Pohon Saro Rp1,5 Miliar dan Rahasia Kemakmuran Orang Obi
- 20 Sep 2026 22:32 WIB
- Ternate
Oleh:Asmar Hi. Daud, Akademisi Unkhair
Pohon-pohon itu tidak tumbuh dari tanah. Batangnya dibuat dari kayu atau bambu, rantingnya dirangkai dengan tangan, lalu dipenuhi lembaran uang merah dan biru. Ketika diarak memasuki pesta pernikahan, masyarakat Maluku Utara mengenalnya sebagai saro-saro. Dalam sejumlah pesta pernikahan di desa-desa pesisir Kepulauan Obi, saro hadir dengan nilai yang tidak kecil.
Bahkan, nilainya disebut mencapai Rp1,5 miliar. Angka tersebut masih bersumber dari informasi yang beredar di masyarakat dan karena itu perlu diverifikasi. Namun justru di situlah pertanyaan yang lebih penting muncul. Dari mana kemampuan ekonomi masyarakat Obi menghadirkan partisipasi sebesar itu? Apakah kemakmuran tersebut baru tumbuh setelah hilirisasi nikel, atau berakar lebih lama dalam kebudayaan, etos kerja, dan kehidupan ekonomi masyarakat?
Untuk menjawabnya, kita tidak cukup berdiri di tengah pesta dan menghitung lembaran uang yang bergoyang di pohon saro. Kita perlu melihat makna budaya di belakangnya, lalu menelusuri kehidupan masyarakat Obi lebih luas, dari desa-desa pesisir menuju kebun-kebun, mengikuti nelayan ke laut, melihat perdagangan antarkampung, serta menengok sejarah pertanian dan berbagai sumber penghidupan masyarakat. Di sanalah perlahan terlihat bahwa kemakmuran orang Obi bukan cerita yang dimulai ketika nikel datang.
Saro, doa dan ikatan sosial
Saro memiliki makna lebih dalam daripada nominal uang yang terlihat dalam pesta. Dalam tradisi perkawinan Maluku Utara, saro-saro berhubungan dengan doa, harapan, nasihat, dan nilai kehidupan rumah tangga. Dalam perkembangannya, Saro Doi tampil melalui pemberian uang kepada pengantin dan mengandung makna resiprositas, kekerabatan, penghormatan, dan kohesi sosial.
Karena itu, bentuk saro dapat berubah mengikuti zaman, tetapi nilai sosialnya tetap kuat. Saro menjadi ruang tempat keberhasilan individu kembali berjumpa dengan komunitas. Petani, nelayan, pedagang, pengusaha, pekerja, perantau, dan keluarga hadir bukan sekadar untuk menunjukkan apa yang dimiliki, tetapi ikut menopang keluarga yang sedang memulai kehidupan baru.
Pohon uang itu dapat dibaca sebagai metafora sosial. Batangnya mungkin dari kayu atau bambu, tetapi yang membuatnya berdiri adalah jaringan kekerabatan. Rantingnya dipenuhi uang, tetapi akarnya berada dalam hubungan antarmanusia. Namun untuk dapat memberi, seseorang harus mampu menghasilkan. Di sinilah ungkapan sederhana “orang Obi hebat cari doi” memperoleh makna yang lebih dalam. Di belakangnya terdapat kerja keras, keberanian berusaha, kemampuan membaca peluang, dan kemandirian ekonomi.
Jauh sebelum nikel, orang Obi sudah menghasilkan
Obi hari ini semakin sering dibicarakan melalui nikel dan hilirisasi. Industri tumbuh, mobilitas manusia meningkat, pasar berkembang, dan perputaran uang menjadi lebih cepat. Tetapi sejarah ekonomi masyarakat Obi tidak dimulai dari industri ekstraktif. Jauh sebelumnya, masyarakat telah membangun kehidupan dari tanah dan laut. Cengkih dan kelapa menjadi bagian penting perekonomian.
Nelayan menggantungkan hidup pada perairan sekeliling pulau. Tuna menjadi komoditas penting, sementara di sejumlah wilayah pesisir rumput laut berkembang sebagai sumber pendapatan. Pertanian pun mempunyai sejarahnya sendiri. Kacang dan bawang merah pernah memberikan keberhasilan ekonomi bagi masyarakat. Karena itu, perkembangan hari ini tidak selalu merupakan kelahiran ekonomi baru. Di dalamnya juga terdapat kebangkitan gairah produksi yang pernah hidup. Ada memori bertani, pengetahuan tentang tanah dan laut, pengalaman menghadapi musim dan pasar, serta keberanian mengubah sumber daya menjadi penghasilan keluarga.
Anak muda, kebun, dan nilai tambah
Salah satu perkembangan penting ialah munculnya generasi muda yang mulai melihat pertanian sebagai ruang usaha masa depan. Hortikultura dikelola lebih teratur, teknologi mulai digunakan, dan pengelolaan produksi menjadi lebih terukur. Modernisasi tidak selalu berarti meninggalkan kebun. Anak muda justru dapat membawa modernisasi masuk ke kebun.
Peluangnya semakin besar ketika industri berkembang. Bertambahnya pekerja dan penduduk meningkatkan kebutuhan pangan. Sayur, ikan, buah, dan kebutuhan rumah tangga harus tersedia. Pertanyaannya sederhana, apakah semuanya harus datang dari luar Obi, atau masyarakat Obi sendiri yang menangkap pasar tersebut?
Masyarakat tidak seharusnya hanya menjadi tenaga kerja dan konsumen dalam ekonomi hilirisasi. Mereka dapat menjadi produsen, pemasok, pengolah, dan pelaku usaha. Upaya mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah menunjukkan bahwa perubahan pola pikir itu mulai tumbuh. Hasil kebun tidak hanya dipanen dan dijual, tetapi dapat diolah, dikemas, diberi identitas, dan dipasarkan.
Di laut pun masyarakat menunjukkan kapasitas yang sama. Ketika persoalan rumpon muncul, masyarakat dapat membicarakan dan menatanya bersama. Kemampuan mengorganisasi diri ini merupakan modal sosial penting. Masyarakat Obi bukan sekadar objek kebijakan. Mereka mempunyai agensi.
Hilirisasi mempercepat, tetapi bukan memulai
Hilirisasi jelas mengubah Obi. Pasar tumbuh, perdagangan meningkat, peluang usaha bertambah, dan struktur ekonomi berubah. Tetapi tidak tepat jika seluruh perkembangan ekonomi hari ini dianggap lahir karena tambang. Sebaliknya, tidak tepat pula mengabaikan peluang baru yang diciptakan industri. Yang terjadi adalah pertemuan dua kekuatan. Perubahan struktural akibat industrialisasi bertemu dengan kapasitas masyarakat yang telah dibentuk jauh sebelumnya melalui pengalaman berkebun, melaut, berdagang, berusaha, dan membangun jaringan sosial.
Pertemuan itulah yang mempercepat transformasi. Ada yang masuk sektor jasa, berdagang, tetap melaut, memperbesar pertanian, atau membawa teknologi ke kebun. Mereka tidak sepenuhnya meninggalkan ekonomi lama, tetapi berusaha menghubungkannya dengan peluang baru.
Tentu tidak berarti seluruh masyarakat Obi telah sejahtera. Ketimpangan tetap harus dibicarakan. Persoalan lingkungan tidak boleh diabaikan. Infrastruktur, modal, teknologi, pasar, dan perlindungan terhadap sumber penghidupan masyarakat tetap menjadi pekerjaan besar. Pertanyaan mengenai seberapa besar manfaat hilirisasi benar-benar tinggal dan berputar di masyarakat lokal juga tetap penting.
Kemakmuran yang belum terhubung
Di tengah dinamika itu, ada ironi yang sulit diabaikan. Mobilitas meningkat, kendaraan bertambah, perdagangan bergerak, dan Obi menjadi ruang penting hilirisasi nikel. Namun jalan yang menghubungkan desa-desa dan pusat ekonomi masyarakat belum berkembang sebanding.
Masyarakat Obi tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka membutuhkan jalan yang menghubungkan kampung dengan kampung, kebun dengan pasar, nelayan dengan pusat perdagangan, serta masyarakat dengan sekolah dan pelayanan kesehatan. Jalan lingkar Obi bukan sekadar proyek konstruksi, tetapi infrastruktur pemerataan.
Pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, dan perusahaan perlu menjadikannya agenda bersama. Orang Obi mungkin sanggup baku tambah doi untuk memperbaiki jalan di sekitar kampungnya. Tetapi membangun konektivitas sebuah pulau tidak semestinya dibebankan kepada masyarakat. Jika nikel dari bawah tanah Obi dapat terhubung melalui rantai industri menuju pasar yang jauh, desa-desa yang berdiri di atas tanah Obi seharusnya juga dapat terhubung satu sama lain oleh jalan yang layak.
Maka jangan hanya melihat Rp1,5 miliar
Kita akhirnya kembali ke pohon saro. Orang luar mungkin berhenti pada pertanyaan bagaimana masyarakat dapat menghadirkan uang sebesar itu. Tetapi di belakangnya terdapat jejak ekonomi yang panjang: cengkih, kelapa, pertanian, tuna, rumput laut, perdagangan, usaha, perantauan, inovasi, dan jaringan sosial.
Saro bukan sumber kemakmuran orang Obi. Saro hanyalah salah satu ruang tempat kemampuan ekonomi, solidaritas, dan kekuatan jaringan sosial masyarakat menjadi terlihat. Hilirisasi nikel memang mempercepat transformasi Obi, tetapi kemampuan masyarakat untuk menghasilkan, beradaptasi, dan membaca peluang telah tumbuh jauh sebelumnya dari tanah dan laut, dari kebun dan perahu, serta dari pengalaman panjang membangun penghidupan.
Karena itu, ketika orang Obi “barmaeng saro” dengan nilai yang membuat orang lain tertegun, kita mungkin tidak perlu terlalu heran. Mereka memang hebat cari doi. Namun rahasianya bukan pada berapa banyak uang yang dapat digantung pada pohon saro, melainkan pada kemampuan bekerja, berusaha, mengambil risiko, mengorganisasi diri, serta berbagi dalam jaringan kekerabatan yang kuat.
Dari pijakan itulah masa depan Obi seharusnya dibangun. Tidak hanya dari apa yang diambil dari bawah tanah, tetapi juga dari apa yang terus ditumbuhkan masyarakat di atas tanah, di laut, dan dalam kehidupan sosial mereka sendiri. Jika kekuatan itu didukung oleh jalan yang menghubungkan desa-desa, pasar yang terbuka, lingkungan yang terlindungi, serta pembangunan yang adil, maka kemakmuran Obi tidak hanya akan terlihat pada pohon saro, tetapi benar-benar terasa dalam kehidupan masyarakatnya. Dan mungkin, di situlah sesungguhnya rahasia kemakmuran orang Obi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....