Rebana Jadi Perekat Budaya dan Syiar Islam di Desa Tinigi

  • 30 Jul 2026 21:06 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, Tolitoli – Penampilan grup rebana dalam pesta pernikahan adat dan Islam masih menjadi tradisi yang terus dijaga oleh masyarakat Desa Tinigi, Kecamatan Galang, Kabupaten Tolitoli. Selain berfungsi sebagai hiburan, rebana juga memiliki makna spiritual, sosial, dan budaya yang memperkuat nilai-nilai keislaman sekaligus melestarikan kearifan lokal di tengah masyarakat.

Di kawasan pedesaan, grup rebana tidak hanya tampil menghibur dalam resepsi pernikahan, tetapi juga aktif mengisi berbagai kegiatan keagamaan seperti peringatan hari besar Islam, pengajian, dan majelis taklim. Kehadiran mereka menjadi bagian penting dalam menjaga tradisi sekaligus mempererat hubungan antar masyarakat.

Dalam prosesi pernikahan, rebana biasanya dimainkan saat penyambutan tamu maupun mengiringi kedatangan rombongan pengantin pria menuju lokasi akad nikah atau resepsi. Irama tabuhan rebana yang meriah menciptakan suasana hangat, penuh sukacita, dan menjadi penanda dimulainya rangkaian acara.

Selain sebagai penyemarak acara, lagu-lagu yang dibawakan grup rebana juga sarat dengan nilai religius. Syair yang dilantunkan umumnya berisi shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, doa bagi kedua mempelai agar memperoleh kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, serta pesan-pesan moral yang mengajak masyarakat untuk senantiasa bersyukur dan menjaga amanah dalam kehidupan berkeluarga.

Tokoh masyarakat Desa Tinigi, Muliadi, mengatakan keberadaan grup rebana memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kelestarian budaya masyarakat Muslim, khususnya di wilayah pedesaan. Menurutnya, rebana bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga media dakwah yang menyampaikan nilai-nilai agama melalui lantunan shalawat.

"Saya pikir, adanya grup rebana pada saat momen pesta perkawinan di setiap wilayah khususnya di pedesaan itu merupakan hal yang sangat penting, karena selain sebagai penyemarak pada saat mengiringi pengantin, juga sebagai hiburan dalam hal penyampaian pesan-pesan moral yang baik terhadap kehidupan karena selalu menggemakan lantunan sholawat Nabi," ujar Muliadi kepada RRI.co.id, Rabu (29/7/2026).

Ia menjelaskan, grup rebana umumnya beranggotakan masyarakat setempat, mulai dari majelis taklim, pemuda, hingga kelompok seni tradisional. Kondisi tersebut menjadikan rebana sebagai wadah silaturahmi yang mampu memperkuat kebersamaan antar warga sekaligus melibatkan generasi muda dalam melestarikan budaya Islami.

Menurut Muliadi, bagi keluarga yang menginginkan pesta pernikahan bernuansa religius tanpa hiburan musik modern yang berlebihan, rebana menjadi alternatif hiburan yang santun dan tetap mampu menghadirkan suasana meriah. Selain menghibur, pertunjukan rebana juga dinilai selaras dengan norma agama dan budaya yang berkembang di masyarakat.

"Kehadiran grup rebana yang biasanya tampil ini tidak hanya memberikan nuansa religius dan hangat dalam resepsi pernikahan, tetapi juga menjadi bukti nyata bagaimana warga Desa Tinigi terus menjaga dan melestarikan kearifan lokal serta kebudayaan bernuansa Islami di tengah masyarakat," tambahnya.

Keberlangsungan tradisi rebana di Desa Tinigi menjadi cerminan bahwa seni budaya Islam masih mendapat tempat di tengah masyarakat. Melalui lantunan shalawat dan irama tabuhan rebana, nilai-nilai kebersamaan, dakwah, serta pelestarian budaya lokal terus diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas masyarakat Muslim di Kabupaten Tolitoli.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....