Pembuatan Eco Enzyme Dorong Pengolahan Limbah Rumah Tangga
- 26 Nov 2025 14:45 WIB
- Toli Toli
KBRN, Tolitoli : Tren pertanian rumah atau home gardening semakin diminati, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan halaman rumah, meskipun berukuran kecil, sebagai area bercocok tanam. Berbagai metode pun diterapkan, mulai dari kebun hidroponik hingga penggunaan pupuk ramah lingkungan.
Salah satu pupuk organik yang kini banyak digunakan adalah eco enzyme, yakni pupuk cair hasil fermentasi sampah organik segar. Mengacu pada jurnal Maitreyawira berjudul “Produksi Eco Enzyme dengan Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga untuk Menjaga Kesehatan Masyarakat di Era New Normal”, eco enzyme diketahui memiliki sejumlah manfaat. Selain dapat menyuburkan tanah dan tanaman, cairan ini juga dapat menghilangkan hama, digunakan sebagai cairan pembersih serbaguna, serta berkontribusi dalam pelestarian lingkungan sekitar.
Pada pelatihan yang diselenggarakan Bumi Kita Nusantara di RRI Tolitoli (23/8/2025) dijelaskan bahwa proses pembuatan eco enzyme cukup sederhana. Bahan yang dibutuhkan antara lain wadah plastik bertutup, sampah kulit buah segar yang telah dicuci, gula merah atau gula aren sebagai molase, tiga botol Yakult, dan sepuluh liter air. Seluruh bahan dicampur dengan perbandingan 1:3:10, kemudian ditutup rapat dan diberi lubang kecil untuk mengeluarkan gas selama fermentasi.
Wadah fermentasi perlu disimpan di tempat sejuk dengan ventilasi baik, serta tidak terkena sinar matahari langsung. Setelah tiga bulan, eco enzyme umumnya berwarna kecokelatan dan memiliki tingkat keasaman tinggi, sehingga perlu diencerkan terlebih dahulu sebelum digunakan.
Meski dapat disimpan dalam waktu lama, keberhasilan pembuatan eco enzyme sangat bergantung pada ketepatan komposisi serta proses pembuatannya. Ketidaksesuaian bahan atau metode dapat menyebabkan fermentasi gagal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....