Jangan Tutup Dukono, Benahi Sistem Wisatanya

  • 13 Mei 2026 10:39 WIB
  •  Ternate

Oleh: Muhammad Assyura Umar

(Alumni Australia Awards Short Course – Sustainable Tourism Management)

RRI.CO.ID, Tobelo - INSIDEN di Gunung Dukono yang menelan korban jiwa baru-baru ini tentu meninggalkan duka mendalam bagi kita semua. Tiga nyawa melayang dalam sebuah perjalanan wisata yang seharusnya menjadi petualangan yang membahagiakan.

Duka ini harus menjadi refleksi bersama bahwa dalam setiap aktivitas wisata alam, terutama wisata berisiko tinggi seperti pendakian gunung api aktif, keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama. Namun, di balik tragedi ini, ada pelajaran besar yang perlu diambil, jangan sampai insiden ini justru membuat kita mengambil keputusan yang reaktif, seperti menutup permanen destinasi wisata tersebut, tanpa terlebih dahulu melakukan evaluasi dan pembenahan secara menyeluruh.

Gunung Dukono bukan sekadar gunung. Dukono adalah salah satu ikon wisata petualangan paling penting di Maluku Utara. Sebagai gunung api aktif yang memiliki karakter unik dan daya tarik vulkanik yang langka, Dukono telah lama menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, khususnya pecinta pendakian dan geowisata. Nama Dukono bahkan telah dikenal luas di kalangan wisatawan petualangan internasional. Ini adalah aset daerah yang bernilai besar, bukan hanya dari sisi pariwisata, tetapi juga dari sisi identitas dan branding daerah.

Karena itu, jika respons atas insiden ini adalah penutupan permanen, maka dampaknya akan sangat luas. Yang pertama tentu adalah dampak ekonomi.

Selama ini aktivitas wisata di Dukono telah menciptakan mata rantai ekonomi yang hidup di masyarakat sekitar. Guide lokal memperoleh penghasilan dari jasa pendampingan.

Pelaku transportasi lokal mendapatkan penumpang. Pemilik homestay dan penginapan menerima tamu. Warung-warung kecil dan UMKM menikmati perputaran ekonomi dari para wisatawan. Bahkan sektor informal lain yang sering luput dari perhatian ikut merasakan manfaatnya. Ketika destinasi ditutup permanen, maka bukan hanya satu sektor yang mati, tetapi banyak sumber penghidupan masyarakat ikut terdampak.

Kedua, penutupan permanen juga berpotensi melemahkan citra pariwisata Halmahera Utara. Dunia pariwisata bekerja dengan persepsi. Ketika sebuah destinasi ditutup tanpa narasi pembenahan yang jelas, publik bisa menangkap pesan bahwa daerah belum siap mengelola destinasi berisiko. Ini dapat menurunkan kepercayaan wisatawan terhadap destinasi lain di wilayah yang sama. Padahal yang dibutuhkan bukanlah "mundur", melainkan "berbenah".

Karena itu, momentum ini harus digunakan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola wisata Dukono. Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara melalui dinas terkait perlu segera menyusun regulasi dan SOP yang lebih ketat dan terukur bagi setiap aktivitas pendakian. Harus ada standar kapan pendakian boleh dilakukan, kapan harus dihentikan, bagaimana mekanisme pemantauan aktivitas vulkanik, siapa yang berwenang memberi izin, serta bagaimana prosedur evakuasi ketika terjadi kondisi darurat. Semua harus terdokumentasi dan dipahami bersama oleh seluruh pihak.

Selain itu, perhatian serius perlu diberikan kepada para guide lokal. Mereka adalah garda terdepan dalam aktivitas wisata Dukono. Pemerintah perlu menginventarisasi secara resmi berapa jumlah guide yang aktif, bagaimana kapasitas mereka, serta bagaimana pola kerja mereka selama ini.

Setelah itu, perlu ada program peningkatan kompetensi yang terstruktur yaitu pelatihan mitigasi bencana, navigasi medan ekstrem, pertolongan pertama, komunikasi darurat, hingga sertifikasi kompetensi yang diakui secara formal. Dengan begitu, guide lokal tidak hanya bekerja berdasarkan pengalaman, tetapi juga memiliki standar profesional yang jelas.

Lebih jauh lagi, insiden ini harus menyadarkan kita bahwa sektor pariwisata adalah sektor multisektor yang membutuhkan intervensi serius. Pariwisata bukan hanya urusan dinas pariwisata. Ada peran pemerintah daerah, BPBD, PVMBG, aparat keamanan, pelaku usaha, pemerintah desa, komunitas lokal, hingga masyarakat sekitar.

Semua harus bekerja dalam satu ekosistem yang saling mendukung. Jika sektor ini dikelola dengan serius, manfaatnya akan luar biasa besar bagi daerah. Sebaliknya, jika dikelola seadanya, risikonya pun akan sangat besar.

Semoga insiden kemarin menjadi pelajaran penting bagi kita semua untuk banyak berbenah dan belajar lagi. Tragedi ini tidak boleh hanya menjadi berita duka yang kemudian dilupakan. Ia harus menjadi titik balik untuk memperkuat sistem, memperbaiki tata kelola, dan membangun kesadaran baru bahwa potensi wisata besar seperti Dukono membutuhkan keseriusan yang setara dengan besarnya potensi tersebut.

Halmahera Utara memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Dukono adalah salah satu mahkotanya. Tugas kita bukan menutup mahkota itu karena takut akan risikonya, melainkan memastikannya dikelola dengan aman, profesional, dan bertanggung jawab demi masyarakat Halmahera Utara dan Maluku Utara.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....