Wo Wa Tarian Perang Desa Ploly Pulau Makian

  • 25 Mei 2025 17:59 WIB
  •  Ternate

Oleh: Rustam Hasim

Ketua Program Sudi S2 Ilmu Pengatahuan Sosial Unkhair

Tarian wo wa dalam bahasa Ploly berarti tari perang. Tarian wo-wa muncul pada masa pemerintahan Sultan Ternate Mandar Sjah (Sultan ke-22) yang berkuasa pada periode 1648-1650. Menurut legenda bahwa tarian wo-wa adalah tarian yang digunakan untuk menaklukan pemberontakan yang dilakukan oleh Kapita Takome (panglima perang) yang berada di wilayah Sulamadaha. Kapita Takome dengan pengikutnya menunjukan sikapnya yang tidak loyal dan mendeklarasikan perang terhadap Kesultanan Ternate. Untuk mengatasi pemberontakan tersebut maka dikirimlah pasukan dari Pulau Makian yang dipimpin oleh Kapita Peleri (Ploly).

Tarian wo wa yang dipraktekkan oleh masyarakat Ploly yang menggambarkan cara berperang, melindungi dan mempertahankan diri dari musuh, juga menunjukan kebersamaan dan kekompakan dalam menghadapi musuh demi menjaga keutuhan dan kehormatan masyarakat yang disebut oleh Emile Durkheim sebagai solidaritas sosial. Solidaritas sosial merupakan suatu keadaan hubungan antara individu atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama serta diperkuat oleh pengalaman emosional bersama.

Tarian wo wa memiliki keunikan tersendiri bila dibandingkan dengan tarian perang lainya di Maluku Utara seperti Tarian Soya-soya, Cakalele, Saro-sero yang di tarikan secara berpasangan dan tempat tarinya di daratan. Sementara tarian wo wa semua penarinya adalah laki-laki dengan jumlah peserta dari 24 sampai 99 orang yang ditampilkan di atas perahu kora-kora (perahu perang). Kora-kora adalah sejenis perahu besar bercadik kembar berganda dan bertiang tiga yang digerakkan dengan dayung atau layar. Di dalam perahu ini terdapat tempat duduk para pendayung dan dapat menampung 40-100 orang dengan panjang kira-kira 8-9 meter dan sangat sempit mirip dengan perahu Naga Cina.

Para penari menggunakan atribut perang yaitu pedang, tombak, dan salawaku. Menurut beberapa sumber, jika tarian wo wa di petaskan sebagai sarana hiburan saja maka pedang di ganti dengan daun woka(daun enau). Selain itu tarian ini menggunakan beberapa alat musik yaitu; tifa dan gala (seruling). Terdapat beberapa orang yang menggunakan kedua alat tersebut dalam guna mengiringi para pasukan yang berada di perahu kora-kora. Pada saat pelaksanaan para penari dibagi menjadi 4 kelompok dan setiap kelompok atau formasi berada di setiap tanjung yang ada di Pulau Makian.

Hal ini berhubungan pada masa lampau yaitu untuk menangkap Kapita Takome yang berdomisili di Ternate maka dibentuk 4 kelompok pasukan perang yang berasal dari 4 suku atau tanjung. Formasi perang yang dimaksud dalam tari adalah; (1). Formasi Peleri Bunga Madehe. (2).Formasi Sabale Biji Madehe. (3). Formasi Mataketen Bobo Madehe, dan (4). Formasi Wailoa Jambula Madehe. Dalam sejarahnya formasi ini mewakili beberapa tanjung yang berada di Pulau Makian yang menjadi bagian dalam penyerangan Kapita Takome disaat itu. Dan setiap kelompok dipimpin oleh satu ketua kelompoknya.

Pakaian yang digunakan untuk tarian tersebut yakni warna kuning dan warna hijau. Warna kuning melambangkan kesultanan Ternate dan hijau melambangkan kesultanan Bacan. Apa bila baju berwana dasar kuning maka warna celananya menggunakan warna hijau, sebaliknya jika warna dasar baju hijau maka warna celana menggunakan warna kuning. Penggunaan kedua warna tersebut sebagai simbol bahwa masyarakat Desa Ploly dapat diterima sebagai kaula Kesultanan Ternate dan Bacan. Hal ini dapat dijelaskan bahwa dalam Desa Ploly di Pulau Makian adalah pusat Kesultanan Bacan yang pertama sebelum pindah ke Pulau Bacan. Sejak perpindahan pusat pemerintahannya di Pulau Bacan, maka Desa Ploly itu menjadi daerah kekuasaan Kesultanan Ternate dan tetapkan Kapita Ploly sebagai salah satu penglima perang dari Kesultanan Ternate dari zaman dahulu hingga sekarang.

Pengunaan kedua warna tersebut merupakan identitas yang sering digunakan oleh masyarakat Desa Ploli pada acara-acara adat di Pulau Makian. Sementara itu penutup kepala yang dipakai adalah kopiah berwarna hitam. Selain itu bendera dan umbul-umbul (panji) yang dipasang di perahu kora-kora dalam pelaksanaan tarian wo wa terdapat 4 buah warna yang mewakili atau menjadi simbol dari empat kesultanan di Maloko Kie Raha (Kesultanan Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo). Warna Kuning mewakili Kesultanan Ternate, Warna hitam mewakili Kesultanan Tidore, warna hijau mewakili Kesultanan Bacan, dan warna merah mewakili Kesultanan Jailolo.

Sebagai tarian perang, tarian wo wa memeliki nilai kesakralan yang tinggi, oleh karena itu selalu di gunakan dalam upacara adat. Upacara adat memiliki fungsi spiritual karena upacara adat mampu membangkitkan emosi keagamaan, menciptakan rasa aman, tentram dan selamat. Upacara adat memiliki tujuan agar semua yang menyaksikan upacara adat dapat memperoleh atau menyerap pesan-pesan yang disampaikan dalam upacara tersebut. Dalam hal ini, upacara adat bisa dipakai sebagai kontrol sosial, interaksi, integrasi dan komunikasi antar warga masyarakat, yang pada akhirnya dapat mempererat hubungan antar masyarakat.

Dalam perkembangannya, tarian wo-wa dikembangkan hingga menjadi salah satu kesenian rakyat yang popular mulai dari Pulau Makian sampai dengan Kepulauan Bacan di Halmahera Selatan. Pada masa kini wo-wa dijadikan sebuah tarian masal dan diajarkan kepada generasi muda mulai dari tingkat sekolah dasar. Tari wo-wa dengan perahu Kora-kora sangat erat kaitannya, yaitu sama- sama dikaitkan dengan makna “perang”.

Hal ini disebabkan Maluku Utara memiliki sejarah perang dalam memerangi penjajahnya seperti dilakukan oleh Kesultanan Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo, sehingga banyak aspek sejarah yang terjadi yang menimbulkan sisi tradisi dan budaya di daerah tersebut. Dengan demikian tarian wo wa yang digunakan untuk menunjukkan adanya relasi dan konstruksi kekuasaan dalam setiap pelaksanaannya. Tarian wo wa berhubungan dengan perang yang menunjukan kekuatan sekaligus menyiratkan adanya relasi kuasa dan konstruksi kuasa dalam tarian tersebut.

‘Proses Pelaksanaan Tarian Wo Wa’

Tarian wa wo dimulai dari jembatan Desa Ploly (semacam pelabuhan) yang dikenal dengan nama jembatan Kapita Peleri. Sebelum rombongan para penari perahu kora-kora masing-masing, Imam Masjid yang bergelar modem (bobota Akhirat) akan membacakan doa keselamatan di jembatan ini. Usai berdoa, Para penari menaiki perahu kora-kora masing-masing. Jumlah perahu kora-kora sebanyak 4 buah yang berasal dari empat kelompok atau formasi yaitu (1). Kelompok Peleri Bunga Madehe, (2). Sabale Biji Madehe, (3). Kelompok Mataketen Bobo Madehe, (4). Kelompok Wailoa Jambula Madehe. Formasi ini mewakili beberapa tanjung yang berada di Pulau Makian yang menjadi bagian dalam penyerangan Kapita Takome disaat itu. Dengan jumlah personil mulai dari 24 sampai 99 orang.

Dalam tarian ini penggunaan perahu kora-kora sebagai armada perang. Di bagian dalam belang dipancangkan bendera-bendera dari 4 Kesultanan tersebut berasal. warna kuning mewakili Kesultanan Ternate, warna hitam mewakili Kesultanan Tidore, warna hijau mewakili Kesultanan Bacan, dan warna merah mewakili Kesultanan Jailolo. Selain itu juga, pada bagian depan dan belakang belang, dihias pula dengan bendera. Jumlah pendayung atau penari pada setiap perahu kora-kora yaitu 30 - 40 orang, ditambah dengan seorang juru mudi dan seorang natu (navigator). Di bawah masing- masing bendera yang terpancang berdiri satu orang, yaitu ketua adat dan kapitan.

Tarian dimulai dengan mengelilingi perahu kora-kora sebanyak 3 (tiga) kali. Setelah ditumpangi para penari, iring-iringan tersebut mulai mengelilingi Desa Ploly sebanyak 7 kali melalui arah utara. Untuk meramaikan suasana, tiap perahu dilengkapi dengan alat musik tifa, gong, dan fiol (alat musik gesek). Dalam perjalanan mengelilingi Desa Ploly, para penari akan berhenti di 3 (tiga) tempat untuk melakukan tabor bunga dan memanjatkan doa. Ritual ini merupakan bentuk penghormatan terhadap para leluhur penduduk Ploly.

Dalam pelaksanaan tarian wo wa memiliki 4 bentuk gerakan atau formasi yaitu (1). Formasi Suba (sembah dengan mengunakan kedua telak tangan). Formasi ketika para penari /pasukan dalam posisi mengambil posisi berbaris pada masing-masing perang Kora-Kora. Suba adalah salam kepada para Kapita atau pemimpin. Diiringi tifa dan gong para penari/pasukan memegang pedang dan salawaku ditangan kiri, kemudian para pasukan/penari membungkukkan diri untuk memberikan salam. Hal ini memperlihatkan kepatuhan dan ketundukkan pasukan kepada pemimpinnya. (2). Formasi Kakarai Silang.

Kakarai Silang adalah gerakan memotong di bagian atas dan memotong bagian samping. Gerakan ini dilakukan secara monoton secara bersamaan dalam setiap penari/pasukan. Karena tari ini dipentaskan di atas perahu maka gerakannya tidak begitu leluasa. (3). Formasi Kakarai Atas dan Bawah. Formasi Kakarai atas dan bawah adalah gerakan potong atas dan bawah sebagai gerakan dasarnya. Gerakan dasar dari tari hanya sebatas menggoyangkan pedang di kanan kepala bagian tas sebagai gerakan memotong lawan dan berupa tangkisan dari serangan musuh. Sementara untuk salawaku (tameng) menjadi salah satu alat yang dipakai dalam tari wo wa. Salawaku digerakan kakarai atas dan bawah ini hanya sebatas menangkis dari serangan lawan. (4). Formasi penutup dari tari wo wa adalah melakukan sergapan untuk menangkap musuh.

Gerakan dalam Tari wow a biasanya didominasi oleh gerakan tangan memainkan pedang. Pada tangan kiri memegang tameng (salawaku). Serta gerakan kaki diayunkan ke depan dan gerakan kaki menyilang. Dalam Tarian ini biasanya terbagi menjadi beberapa bagian tari, dan setiap bagian tersebut tentu memiliki makna khusus di dalamnya.

‘Makna dan Nilai’

Tarian wo wa memiliki peran yang sangat penting, baik itu dalam upacara adat dalam masyarakat Ploly Kecamatan Pulau Makian. Tarian mempunyai beberapa tujuan yaitu, sebagai upacara untuk mendapatkan keselamatan dan perlindungan, sebagai tari hiburan seperti tarian pergaulan muda-mudi, sebagai media pendidikan dan lain sebaginya.

Pelaksanaan tarian wo wa dapat memupuk rasa persaudaraan dan menumbuhkan nilai-nilai luhur yang penting bagi masyarakat Ploli Kecamatan Pulau Makian. Tujuan umum dari upacara adat adalah untuk membentuk individu dan masyarakat yang berbudi pekerti luhur. Secara khusus, upacara adat dilakukan sebagai wujud penghormatan dan penghargaan. rasa cinta, hormat, dan bakti.

Tarian wo wa merupakan tarian tradisional yang berasal dari Desa Ploly Kecamatan Pulau Makian. Tarian ini melambangkan sebuah kepahlawanan dan kegagahan dari rakyat Ploly. Tarian Perang dilakukan untuk memberikan semangat dan membangkitkan keberanian para pasukan yang akan bertempur.

Tari Perang dibawakan oleh penari pria berpakaian adat dan membawa panah sebagai atribut menarinya. Dahulu tarian wo wa hanya dipertunjukkan ketika kapita (panglima perang) memerintahkan prajurit untuk berperang, namun sekarang tarian ini difungsikan sebagai tari pertunjukan atau tari penyambutan.

Sampai skarang tarian wo wa merupakan identitas budaya masyarakat Desa Ploly yang eksistensinya sudah lama dan tumbuh selama ratusan tahun lamanya. Tarian wo wa mengajarkan kepada masyarakat tentang nilai pertriotisme dan semangat hidup masyarakat dengan motivasi yang tinggi. Tarian wo wa merupakan salah satu bentuk tarian kehormatan yang selalu digunakan dalam peristiwa kebudayaan masyarakat Desa Ploly, karena tarian ini selalu digunakan sebagai tarian penyambut para tamu kehormatan. Oleh karena itu Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan perlu mengusulkan Tarian wo wa sebagai Warisan Budadaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.

Dalam upacara juga terkandung nilai- nilai luhur yang sebenarnya ditujukan untuk menuntun masyarakat agar menjadi pribadi yang beradab dan berbudaya. Dalam semua hubungan itu, maka keseimbangan antara hak dan kewajiban harus dijunjung tinggi. Artinya masyarakat harus berupaya mengenal hak dan menikmatinya secara wajar, mengetahui kewajibannya dalam menunaikan sebaik-baiknya. Jadi intinya, keseimbangan antara hak dan kewajiban merupakan inti dari keharmoni suatu masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....