Sejarah Penaklukan Gunung Everest hingga Era Modern
- 29 Mei 2025 18:08 WIB
- Toli Toli
KBRN, Tolitoli: Tepat hari ini 29 Mei, dilansir dari National Today, dunia menyaksikan sejarah besar dalam dunia pendakian gunung. Pada tanggal 29 Mei 1953, Sir Edmund Hillary dari Selandia Baru dan Tenzing Norgay, seorang pemandu Sherpa asal Nepal, menjadi manusia pertama yang berhasil mencapai puncak Gunung Everest, titik tertinggi di dunia dengan ketinggian 8.848,86 meter di atas permukaan laut.
Keberhasilan tersebut tidak hanya mencetak sejarah dalam dunia eksplorasi, tetapi juga menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia untuk mengejar mimpi, meski setinggi langit. Everest sejak saat itu menjadi simbol kekuatan, keberanian, dan ketekunan manusia.
Keberhasilan Hillary dan Tenzing adalah tonggak bersejarah yang menandai dimulainya era baru dalam pendakian gunung.
Sebelum penaklukan tahun 1953, Everest telah menjadi target ekspedisi sejak awal abad ke-20, khususnya oleh tim dari Inggris. Salah satu kisah paling legendaris adalah ekspedisi tahun 1924 oleh George Mallory dan Andrew Irvine, yang hilang misterius saat mencoba mencapai puncak. Masih menjadi perdebatan apakah mereka sebenarnya berhasil sebelum tewas.
Namun, ekspedisi sukses baru terjadi hampir tiga dekade kemudian, melalui jalur tenggara dari sisi Nepal. Berita keberhasilan Hillary dan Tenzing diumumkan secara global hanya beberapa jam sebelum penobatan Ratu Elizabeth II, menjadikan momen itu simbol kejayaan Inggris dan Commonwealth.
Memasuki abad ke-21, Gunung Everest mengalami pergeseran besar. Pendakian kini bukan lagi milik ekspedisi elite, melainkan telah menjadi industri wisata ekstrem. Ratusan orang mengantri izin pendakian setiap tahun, dengan bantuan pemandu, oksigen tambahan, dan teknologi modern.
Namun, kemudahan ini juga membawa tantangan baru:
* Kepadatan jalur menuju puncak, terutama di musim semi
* Lonjakan pendaki tanpa pengalaman memadai
* Masalah sampah dan limbah manusia di area basecamp dan sepanjang rute
* Risiko kematian meningkat karena antrean panjang di “zona kematian” di atas 8.000 meter
Pada tahun 2019, foto antrean panjang di dekat puncak Everest menjadi viral dan memicu kritik terhadap pemerintah Nepal karena terlalu banyak mengeluarkan izin pendakian.
Kini, banyak rekor telah tercipta. Kami Rita Sherpa, seorang pendaki asal Nepal, memegang rekor pendakian terbanyak dengan lebih dari 28 kali mencapai puncak. Pendaki termuda dan tertua pun terus bertambah, mencerminkan popularitas Everest sebagai tujuan prestisius global.
Namun, para ahli memperingatkan bahwa Gunung Everest bukan sekadar objek wisata, melainkan ekosistem sensitif yang sedang terancam akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia. Gletser mencair, jalur bergeser, dan keselamatan pendaki semakin dipertaruhkan.
Everest adalah simbol pencapaian manusia, tapi kita juga harus menjaga dan menghormatinya.
Dari keberanian Hillary dan Tenzing pada 1953 hingga tren komersialisasi pendakian hari ini, Gunung Everest mencerminkan perjalanan ambisi manusia yang luar biasa. Namun di balik itu, tersimpan tanggung jawab besar untuk menjaga alam, menghargai budaya lokal, dan memastikan bahwa impian mendaki atap dunia tidak menjadi bumerang bagi generasi mendatang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....