Alarm itu Bernama "Megathrust"

  • 22 Sep 2026 16:06 WIB
  •  Ternate

Oleh: Basri Kamaruddin

(PMG Muda Stasiun Geofisika Ternate)

RRI.CO.ID, Ternate - SEJAK beberapa hari terakhir, video Warta Pagi RRI Ternate ramai beredar di grup WhatsApp dan media sosial. Isinya potongan singkat berita hasil dialog interaktif "Ternate Pagi Ini" pada 16 September 2026, yang kurang lebih membahas tentang karakteristik megathrust dan potensi ancamannya di Maluku Utara serta pentingnya pemahaman masyarakat akan langkah-langkah kesiapsiagaan ketika terjadi gempa bumi.

Narasumber yang dihadirkan pada dialog tersebut juga merupakan pribadi yang kompeten di bidang gempa bumi dan mitigasinya, yaitu Kepala BMKG Stasiun Geofisika Ternate dan Akademisi dari Pusat Tangguh Bencana Universitas Khairun Ternate.

Saya pribadi, sejak video itu beredar, beberapa kali dikonfirmasi oleh kolega untuk memastikan kebenaran akan isi video yang beredar. Menurut saya, video tersebut merupakan bagian dari edukasi publik untuk meningkatkan kesiapsiagaan.

Respons yang ramai muncul ini justru kabar baik. Warga yang bertanya berarti peduli, dan kepedulian adalah modal awal kesiapsiagaan. Tugas kita bersama adalah mengarahkannya ke pemahaman yang tepat, bukan ke kepanikan.

Apa Itu Megathrust?

Saya kutip dari Pusat Studi Gempa bumi Nasional (PuSGeN), megathrust merupakan zona pertemuan antarlempeng tektonik, tempat satu lempeng menunjam ke bawah lempeng lainnya. Di bidang pertemuan itu, pergerakan bisa terkunci sehingga tekanan menumpuk dalam waktu lama. Bila dilepaskan sekaligus, hasilnya gempa sangat besar, dan jika terjadi di bawah laut, tsunami bisa menyusul.

PuSGeN berhasil mengidentifikasi total 14 zona Megathrust dan 401 sumber sesar di seluruh Indonesia pada tahun 2024. Dari jumlah tersebut, terdapat 1 zona Megathrust yaitu Megathrust Filipina bagian Selatan dan 16 sumber sesar di wilayah Provinsi Maluku Utara, dengan potensi magnitudo maksimal (Mmax) antara 7,1 hingga 8,3. Hasil identifikasi ini sudah dipublikasikan pada tahun 2025 oleh PuSGeN dalam bentuk buku dengan judul Buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Bumi di Indonesia.

Sampai sini, kadang kita salah memahami kata potensi ini. Potensi sangat berbeda dengan prediksi. Potensi merupakan gambaran suatu wilayah yang memiliki sumber-sumber gempa bumi, mungkin akan mengalami gempa bumi dengan kekuatan maksimal atau magnitudo maksimal Mmax.

Gempa bumi yang mungkin terjadi bisa juga kekuatannya lebih kecil dari Mmax. Frasa 'mungkin akan' itulah yang perlu digarisbawahi, karena di baliknya tersimpan batas pengetahuan kita hari ini. Potensi dapat dipetakan, tetapi waktu tepat kejadiannya belum mampu dijangkau ilmu pengetahuan manusia. Setidaknya hingga saat ini.

Sedangkan prediksi memuat pernyataan pasti tentang waktu, lokasi dan kekuatan gempa bumi terjadi. Pernyataan prediksi seperti "pada hari Sabtu akan terjadi gempa bumi magnitudo 8,3 di wilayah Ternate", bisa di pastikan pernyataan seperti ini tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Negara - negara dengan teknologi maju, seperti Jepang dan Amerika Serikat, pun belum bisa melakukan prediksi gempa bumi.

Poin terpenting yang ingin saya digarisbawahi disini adalah gempa bumi, baik itu dari sumber megathrust maupun sumber sesar, tidak dapat diprediksi secara pasti kapan terjadinya. Jadi video Warta Pagi tersebut bukan ramalan, bukan peringatan bahwa gempa besar akan datang pekan depan. Ia adalah ajakan untuk siap sebelum kejadian, bukan menunggu kabar tanggalnya.

Pernyataan para ahli bahwa megathrust "tinggal menunggu waktu" juga sering disalahpahami. Istilah itu dipakai sebagai bentuk kewaspadaan berdasarkan sejarah dan geologi, karena zona megathrust sudah lama tidak melepaskan energi. Maknanya "kita tahu tempat ini aktif, jadi mari bersiap", bukan "sebentar lagi terjadi".

Kenapa Maluku Utara harus peduli?

Kita tinggal di salah satu zona tektonik paling rumit di dunia. Laut Maluku disebut sebagai satu-satunya contoh global tumbukan busur-busur kepulauan yang melahap cekungan samudra lewat subduksi dari dua arah. Kompleksitas itu membuat wilayah ini akrab dengan gempa. Dalam 100 tahun terakhir, kawasan ini sudah melahirkan 18 gempa berkekuatan di atas M7,0.

Kita juga tidak perlu jauh-jauh membayangkan skenarionya. Pada 2 April 2026, gempa kuat mengguncang Laut Maluku dekat Pulau Batang Dua dengan magnitudo M7,6. Dampaknya nyata, ribuan warga Batang Dua mengungsi, ratusan bangunan rusak, dan tsunami kecil teramati di sejumlah titik pengamatan. Rumah, gereja, masjid, hingga gedung perkantoran di Ternate pun ikut merasakan akibatnya.

Sejarah yang lebih panjang pun meninggalkan jejak. Para ahli geologi menemukan endapan tsunami masa lampau atau paleotsunami di pantai Kelurahan Loto, Ternate Barat. Berdasarkan catatan BMKG, sejak tahun 1600 telah terjadi sekitar 18 kejadian tsunami di wilayah Maluku Utara.

Para ahli bahkan sepakat bahwa Laut Maluku merupakan zona dengan kejadian alam yang berpotensi menimbulkan tsunami paling aktif kedua setelah Laut Banda. Artinya, tsunami di wilayah kita bukan sekadar kemungkinan teoritis. Alam sudah pernah mencatatnya.

Langkah Mitigasi

Kabar baiknya, kesiapsiagaan tidak harus rumit. Sederhananya, bila merasakan guncangan kuat selama sekitar 20 detik atau lebih, jangan menunggu sirene atau peringatan resmi, langsung evakuasi.

Warga pesisir harus segera menjauh dari pantai menuju tempat tinggi. Alasannya masuk akal. Untuk gempa yang berpusat dekat pantai, waktu tempuh gelombang bisa sangat singkat, dan detik-detik itu terlalu berharga untuk dihabiskan menunggu notifikasi.

Beberapa kebiasaan kecil juga sangat berarti. Kenali jalur evakuasi dari rumah, kantor, dan sekolah. Pastikan lemari, rak, dan lampu gantung tidak mudah roboh. Sepakati titik kumpul keluarga. Siapkan tas siaga berisi dokumen penting, obat, senter, dan air minum. Dan yang tak kalah penting, biasakan memantau informasi resmi BMKG serta tidak ikut menyebar pesan berantai yang belum jelas sumbernya.

Ada garis tipis antara waspada dan panik, dan literasi adalah pembatasnya. Panik lahir dari ketidaktahuan, sedangkan waspada lahir dari pengetahuan. Kita tidak bisa menghentikan lempeng bergerak, tetapi kita bisa menentukan seberapa siap kita ketika ia bergerak.

Jadi, video yang beredar ramai itu, pada akhirnya, ibarat alarm yang dibunyikan dengan sopan. Senada dengan video itu, tulisan ini juga tidak untuk menakut-nakuti, hanya mengingatkan bahwa kita hidup di tanah yang indah sekaligus dinamis.

Orang Maluku Utara sudah terbiasa hidup berdampingan dengan gunung api, laut, dan angin musim. Menambahkan satu lagi kebiasaan, yaitu siap menghadapi gempa, rasanya bukan hal yang berat.

Salam Tangguh!!!

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....