Ibu Agustina Rumthe, Guru Sepuh yang Mengabdi di Ujung Pasifik
- 18 Agt 2026 06:06 WIB
- Ternate
Oleh: Aka Abdullah
Di antara kerumunan guru dan peserta upacara Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman SMA Kristen Nusa Damai, Posi-Posi Rao, Morotai, seorang perempuan sepuh tampak berdiri dengan wajah penuh semangat.
Namanya Ibu Agustina Rumthe, usianya telah 68 tahun.
Tubuhnya memang tak lagi muda. Rambutnya telah memutih, langkahnya tak lagi setegap para guru muda di sekelilingnya. Namun, pagi itu, semangatnya justru terlihat menyala ketika Sang Merah Putih perlahan naik ke langit Posi-Posi Rau.
Angin laut bertiup dari arah Pasifik. Di hadapan sekolah yang berdiri di pesisir pulau terpencil itu, Ibu Agustina mengikuti upacara dengan khidmat.
Barangkali bagi sebagian orang, upacara 17 Agustus hanyalah seremoni tahunan.
Namun, bagi Ibu Agustina yang telah lama menjadi guru honor di SMA Kristen Nusa Damai, pagi itu seperti sebuah perjalanan panjang untuk mengenang puluhan tahun pengabdian yang ia jalani dalam sunyi, jauh dari sorotan dan gemerlap kota.
Upacara kemerdekaan di Posi-Posi Rau memang jauh dari kemeriahan yang biasa terlihat di ibu kota. Tidak ada barisan paskibraka dengan seragam khusus. Tidak ada latihan berbulan-bulan.
Pasukan pengibar bendera hanya berjumlah 13 orang. Mereka merupakan gabungan siswa SMA dan SMP Kristen Nusa Damai. Seragam yang dikenakan pun seragam sekolah biasa. Mereka hanya berlatih sekitar satu minggu.
Tidak ada anggaran khusus. Tidak ada honor. Tidak ada fasilitas sebagaimana yang dimiliki pasukan pengibar bendera di kota-kota besar.
Namun, ketika tiba saatnya mengibarkan Merah Putih, mereka berdiri tegak.
Satu per satu gerakan dilakukan dengan penuh percaya diri. Tak ada kesalahan berarti. Hingga akhirnya, Sang Merah Putih berkibar sempurna di langit Posi-Posi Rau.
Di bawah bendera itulah Ibu Agustina berdiri. Dan di sanalah kisah panjang seorang guru yang memilih menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk pendidikan kembali teringat.
Ibu Agustina mengawali karier sebagai guru ASN di SMP Negeri 1 Morotai. Namun, konflik horizontal yang pecah pada 1999 mengubah perjalanan hidupnya.
Konflik yang membawa sentimen suku dan agama memaksa banyak orang meninggalkan tempat tinggalnya. Sebagian warga Morotai mengungsi dan menetap di sejumlah wilayah, termasuk Posi-Posi Rao.
Ketika itu, Posi-Posi Rao belum memiliki sekolah yang memadai. Bahkan sekolah menengah pertama hingga sekolah menengah atas belum tersedia, sementara anak-anak usia sekolah terus bertambah.
Ibu Agustina melihat kenyataan itu. Ia melihat anak-anak yang seharusnya berada di ruang kelas justru tumbuh tanpa pendidikan.
Naluri seorang guru membuatnya tidak bisa berpaling. Bersama sejumlah sahabat dan masyarakat, ia ikut merintis sekolah. Dimulai dari sekolah dasar, kemudian sekolah menengah pertama, hingga akhirnya berdiri SMA Kristen Nusa Damai Posi-Posi Rao.
Keterbatasan guru membuat pengabdian Ibu Agustina tidak mengenal batas tugas. Ia bahkan pernah mengajar empat mata pelajaran sekaligus.
Bukan karena mengejar jabatan. Bukan pula karena mengejar penghargaan. Ia hanya ingin anak-anak di pulau itu tetap belajar.
Tahun 2018 seharusnya menjadi akhir masa pengabdiannya sebagai guru ASN.
Namun, bagi Ibu Agustina, pensiun ternyata bukan berarti berhenti mengajar.
Ia tetap datang ke sekolah.
Tetap berdiri di depan kelas.
Tetap mengajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.
Alasannya sederhana: "Saya merasa sayang anak-anak. Kalau tidak ada guru, siapa yang mengajar mereka?"
Ia tahu dirinya telah memasuki usia senja. Ia juga telah ditinggal suami dan kini menjadi seorang ibu dengan satu anak.
Namun, keadaan itu tidak membuatnya meminta lebih. Ia tetap mengajar tanpa menuntut gaji.
"Saya tidak menuntut gaji. Saya jalani saja sambil mencari berkat Tuhan di sisa umur ini."
Honor yang diterimanya pun sangat kecil. "Biasanya saya diberi Rp 500.000 untuk satu bulan. Tapi itu tidak masalah."
Bagi Ibu Agustina, angka bukan ukuran pengabdian. Yang jauh lebih penting adalah menjaga hati tetap bersih. "Saya ingin mencari berkat Tuhan."
Kalimat itu sederhana. Namun, di sebuah pulau kecil yang berhadapan langsung dengan laut lepas Pasifik, kalimat tersebut terdengar seperti pesan besar tentang arti pengabdian.
"Mari Urus Pendidikan dengan Hati"
Ketika ditanya apa yang ia harapkan dari pemerintah pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, wajah Ibu Agustina berubah.
Matanya berkaca-kaca.
Angin laut menerpa wajahnya.
Ia tidak meminta sesuatu yang berlebihan.
Tidak meminta kemewahan.
Tidak meminta penghargaan.
Ia hanya berharap pendidikan di negeri ini benar-benar diurus dengan hati.
"Harapan saya, mari kita urus pendidikan dengan hati. Dengan cara itu, kita bisa mendapatkan berkat Tuhan."

Kalimat itu menjadi begitu kuat karena disampaikan oleh seseorang yang telah puluhan tahun merasakan sendiri betapa sulitnya menghadirkan pendidikan di wilayah terpencil.
Di tempat seperti Posi-Posi Rau, pendidikan bukan sekadar tentang gedung sekolah, buku, dan kurikulum.
Pendidikan adalah tentang keberanian seseorang untuk datang.
Tentang guru yang bersedia bertahan.
Tentang anak-anak yang tetap belajar meski sekolah mereka jauh dari pusat kekuasaan.
Dan tentang orang-orang seperti Ibu Agustina yang memilih tetap mengabdi ketika tidak ada yang menjanjikan apa-apa.
Di ujung percakapan, Ibu Agustina menyampaikan satu permintaan yang jauh lebih personal.
Jika suatu hari Tuhan memanggilnya, ia berharap masih ada sebuah rumah yang dapat ditinggalkan untuk anaknya.
"Kalau ada yang bisa membantu, tolong bantu rumah saya. Supaya kalau waktunya saya pergi, ada rumah untuk anak saya.” kalimat itu diucapkan lirih.
Permintaan sederhana tersebut membuat kisah Ibu Agustina terasa semakin manusiawi.
Puluhan tahun ia membantu membangun sekolah agar anak-anak Posi-Posi Rau memiliki masa depan.
Kini, menjelang usia senjanya, ia hanya ingin memastikan satu hal sederhana: anak semata wayangnya memiliki tempat untuk pulang.
Pagi itu, Merah Putih akhirnya berkibar di langit Posi-Posi Rau.
Di bawahnya berdiri 13 pelajar yang mengibarkan bendera dengan seragam sekolah sederhana.
Di antara para guru, Ibu Agustina menyaksikan semuanya dengan mata yang menyimpan terlalu banyak cerita.
Bendera itu bukan sekadar kain merah dan putih.
Bagi Ibu Agustina, ia adalah simbol dari sebuah pengabdian panjang: dari Morotai menuju Posi-Posi Rau, dari seorang guru ASN hingga menjadi guru yang tetap mengajar setelah pensiun, dari masa konflik hingga lahirnya sebuah sekolah.
Dan mungkin, ketika upacara berakhir dan para peserta meninggalkan halaman sekolah, ada satu hal yang tetap tinggal di sana: semangat seorang guru sepuh yang mengajarkan bahwa kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan mengibarkan bendera, tetapi juga dengan memastikan anak-anak di pelosok negeri tetap memiliki kesempatan untuk belajar.
Di Posi-Posi Rau, di tepi Pasifik, Ibu Agustina Rumthe telah membuktikannya.
Ia mungkin tidak memiliki panggung besar.
Tidak memiliki penghargaan yang bertumpuk.
Tidak pula memiliki fasilitas yang berlimpah.
Tetapi ia memiliki sesuatu yang jauh lebih mahal: hati yang tidak pernah selesai mengabdi.
Dan di usia 68 tahun, ketika banyak orang memilih beristirahat, Ibu Agustina masih berdiri di depan kelas.
Sebab baginya, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan.
Menjadi guru adalah jalan untuk terus mencari berkat Tuhan, hingga batas terakhir pengabdian.
Sampe baku dapa lagi ibu Agustina, Kami semua Hormat
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....