Tradisi Sisiru Suku Lauje Hidupkan Pasar Desa Anggasan
- 15 Agt 2025 18:29 WIB
- Toli Toli
KBRN, Tolitoli: Kamis pagi di Desa Anggasan, Kecamatan Dondo, bukan sekadar hari pasar. Bagi Suku Lauje pegunungan, momen ini menjadi detak nadi ekonomi sekaligus jembatan antara kehidupan tradisional di lereng terjal dan denyut perdagangan di kaki bukit.
Masyarakat yang menyebut diri sebagai Tau Lauje ini masih mempertahankan tradisi pembuatan sisiru atau patapi, alat anyaman rotan dan bambu yang menjadi simbol ketekunan serta keterikatan dengan alam.
Kepala Desa Anggasan, Ruslan M. Hadi, menuturkan bahwa sisiru merupakan warisan budaya yang tetap lestari di tengah arus modernisasi. “Sisiru ini bukan sekadar alat, tapi simbol kesabaran dan ketekunan mereka,” ungkapnya.
Proses pembuatan sisiru memakan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu, dengan bahan rotan dan bambu pilihan. Para pria mencari bahan di hutan, sementara perempuan menganyam di rumah-rumah panggung sederhana di lereng bukit.
Setiap Kamis subuh, rombongan kecil Suku Lauje berjalan menuruni jalur licin hutan, menyeberangi sungai, hingga sampai di pasar Anggasan. Di sana, mereka menjual sisiru sambil berbaur dengan hiruk pikuk pedagang ikan, sayur, dan jajanan tradisional.
Hasil penjualan sisiru digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup, mulai dari beras, minyak, hingga perlengkapan sekolah. Meski bersaing dengan produk pabrik, anyaman tangan Lauje tetap diminati karena kekuatan dan keasliannya.
Generasi muda pun mulai dilibatkan dalam proses pembuatan maupun pengangkutan, agar keterampilan ini tidak punah. Setiap anyaman memiliki pola khas, bahkan menjadi tanda identitas pembuatnya.
Di penghujung pasar, mereka kembali mendaki bukit dengan wajah puas. Sisiru bukan hanya sumber penghidupan, tapi juga cerita budaya yang diwariskan lintas generasi.
“Kalau cerita ini hilang, hilanglah satu bab penting dari sejarah kita,” ujar Ruslan menutup pembicaraan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....