Boyo Pogut, Warisan Buol Lawan Hoaks dan Fitnah

  • 26 Mei 2026 18:58 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, Buol – Di tengah derasnya arus digital dan maraknya penyebaran informasi palsu di media sosial, masyarakat Suku Buol di Sulawesi Tengah terus berupaya menjaga warisan budaya leluhur melalui pelestarian sastra lisan Boyo Pogut Podoyo Pitanah.

Cerita rakyat yang berkembang di tanah Buol ini bukan sekadar dongeng tradisional, melainkan sarana pendidikan moral yang diwariskan turun-temurun. Secara harfiah, Boyo Pogut berarti “ikan pogot pembawa fitnah” atau pelaku kebohongan, sedangkan Podoyo Pitanah dimaknai sebagai tindakan menghasut, memutarbalikkan fakta, hingga menyebarkan fitnah yang dapat memecah belah masyarakat.

Dalam filosofi budaya Suku Buol, Boyo Pogut digambarkan sebagai simbol manusia yang gemar membesar-besarkan diri demi mencari perhatian, namun pada hakikatnya membawa racun berupa kebohongan dan fitnah.

Ketua Yayasan Educare Buol, Andi Asrawati, mengatakan sastra lisan tersebut menjadi bentuk kritik sosial yang relevan hingga saat ini, terutama di era maraknya hoax digital.

“Jadi sastra lisan ini adalah cermin sosial. Leluhur kami, melalui penelitian Ibu Maryam Mailili, menggunakan analogi ikan buntal untuk menggambarkan betapa bahayanya satu kebohongan atau fitnah jika dibiarkan berkembang di tengah masyarakat dan komunitas,” ujarnya kepada rri.co.id, Senin (25/5/2026).

Menurut Andi, budaya Boyo Pogut merupakan simbol atau hiasan yang disematkan kepada orang-orang yang memiliki sifat buruk, seperti gemar menyebarkan fitnah dan berita bohong. Cerita tersebut diketahui bersumber dari penelitian budayawan sekaligus Maestro Budaya Buol, Maryam Mailili.

Ia menilai pesan moral Boyo Pogut Podoyo Pitanah sangat kontekstual dengan kehidupan modern saat ini. Di era digital, penyebaran hoaks dapat terjadi dalam hitungan detik melalui media sosial dan berdampak luas terhadap kehidupan sosial masyarakat.

“Pesan budaya ini menjadi pengingat bagi generasi muda agar lebih bijak menjaga lisan maupun tulisan, terutama dalam menggunakan media sosial,” tambahnya.

Melalui pelestarian sastra lisan tersebut, Andi berharap generasi penerus tidak hanya bangga terhadap identitas budaya daerahnya, tetapi juga memiliki benteng moral yang kuat untuk menangkal fitnah dan informasi menyesatkan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....