Resistensi Iran terhadap Amerika dan Israel

  • 02 Mar 2026 14:05 WIB
  •  Ternate

Oleh: Yanuardi Syukur,

Dosen Antropologi Universitas Khairun

Resistensi Iran terhadap Amerika Serikat dan Israel berakar dalam sejarah panjang yang penuh luka dan pengkhianatan. Sebelum Revolusi Islam 1979, Iran dan Amerika sebenarnya menjalin hubungan hangat—Iran menjadi sekutu dekat Amerika, membeli miliaran dolar persenjataan canggih, dan bekerja sama dalam program nuklir sipil.

Namun kudeta CIA-MI6 terhadap Perdana Menteri Mohammad Mossadegh pada 1953 mengubah segalanya. Amerika yang semula dianggap sebagai "kekuatan ketiga" yang dapat diandalkan, tiba-tiba menjadi dalang di balik jatuhnya pemimpin nasionalis yang demokratis. Luka sejarah ini menjadi memori kolektif yang terus diwariskan lintas generasi, membentuk fondasi ideologis perlawanan Iran terhadap apa yang mereka sebut "Setan Besar."

Pengalaman pahit ini diperdalam oleh perang delapan tahun melawan Irak di era 1980-an, ketika negara-negara Barat mendukung Saddam Hussein. Ayatollah Ali Khamenei, yang saat itu menjabat presiden, mengalami langsung isolasi internasional dan pengkhianatan Barat. Kecurigaan mendalam terhadap Amerika kemudian menjadi ciri khas kepemimpinannya selama hampir empat dekade. Sebagai “a challenge to power or domination” (Wright, 2016), khususnya Barat, dari pengalaman itu kemudian melahirkan tiga strategi utama resistensi Iran yang terus berkembang hingga kini.

Pertama, resistensi simbolik dan ideologis. Di level paling fundamental, Iran membangun perlawanan melalui produksi simbol dan wacana yang terus dipelihara. Peringatan Hari Quds setiap Ramadhan menjadi panggung utama di mana jutaan warga turun ke jalan meneriakkan "Marg bar Amrika" (mampus Amerika) dan "Marg bar Esra'il" (mampus Israel). Para pemimpin tertinggi secara rutin menyebut Israel sebagai "tumor kanker" yang harus dihancurkan, sementara Amerika dituding sebagai dalang konspirasi global.

Ini adalah pertunjukan perlawanan yang sengaja ditampilkan ke permukaan untuk membangun solidaritas internal dan menegaskan identitas politik. Namun di balik itu, ada juga negosiasi diam-diam, kontak diplomatik rahasia, bahkan kerja sama intelijen yang tak pernah diakui di depan publik. Strategi simbolik ini berfungsi ganda, yakni memobilisasi dukungan domestik sekaligus menciptakan ruang manuver diplomatik yang luwes.

Kedua, resistensi proksi dan jaringan. Inilah strategi paling cerdik yang dikembangkan Iran. Melalui “poros perlawanan” (axis of resistance). Menurut Fatima Al-Kassab dalam tulisannya “What is the 'axis of resistance' of Iran-backed groups in the Middle East?” (NPR, 26/10/2023), istilah "poros perlawanan" diyakini muncul sebagai respons terhadap penggunaan istilah "poros kejahatan" oleh Presiden George W. Bush—yang merujuk pada Iran, Irak, dan Korea Utara—dalam pidato Kenegaraan tahun 2002 .

Jaringan perlawanan tersebut membentang dari Lebanon (Hizbullah), Suriah, Palestina (Hamas dan Jihad Islam), hingga Yaman (Houthi)—Iran mampu memproyeksikan kekuatan tanpa terlibat langsung dalam perang terbuka. Hizbullah menerima pelatihan dan persenjataan canggih dari Iran, menjadi kekuatan militer yang mampu mengimbangi Israel di Lebanon Selatan. Hamas pun secara terbuka mengakui dukungan finansial dari Teheran.

Strategi proksi ini memungkinkan Iran tetap di belakang layar, menghindari tanggung jawab langsung, namun menjaga tekanan konstan terhadap Israel. Ini adalah perlawanan jarak jauh yang memanfaatkan jaringan dan solidaritas ideologis lintas batas, sulit dipatahkan dengan serangan militer konvensional.

Ketiga, resistensi teknologis dan diplomatik. Iran mengembangkan program nuklir dan rudal balistik sebagai instrumen tawar-menawar paling kuat. Program nuklir, meski diklaim untuk tujuan damai, telah menjadi kartu negosiasi utama dalam berhadapan dengan Barat. Setelah Amerika keluar dari kesepakatan nuklir 2015, Iran secara bertahap meningkatkan pengayaan uranium hingga melampaui batas yang disepakati.

Merujuk The Straits Times (2/3/2026), perkembangan nuklir Iran menunjukkan kemajuan signifikan meskipun menghadapi serangan dari Israel atau AS. Terakhir kali inspektur IAEA mengakses cadangan uranium Iran, negara itu telah mengumpulkan 441kg uranium yang diperkaya hingga 60 persen—peningkatan lebih dari 50 persen sejak Februari 2025. Jumlah ini secara teknis cukup untuk menghasilkan sekitar selusin bom nuklir jika diproses lebih lanjut menjadi tingkat senjata (90 persen).

Meskipun fasilitas pengayaan di Isfahan rusak akibat serangan Israel pada Juni 2025 dan Februari 2026, Iran masih memiliki pengetahuan teknis untuk memperkaya uranium. Pengayaan hingga 60 persen sendiri sudah dapat digunakan untuk bom sederhana meskipun dengan daya ledak lebih rendah. “Kemungkinan besar Iran sudah memiliki pengetahuan teknis untuk memproduksi perangkat ledak tipe rakitan senjata sederhana, seperti yang dijatuhkan Amerika Serikat di Hiroshima, Jepang, pada tahun 1945,” tulis The Straits Times.

Bisa dikatakan bahwa lewat nuklir, Iran melakukan perlawanan melalui asymmetric bargaining, yakni memaksa lawan kembali ke meja perundingan dengan meningkatkan biaya dari ketiadaan kesepakatan. Pengembangan rudal hipersonik yang diklaim mampu menembus Iron Dome menunjukkan Iran tidak tinggal diam. Teknologi menjadi medan perlawanan baru di mana sanksi dan embargo terbukti tak mampu menghentikan ambisi strategis Iran.

Ketiga strategi ini sifatnya saling menguatkan. Resistensi simbolik memberi legitimasi ideologis bagi strategi proksi, sementara keberhasilan proksi di lapangan memperkuat narasi simbolik tentang kejayaan perlawanan. Resistensi teknologis memberikan daya tawar diplomatik yang melindungi ruang gerak kedua strategi sebelumnya. Ketiganya menunjukkan ketahanan luar biasa meski menghadapi serangan dekapitasi bertubi-tubi.

Pada Juni 2025 dan Februari 2026, Israel dan Amerika melancarkan serangan besar-besaran. Panglima IRGC Hossein Salami tewas dalam serangan pertama. Pada 28 Februari 2026, serangan gabungan berhasil menewaskan Ayatollah Ali Khamenei di kompleks kediamannya di Tehran, bersama putri, menantu, dan cucunya.

Dalam logika militer konvensional, ini adalah pukulan telak yang seharusnya melumpuhkan musuh. Namun perlawanan tidak pernah mati—ia terus bergerak dan beradaptasi. Iran segera menunjuk pengganti, sistem kaderisasi berjalan cepat, dan solidaritas nasional justru berpotensi menguat. Dekapitasi terbukti kontra-produktif karena memperkuat sentimen nasionalistik dan memicu regenerasi kepemimpinan yang lebih militan.

Kelihatannya, masa depan relasi Iran dengan Amerika dan Israel akan ditentukan oleh bagaimana ketiga strategi ini merespons tekanan eksternal dan dinamika internal pasca-Khamenei. Mungkin terjadi penyesuaian taktis, yaitu bergeser dari konfrontasi terbuka ke manuver diplomatik yang lebih halus, dari retorika keras ke negosiasi diam-diam. Namun penyesuaian taktis bukan akhir dari resistensi. Fondasi yang dibangun Khamenei selama hampir empat dekade—jaringan proksi yang tersebar, program teknologi strategis, dan narasi ideologis yang mengakar—tampaknya tidak akan lenyap dalam semalam.

Kekuatan militer memang dapat menghancurkan infrastruktur, tetapi tidak dapat menghapus nasionalisme dan semangat suatu bangsa. Tiga strategi resistensi Iran tersebut membuktikan bahwa dalam politik internasional, kecerdikan strategis tidak pernah bisa dibungkam oleh bom maupun rudal. Khamenei telah gugur, tetapi “axis of resistance" yang ia bentuk akan terus bergerak, karena mereka ingin dunia yang adil, setara dan saling menghormati. Maka, selama ketidakadilan masih ada, akan terus terjadi perlawanan, seperti pesannya: revolusi tidak bergantung pada individu, tetapi pada ideologi dan jalan yang telah dipilih.

Rekomendasi Berita