Sula Bahagia, Mimpi yang Menunggu Menjadi Nyata

  • 31 Mei 2026 13:39 WIB
  •  Ternate

Oleh: Munandar

(Tulisan ini dibuat dalam rangka refleksi HUT ke-23 Kabupaten Kepulauan Sula)

RRI.CO.ID, Sanana – Spanduk-spanduk perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-23 Kabupaten Kepulauan Sula terpasang di berbagai sudut kota. Ucapan selamat dan harapan menghiasi jalanan. Di tengah kemeriahan itu, satu kalimat yang paling sering terdengar adalah “Sula Bahagia.”

Kalimat tersebut bukan sekadar slogan. Bagi masyarakat Kepulauan Sula, ia adalah harapan yang terus dijaga sejak daerah ini berdiri 23 tahun lalu.

Namun, ketika perayaan berlangsung di pusat kota, suara-suara dari desa masih menyimpan banyak cerita. Cerita tentang anak-anak yang ingin belajar di ruang kelas yang layak, tentang ibu hamil yang harus menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan pelayanan kesehatan, serta tentang petani dan nelayan yang berharap hasil kerja keras mereka memiliki nilai jual yang lebih baik.

Di sejumlah wilayah, akses infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan. Jalan yang rusak, keterbatasan layanan dasar, hingga persoalan listrik dan air bersih menjadi bagian dari realitas yang masih dihadapi sebagian masyarakat.

Bagi warga desa, kebahagiaan memiliki makna yang sederhana. Mereka tidak meminta kemewahan. Mereka hanya ingin merasakan pembangunan yang hadir hingga ke kampung-kampung, memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anak untuk menggapai masa depan yang lebih baik.

Pada usia ke-23 tahun, Kabupaten Kepulauan Sula telah mengalami berbagai perkembangan. Namun perjalanan pembangunan tentu belum berakhir. Masih ada harapan yang menunggu untuk diwujudkan agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat.

Karena sesungguhnya, Sula Bahagia bukan hanya tentang meriahnya perayaan atau megahnya pembangunan di perkotaan. Sula Bahagia adalah ketika senyum yang sama juga hadir di desa-desa terpencil. Ketika masyarakat tidak lagi merasa tertinggal. Ketika pelayanan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi dapat diakses oleh semua orang tanpa terkecuali.

Momentum HUT ke-23 ini menjadi saat yang tepat untuk kembali memaknai arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Sebuah kebahagiaan yang tidak hanya diucapkan dalam pidato, tetapi dirasakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Sebab pada akhirnya, Falafola akan benar-benar bahagia bukan ketika sebagian masyarakat menikmati kemajuan, melainkan ketika seluruh warga, dari kota hingga pelosok desa, dapat berjalan bersama menuju masa depan yang lebih sejahtera. Itulah makna Sula Bahagia yang sesungguhnya, sebuah cita-cita yang masih terus diperjuangkan bersama.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....