Berpulangnya Sang Inovator Pemprov Maluku Utara, H. Ruslan Bian
- 04 Okt 2026 05:28 WIB
- Ternate
Oleh: Aka Abdullah (Kadikbud Maluku Utara)
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Tepat pukul 15.00 WIT, saya menerima kabar duka tentang berpulangnya H. Ruslan Bian. Kabar itu disampaikan oleh keponakannya yang kebetulan bekerja sekantor dengan saya di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
Terus terang, kabar tersebut mengagetkan.
Sebab, dalam keseharian, H. Ruslan masih menjadi bagian dari dinamika pemerintahan daerah. Ia datang ke kantor, menjalankan tugas, berdiskusi, memikirkan berbagai persoalan pembangunan, lalu kembali ke rumah.
Begitulah kematian.
Ia datang pada waktu yang tidak pernah kita ketahui. Kematian mengingatkan kita bahwa jabatan, kesibukan, agenda pemerintahan, dan berbagai rencana pembangunan pada akhirnya memiliki batas. Yang kemudian tersisa adalah jejak pengabdian, pemikiran, dan gagasan yang pernah kita tinggalkan.
Saya memiliki satu pengalaman bersama almarhum yang sulit dilupakan. Sebuah percakapan yang bagi saya menjadi salah satu anak tangga dalam perjalanan membangun inovasi di Maluku Utara.
Pada 2024, ketika saya masih menjabat sebagai Penjabat Sekretaris Daerah, saya dan almarhum pernah berbincang mengenai sebuah pertanyaan yang sederhana, tetapi sangat penting secara substantif:
Bagaimana menjadikan Maluku Utara sebagai provinsi yang inovatif?
Pertanyaan itu lahir bukan tanpa konteks.
Pada periode sebelumnya, Maluku Utara masih berada dalam kategori provinsi yang tidak inovatif. Bagi kami, kondisi tersebut bukan semata-mata persoalan angka atau predikat dalam pemetaan kinerja inovasi daerah.
Lebih dari itu, kondisi tersebut merupakan refleksi bahwa kapasitas pemerintah daerah dalam melahirkan pembaruan, menemukan cara-cara baru, dan menyelesaikan persoalan publik masih perlu diperkuat.
Dari situlah percakapan berkembang menjadi sebuah komitmen.
Kami berpikir, jika inovasi merupakan salah satu instrumen penting untuk memperbaiki kualitas tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik, maka Maluku Utara tidak boleh hanya menjadi pengguna gagasan dari daerah lain.
Maluku Utara harus mampu melahirkan gagasannya sendiri.
Inovasi, dalam pengertian itu, bukan sekadar menghadirkan teknologi baru. Inovasi adalah cara berpikir baru, proses kerja yang lebih efektif, model pelayanan yang lebih baik, pemanfaatan data secara lebih tepat, serta keberanian pemerintah untuk menguji pendekatan yang berbeda dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.
Percakapan itu kemudian kami bawa ke ruang publik.
Kami bersepakat bahwa pada 2025 Maluku Utara harus mampu menembus kategori sebagai provinsi inovatif.
Komitmen tersebut kemudian dituangkan secara sederhana, tetapi simbolik, melalui sebuah spanduk berukuran panjang yang dipasang di lingkungan Kantor Gubernur. Pesannya jelas: Maluku Utara sebagai Provinsi Inovatif 2025.
Bagi kami, spanduk itu bukan sekadar ornamen komunikasi pemerintahan.
Ia adalah simbol keberanian untuk menyatakan kepada publik bahwa Maluku Utara ingin berubah.
Dan gagasan tersebut sangat kuat datang dari almarhum H. Ruslan Bian: Maluku Utara harus segera keluar dari posisi sebagai daerah yang tidak inovatif dan mulai membangun ekosistem inovasinya sendiri.
Pada 2025, Maluku Utara kemudian masuk dalam kategori provinsi inovatif.
Bagi saya, capaian tersebut tidak semestinya hanya dibaca sebagai sebuah predikat. Ia harus ditempatkan dalam konteks proses yang lebih panjang, yakni membangun ekosistem inovasi di lingkungan pemerintahan daerah.
Di sinilah saya melihat arti penting peran H. Ruslan Bian.
Ia tidak sekadar berbicara tentang inovasi sebagai sebuah konsep. Ia ikut menanamkan keyakinan bahwa birokrasi daerah harus berani keluar dari cara-cara lama dan mulai mencari pendekatan baru dalam menjawab persoalan masyarakat.
Hari ini, orangnya telah pergi.
Tetapi gagasannya tidak boleh ikut pergi
Ketika mengenang H. Ruslan Bian, saya tidak hanya mengingat seorang Kepala Balitbangda. Saya mengingat seorang teman berdiskusi tentang masa depan Maluku Utara.
Saya mengingat percakapan pada 2024.
Saya mengingat spanduk panjang di Kantor Gubernur yang mungkin kini telah berganti.
Namun, jauh lebih penting daripada spanduk itu adalah keyakinan yang pernah kami bicarakan: bahwa Maluku Utara dapat berubah melalui gagasan, pengetahuan, riset, dan inovasi.
Mungkin inilah cara terbaik untuk mengenang seorang inovator.
Bukan hanya dengan menyebut jabatan yang pernah diembannya, tetapi dengan melanjutkan gagasan yang pernah diperjuangkannya.
Selamat jalan, Kakanda H. Ruslan Bian
Terima kasih atas persahabatan, perbincangan, pemikiran, dan pengabdian yang telah diberikan untuk Maluku Utara.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah dan pengabdian almarhum, mengampuni segala dosa dan kekhilafannya, melapangkan kuburnya, memberikan cahaya dan ketenangan di alam barzakh, serta menempatkan almarhum di tempat terbaik di sisi-Nya.
Al-Fatihah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....