Pertapahan: Puasa dalam Kegaiban

  • 16 Mar 2026 10:22 WIB
  •  Ternate

Oleh: Kadri Laetje

RRI.CO.ID, Ternate - Di tengah kehidupan generasi modern, istilah bertapa atau pertapahan sering terdengar asing, bahkan dianggap tabu. Padahal dalam hakikatnya, pertapahan bukan sekadar menyendiri dari kehidupan sosial, melainkan sebuah proses perenungan mendalam untuk memahami kebesaran Tuhan melalui alam semesta dan perjalanan batin manusia.

Pertapahan adalah bentuk “puasa” dari hiruk pikuk dunia. Ia merupakan upaya menyepi dalam ketenangan, merenungi diri, mencari petunjuk dalam dimensi yang tidak selalu terjangkau oleh nalar, serta meraih ilmu pengetahuan yang lahir dari perpaduan akal, pengalaman, dan spiritualitas. Dalam kesunyian itulah manusia berusaha menemukan cinta dan kasih sayang Tuhan.

Tradisi pertapahan telah ada sejak masa para nabi. Dalam sejarah spiritual umat manusia, banyak nabi yang melakukan perenungan mendalam dalam kesunyian.

Nabi Ibrahim dikenal melakukan perenungan di Gua Urfa. Nabi Musa bertafakur di Gunung Sinai. Nabi Isa berdoa dan menyendiri di Bukit Zaitun. Sementara Nabi Muhammad SAW melakukan khalwat di Gua Hira, di Jabal Nur.

Dalam kesunyian dan pertapahan itulah para nabi menerima wahyu ilahi yang kemudian menjadi petunjuk bagi umat manusia. Kitab-kitab suci hadir sebagai pedoman tentang eksistensi manusia, tentang alam semesta, serta tentang jalan untuk mengenal Tuhan. Wahyu tersebut membawa manusia melampaui batas nalar menuju pemahaman yang lebih luas tentang kehidupan.

Pertapahan Era Yunani Kuno

Tradisi menyepi untuk mencari pengetahuan juga dikenal dalam peradaban Yunani Kuno. Para filsuf besar seperti Plato, Socrates, Aristoteles, dan Empedocles menjalani kehidupan intelektual yang sarat dengan kontemplasi.

Bagi para filsuf ini, pertapahan adalah bentuk pengasingan diri dari keramaian kota Athena. Mereka memilih hidup sederhana, menjauh dari hiruk pikuk sosial, bahkan melakukan puasa dari berbagai kenikmatan duniawi. Sebagian di antaranya mengasingkan diri ke tempat sunyi seperti pegunungan dan kawasan terpencil.

Dalam kesunyian itu lahir pemikiran-pemikiran besar tentang alam semesta, logika, matematika, dan filsafat. Gagasan mereka kemudian menjadi fondasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Pertapahan Ilmuwan Islam Abad Pertengahan

Pada era peradaban Islam, tradisi intelektual yang mendalam juga berkembang melalui para ilmuwan besar. Tokoh-tokoh seperti Al-Khwarizmi, Umar Khayyam, Al-Battani, Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Biruni, dan Abu Al-Wafa dikenal sebagai ilmuwan yang tekun dalam penelitian dan pengamatan.

Mereka menjauh dari hiruk pikuk istana dan keramaian kota untuk berkonsentrasi pada ilmu pengetahuan. Di ruang-ruang observatorium, mereka meneliti pergerakan bintang, bulan, dan planet. Mereka mengembangkan matematika, astronomi, kimia, kedokteran, hingga geografi.

Dari “pertapahan intelektual” itu lahir berbagai karya monumental. Mereka memperkenalkan konsep angka nol, mengembangkan aljabar, menghitung keliling bumi dengan cukup akurat, hingga merintis ilmu kedokteran dan bedah modern.

Para ilmuwan Islam juga mengkaji karya-karya filsuf Yunani, lalu mengembangkannya melalui pendekatan ilmiah yang lebih sistematis. Pemikiran mereka kemudian menjadi inspirasi bagi kebangkitan intelektual Eropa pada masa Renaisans.

Setelah era Renaisans sekitar abad ke-16, dunia Barat memasuki masa perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat. Para ilmuwan seperti Isaac Newton, Albert Einstein, Marie Curie, Nikola Tesla, Galileo Galilei, Thomas Alva Edison, hingga Stephen Hawking menjalani kehidupan penelitian yang panjang dan penuh dedikasi.

Mereka mungkin tidak bertapa di gua atau gunung, tetapi menjalani “pertapahan” di laboratorium. Berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, mereka meneliti, bereksperimen, dan mengamati berbagai fenomena alam.

Dari proses panjang itu lahirlah berbagai penemuan besar yang kini menjadi fondasi peradaban modern: energi listrik, teknologi komunikasi, komputer, satelit, transportasi modern, teknologi medis, hingga eksplorasi luar angkasa.

Peradaban modern yang kita nikmati hari ini sesungguhnya merupakan buah dari pertapahan ilmiah para ilmuwan tersebut.

Lalu bagaimana dengan generasi kita di Nusantara?

Indonesia adalah negeri yang kaya akan sumber daya alam, flora, dan fauna. Negeri yang sering disebut sebagai serpihan surga di muka bumi. Namun pertanyaan penting yang harus kita renungkan adalah: apakah generasi kita juga menjalani “pertapahan” intelektual seperti para nabi, filsuf, dan ilmuwan terdahulu?

Apakah generasi kita bersedia menyepi dari keramaian kota untuk menekuni ilmu? Bersedia berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun meneliti di laboratorium, melakukan observasi di alam, membaca karya-karya besar dunia, dan mengembangkan pengetahuan baru?

Pertanyaan berikutnya, apakah generasi kita sungguh-sungguh mengkaji warisan pemikiran dari peradaban Yunani, ilmuwan Islam, hingga ilmuwan modern untuk kemudian mengembangkannya menjadi inovasi baru bagi kemaslahatan umat manusia?

Tantangan Generasi Kini

Kenyataannya, kita masih menghadapi berbagai tantangan budaya intelektual. Minat membaca masih rendah. Kecintaan terhadap perpustakaan, laboratorium, dan riset belum menjadi budaya yang kuat. Semangat melakukan eksperimen dan observasi ilmiah juga belum tumbuh secara luas.

Jika kondisi ini terus berlanjut, maka kita berisiko hanya menjadi pengguna teknologi, bukan pencipta peradaban. Kita akan menjadi penonton di tengah kemajuan negara-negara maju.

Akibatnya, kita akan sulit keluar dari jebakan middle income trap dan sulit mewujudkan cita-cita besar Indonesia Emas 2045.

Semua ini terjadi karena generasi kita belum sepenuhnya mampu “berpuasa” dari gemerlap kehidupan instan di kota-kota besar.

Ramadhan 1447 Hijriah berlangsung di tengah dinamika geopolitik dunia. Konflik dan ketegangan antara negara-negara besar memperlihatkan bagaimana teknologi persenjataan modern digunakan di medan perang.

Rudal, roket, dan berbagai sistem senjata canggih yang kita lihat bukanlah produk instan. Di baliknya ada proses panjang penelitian, eksperimen, dan pengembangan teknologi yang dilakukan bertahun-tahun oleh para ilmuwan.

Dengan kata lain, yang kita saksikan bukan sekadar konflik militer, tetapi juga pameran kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibangun melalui riset panjang.

Di penghujung Ramadhan 1447 Hijriah ini, semoga refleksi tentang pertapahan menjadi inspirasi bagi generasi baru Indonesia.

Pertapahan tidak harus selalu berarti menyepi di gua atau gunung. Dalam konteks modern, pertapahan dapat dimaknai sebagai kesungguhan menekuni ilmu pengetahuan, riset, eksperimen, dan pengembangan teknologi.

Generasi yang mampu “berpuasa” dari keramaian yang tidak produktif, lalu memusatkan energi pada pencarian ilmu, adalah generasi yang akan membuka jalan menuju Indonesia Emas 2045.

Karena sejatinya, peradaban besar selalu lahir dari kesunyian para pencari ilmu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....