Inovasi Humanis Dikbud Malut, Katalisator Pendidikan yang Membumi

  • 18 Jul 2025 18:37 WIB
  •  Ternate

Model Pendidikan Inklusif di Maluku Utara

Oleh: Gamal Marinyo (Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Islam, Universitas K.H Abdul Chalim)

"Ing ngarsa sung tuladha" — di depan memberi teladan (Ki Hajar Dewantara)

KBRN, Ternate: Pendidikan adalah cahaya yang menuntun suatu daerah menuju kemajuan. Di tengah arus perubahan yang terus bergerak cepat, Provinsi Maluku Utara tengah menapaki jalan baru untuk membangun masa depan pendidikan yang lebih inklusif, manusiawi, dan relevan dengan kebutuhan zaman. Jalan ini tidak hanya dibangun dari kebijakan dan infrastruktur, tetapi juga dari kehadiran nyata para pemimpin yang bersentuhan langsung dengan denyut kehidupan sekolah.

Salah satu potret dari semangat baru ini tergambar saat hari pertama masuk sekolah, ketika Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara, Dr. Abubakar Abdullah, menyambut langsung para siswa di gerbang SMA Negeri 5 Kota Ternate. Bukan sekadar kunjungan seremonial, tetapi sebuah penanda arah baru: pendidikan yang dimulai dari gerbang, dari sapaan hangat, dari keteladanan.

Kehadiran langsung seorang pejabat di hari pertama sekolah adalah simbol dari pendekatan pendidikan yang lebih membumi. Ia menegaskan bahwa sekolah bukanlah menara gading yang jauh dari realitas sosial, melainkan rumah besar tempat semua anak bangsa layak mendapat perhatian dan penguatan. Dari gerbang sekolah, masa depan dijemput. Di sana, pemimpin pendidikan hadir, menyapa, dan memastikan tak satu pun anak tertinggal.

Pendekatan humanis dan inklusif bukanlah jargon kosong. Gagasan ini telah lama digaungkan oleh para pemikir besar seperti Carl Rogers dan Abraham Maslow, yang menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan dasar peserta didik rasa aman, penghargaan, dan aktualisasi diri sebagai fondasi pembelajaran yang bermakna. Rogers bahkan menegaskan bahwa peran guru bukan sebagai penguasa kelas, tetapi fasilitator yang menciptakan ruang belajar yang suportif dan terbuka.

Dalam konteks ini, kehadiran pemimpin pendidikan di lapangan—berdialog dengan siswa, mendengar guru, dan merespons kepala sekolah menjadi bentuk nyata dari interaksi edukatif, sebagaimana dikemukakan Djamarah. Interaksi ini bukan sekadar komunikasi satu arah, tetapi hubungan yang diikat oleh komitmen bersama untuk mencapai pendidikan yang bermutu dan manusiawi.

"Ruang Cataly1st": Demokratisasi Komunikasi Pendidikan

Terobosan lain yang layak diapresiasi adalah peluncuran "Ruang Cataly1st", sebuah forum komunikasi terbuka antara guru jenjang SLB, SMA, dan SMK dengan pemangku kebijakan di tingkat provinsi. Inisiatif ini tidak hanya menjembatani aspirasi dan keluhan guru, tetapi juga menjadi ruang dialog partisipatif yang mendorong tata kelola pendidikan yang lebih kolaboratif dan responsif terhadap dinamika lapangan.

Forum ini mencerminkan semangat ethics of care dalam pendidikan yang dikemukakan Nel Noddings—pendidikan yang dibangun atas dasar kepedulian, empati, dan hubungan antarpribadi. Bagi Noddings, pendidikan yang bermakna bukan sekadar mencetak generasi unggul secara akademis, melainkan membentuk manusia yang peduli dan mampu hidup bersama dalam semangat kasih sayang dan keadilan.

Apa yang sedang terjadi di Maluku Utara adalah upaya membangun pendidikan dari akar. Ini adalah bentuk kepemimpinan yang tidak mengandalkan instruksi dari balik meja, melainkan keteladanan yang hadir di tengah-tengah masyarakat pendidikan. Anak-anak membutuhkan figur yang bisa mereka lihat dan rasakan kehadirannya. Guru membutuhkan pemimpin yang bukan hanya menandatangani surat edaran, tetapi yang memahami jerih payah mereka di kelas.

Melalui pendekatan seperti ini, Dr. Abubakar Abdullah bersama Gubernur Sherly Laos dan Wakil Gubernur Sarbin Sehe sedang menghidupkan kembali semangat pasal 31 UUD 1945 dan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional: bahwa pendidikan adalah hak semua warga negara, dan pemerintah wajib menyelenggarakannya secara adil dan merata.

Menyemai Harapan dari Gerbang Sekolah

Tantangan pendidikan di Maluku Utara tentu tidak ringan. Jalan panjang masih harus ditempuh. Namun, langkah-langkah kecil yang penuh ketulusan seperti menyambut siswa di gerbang sekolah, membangun ruang dialog bersama guru, dan menghadirkan kebijakan yang menyentuh realitas lapangan adalah fondasi dari perubahan yang sejati.

Sudah saatnya kita membangun pendidikan bukan dari menara birokrasi, tetapi dari pelukan hangat di gerbang sekolah, dari ruang kelas yang hidup, dan dari percakapan yang setara antara guru dan pengambil kebijakan. Karena sesungguhnya, setiap anak yang disambut dengan hangat di hari pertama sekolah adalah benih masa depan yang tengah tumbuh dalam pelukan harapan bangsa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....