing.

Ia juga menyoroti kecenderungan global di mana sejumlah negara memperkuat kontrol terhadap teknologi. Namun, Indonesia disebut tidak mengambil jalur tersebut karena dinilai berisiko membatasi inovasi. “Itu bukan jalan yang akan dipilih Indonesia karena berpotensi mengarah pada fasisme teknologi,” kata Nezar.

Di tengah persaingan geopolitik global, sektor semikonduktor disebut menjadi medan utama perebutan pengaruh antar negara. Menurutnya, posisi ini menggantikan era sebelumnya yang didominasi oleh sumber daya energi fosil.

“Pada abad lalu, kita berbicara tentang minyak sebagai sumber kekuatan utama. Kini, semikonduktor menjadi kekuatan utama di abad ke-21,” jelas Nezar, menggambarkan perubahan lanskap kekuatan global.

Meski demikian, ia mengakui bahwa Indonesia masih memiliki tantangan besar untuk masuk dalam rantai pasok global industri AI dan semikonduktor. Saat ini, keterlibatan Indonesia dalam proses produksi teknologi tersebut masih terbatas.

Nezar menilai Indonesia memiliki potensi strategis melalui sumber daya alam, khususnya mineral kritis seperti nikel, kobalt, dan emas yang dapat mendukung industri semikonduktor. “Tantangannya adalah bagaimana mengolah mineral tersebut agar siap menjadi bagian dari komponen industri,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga memperkuat pengembangan sumber daya manusia melalui program AI Talent Factory yang melibatkan perguruan tinggi dan pusat riset. Program ini ditujukan untuk mencetak talenta digital yang siap bersaing di tingkat global.

Dengan menggabungkan kekuatan sumber daya alam dan pengembangan talenta digital, Indonesia menegaskan posisinya sebagai negara kekuatan menengah yang memilih jalan tengah dalam kompetisi teknologi global, tanpa bergantung pada dominasi satu pihak namun tetap menjaga kepentingan nasional.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....