TPA Open Dumping Dinilai Tak Lagi Relevan Ternate Didorong Beralih ke Pengelolaan

  • 21 Jun 2026 08:17 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID,Ternate - Pengelolaan sampah di Kota Ternate dinilai menghadapi tantangan serius seiring meningkatnya volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) setiap hari. Sistem pengelolaan yang masih menggunakan metode open dumping disebut tidak lagi menjadi solusi jangka panjang bagi kota dengan keterbatasan lahan seperti Ternate.

Dalam Program green radio, yang membahas masa depan pengelolaan sampah di Ternate, pemerhati lingkungan sekaligus komunitas lingkungan Trasero, Muhammad Asagaf menjelaskan bahwa saat ini TPA Kota Ternate masih berfungsi sebagai tempat penampungan sampah tanpa proses pengolahan yang memadai.Sabtu 20 - Juni - 2026

Menurutnya, setiap hari sekitar 100–120 ton sampah diangkut menuju TPA, sehingga kapasitas tempat pembuangan diperkirakan akan semakin kritis jika tidak diikuti langkah pengurangan sampah dari sumbernya.“Kalau terus menggunakan konsep kumpul–angkut–buang tanpa ada upaya pengurangan, maka TPA akan semakin cepat penuh. Kota Ternate memiliki keterbatasan lahan sehingga pola seperti ini tidak bisa dipertahankan dalam jangka panjang,” ujarnya.

Selain persoalan kapasitas, sistem open dumping juga dinilai menimbulkan dampak lingkungan berupa bau menyengat akibat gas metana, pencemaran air lindi, hingga potensi gangguan kesehatan masyarakat di sekitar kawasan TPA.Muhammad menilai solusi pengelolaan sampah seharusnya dimulai dari rumah tangga melalui peningkatan kesadaran masyarakat dan penerapan prinsip pengurangan sampah.

Ia mendorong penerapan konsep 5R (Refuse, Reduce, Reuse, Repurpose, dan Recycle) agar jumlah sampah yang masuk ke TPA dapat ditekan secara signifikan.“Yang paling penting bukan menambah armada angkut terus-menerus, tetapi bagaimana mengurangi sampah sejak dari sumbernya. Kalau sampah sudah menjadi masalah di TPA, pemerintah akan semakin kesulitan,” katanya.

Ia juga menilai pemerintah perlu mulai menerapkan berbagai kebijakan pendukung seperti pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, mendorong penggunaan tumbler, penguatan bank sampah di tingkat kelurahan, hingga pengelolaan sampah berbasis RT.

Selain itu, konsep sanitary landfill disebut lebih ramah lingkungan dibanding open dumping karena memiliki sistem pengelolaan air lindi dan penangkapan gas metana yang dapat dimanfaatkan menjadi energi.Namun demikian, menurutnya, langkah yang paling ideal tetap mengarah pada konsep zero waste city atau kota minim sampah.

Konsep tersebut menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam pengelolaan sampah melalui pemilahan sampah rumah tangga, pemanfaatan kembali barang yang masih layak pakai, serta pengembangan ekonomi sirkular berbasis daur ulang.“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Masyarakat harus ditempatkan sebagai subjek, bukan sekadar objek yang hanya menghasilkan sampah,” tambahnya.

Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, komunitas lingkungan, dunia usaha, lembaga pendidikan, serta masyarakat dinilai menjadi kunci untuk mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan di Kota Ternate.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....