Mengenal Tradisi Hungry Ghost Festival di Singapura
- 15 Agt 2026 09:30 WIB
- Toli Toli
RRI.CO.ID, Tolitoli — National Heritage Board Singapura mencatat Zhong Yuan Jie atau Hungry Ghost Festival sebagai salah satu tradisi budaya masyarakat Tionghoa yang masih berlangsung hingga kini. Tradisi ini digelar setiap tahun pada bulan ketujuh kalender lunar dan memiliki keterkaitan dengan kepercayaan Taoisme serta Buddhisme.
Dalam kepercayaan yang berkembang di masyarakat, bulan ketujuh dipercaya sebagai periode ketika pintu alam baka dibuka sehingga roh-roh dapat kembali dan berkeliaran di dunia manusia. Karena itu, periode tersebut kerap disebut sebagai “Bulan Hantu” atau Hungry Ghost Month.
Namun, tradisi ini tidak semata-mata berkaitan dengan hal-hal yang menakutkan. Bagi sebagian masyarakat Tionghoa, bulan hantu menjadi momentum untuk mengenang dan menghormati leluhur yang telah meninggal dunia. Tradisi tersebut juga menjadi bentuk penghormatan kepada keluarga serta doa bagi keselamatan para leluhur.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat menyiapkan berbagai bentuk persembahan, mulai dari makanan, dupa hingga uang kertas. Bahkan, sejumlah masyarakat membakar replika benda seperti rumah, kendaraan dan telepon seluler yang secara tradisional dipercaya sebagai persembahan bagi roh.
National Heritage Board Singapura menyebut praktik tersebut sebagai bagian dari warisan budaya takbenda Zhong Yuan Jie. Persembahan dapat dilakukan di rumah, kuil maupun lokasi tertentu di lingkungan permukiman sesuai dengan kebiasaan masing-masing komunitas.
Salah satu tradisi yang paling mudah dikenali selama bulan hantu adalah pertunjukan getai. Pertunjukan ini menghadirkan penyanyi dan berbagai hiburan, yang dalam kepercayaan tradisional juga ditujukan untuk menghibur roh-roh yang dipercaya hadir selama bulan ketujuh.
Keunikan getai terlihat dari adanya kursi kosong di barisan paling depan pada sejumlah pertunjukan. Kursi tersebut secara tradisional dipercaya disediakan bagi “penonton” dari dunia roh. Seiring perkembangan zaman, getai mengalami perubahan dari pertunjukan opera dan seni tradisional menjadi panggung musik modern.
Selain ritual dan hiburan, bulan hantu juga memiliki sejumlah pantangan yang diwariskan secara turun-temurun. Sebagian masyarakat menghindari menyentuh makanan persembahan di pinggir jalan, menginjak kertas dupa atau melakukan tindakan yang diyakini dapat mengganggu roh.
Beberapa kepercayaan lainnya bahkan menganjurkan masyarakat menghindari aktivitas tertentu, termasuk berenang, serta berhati-hati dalam mengucapkan perkataan yang dianggap dapat membawa kesialan. Meski demikian, berbagai pantangan tersebut merupakan bagian dari kepercayaan budaya dan tidak secara otomatis dianut oleh seluruh masyarakat Singapura.
Menariknya, Zhong Yuan Jie juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Berbagai kegiatan yang digelar di lingkungan permukiman dapat menjadi ruang berkumpul bagi masyarakat melalui jamuan makan, pertunjukan, lelang, opera Tionghoa hingga kegiatan penggalangan dana.
Singapore Chinese Cultural Centre dan Kementerian Kebudayaan, Komunitas dan Pemuda Singapura atau MCCY mencatat, kegiatan tersebut dapat diselenggarakan oleh perkumpulan klan maupun organisasi kuil. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi bulan hantu tidak hanya berkaitan dengan kepercayaan spiritual, tetapi juga memperkuat hubungan sosial dalam komunitas.
Dengan demikian, Hungry Ghost Festival di Singapura memperlihatkan perpaduan antara kepercayaan keagamaan, penghormatan terhadap leluhur dan kehidupan sosial masyarakat modern. Meski tingkat kepercayaan setiap individu berbeda, praktik seperti persembahan, pembakaran dupa dan kertas serta pertunjukan getai masih menjadi bagian dari lanskap budaya Singapura.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....