Bahasa Dondo Terancam Luntur ditengah Arus Digitalisasi

  • 13 Jun 2026 12:48 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, TOLITOLI – Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat membawa tantangan tersendiri bagi pelestarian budaya lokal, termasuk bagi masyarakat Suku Dondo di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah. Sebagai salah satu suku asli di wilayah tersebut, Suku Dondo memiliki kekayaan adat, bahasa, dan hukum adat yang kini dihadapkan pada perubahan sosial akibat modernisasi dan digitalisasi.

Selama berabad-abad, masyarakat Dondo hidup berdampingan dengan alam, menjunjung tinggi hukum adat, serta menjaga tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, masuknya internet dan penggunaan gawai hingga ke pelosok desa mulai mempengaruhi pola kehidupan sosial dan budaya generasi muda.

Selain bahasa daerah, berbagai kesenian tradisional dan ritual adat juga menghadapi tantangan keberlangsungan. Kehadiran hiburan digital yang mudah diakses melalui berbagai platform media sosial dan video pendek perlahan menggeser minat generasi muda untuk mempelajari budaya leluhur yang sarat nilai gotong royong dan penghormatan terhadap alam.

Ketua Umum Suku Dondo Kabupaten Tolitoli, Ustadz Alimudin, mengatakan tantangan paling nyata saat ini adalah semakin berkurangnya penggunaan bahasa Dondo dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di kalangan generasi muda.

"Wah, kalau anak-anak muda sekarang itu lebih lancar berinteraksi di media sosial menggunakan bahasa tren modern. Jadi kalau tidak ada upaya penyeimbangan, tentunya kita khawatir bahasa Dondo dan sastra lisan seperti penuturan sejarah leluhur akan hilang dalam satu atau dua generasi ke depan," ujar Alimudin kepada RRI.co.id, Jumat (12/6/2026).

Menurutnya, dominasi bahasa Indonesia dan bahasa gaul populer di ruang digital membuat bahasa ibu semakin jarang digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengurangi kemampuan generasi muda dalam memahami nilai-nilai budaya yang terkandung dalam bahasa dan tradisi lisan masyarakat Dondo.

Meski demikian, Alimudin menegaskan bahwa teknologi bukanlah ancaman yang harus dihindari. Sebaliknya, perkembangan teknologi perlu dimanfaatkan secara bijak untuk mendukung upaya pelestarian budaya dan adat istiadat.

"Teknologi bukan musuh yang harus dijauhi, tetapi sebuah realitas yang harus dikendalikan agar tidak merusak tatanan moral serta norma sopan santun yang menjadi identitas masyarakat Dondo," tegasnya.

Ia berharap generasi muda tetap mengenal dan menggunakan bahasa daerah serta aktif mempelajari nilai-nilai budaya lokal agar warisan leluhur Suku Dondo dapat terus terjaga di tengah perkembangan zaman.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....