TRUMP dan Perang Dagang Global: Tantangan bagi Negara Berkembang

  • 09 Apr 2025 12:57 WIB
  •  Ternate
  • Oleh: Dr. Asrul Gailea
    Pemerhati Masalah Sosial Ekonomi
  • “Ekonomi adalah sistem yang dinamis. Inovasi dan kewirausahaan adalah kunci pertumbuhan, dan negara harus aktif dalam mendukung keduanya.” – Joseph Schumpeter

    “Pasar tidak selalu stabil. Investasi dan konsumsi adalah motor pertumbuhan, dan negara wajib hadir untuk menjaga keseimbangan.” – John Maynard Keynes

    KBRN, Ternate: Kebijakan ekonomi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengusik stabilitas perdagangan global. Di periode keduanya memimpin Amerika pada 2025 ini, Trump menerapkan tarif bea masuk terhadap barang impor dari lebih 160 negara. Ironisnya, negara-negara berkembang dan miskin menjadi korban utama dari kebijakan proteksionis ini, dengan tarif yang mencapai hingga 50 persen.

    Dalam sejarahnya, Trump memang dikenal kontroversial. Mulai dari kebijakan imigrasi yang keras, pemindahan ibu kota Israel ke Yerusalem yang menyulut konflik, hingga pembangunan tembok pembatas dengan Meksiko. Kini, lewat perang dagang, Trump kembali menunjukkan wajah nasionalisme ekonominya yang agresif.

    • Tarif Tidak Adil, Negara Berkembang Menjadi Korban

    Tarif impor yang diberlakukan Amerika di bawah Trump sangat timpang. Negara-negara seperti Vietnam (46%), Kamboja (49%), Bangladesh (37%), dan Indonesia (32%) dikenakan tarif jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara maju yang hanya dikenakan tarif 10–15 persen. Ini jelas menunjukkan ketimpangan global yang semakin tajam di bawah kepemimpinan Trump.

    Amerika Serikat melalui kebijakan ini seolah ingin menegaskan kembali posisinya sebagai pusat kekuatan ekonomi dan politik global. Pesan yang ingin disampaikan Trump sangat jelas: “Tanpa Amerika, dunia tidak berjalan.” Dengan dominasi mata uang, teknologi, hingga militer, Trump memainkan kekuatan itu untuk memaksa negara lain tunduk pada kepentingan nasionalnya.

    • Perlawanan dari China dan Uni Eropa

    Namun dunia tidak tinggal diam. China dan Uni Eropa telah bersiap melakukan perlawanan. Uni Eropa, yang notabene mitra strategis dan anggota koalisi NATO, merespons dengan ancaman tarif balasan terhadap barang-barang ekspor Amerika. Sementara China, yang selama ini menjadi rival ekonomi utama AS, memberlakukan tarif hingga 25% terhadap komoditas utama Amerika seperti batu bara, gas alam cair, dan produk pertanian.

    Data perdagangan menunjukkan, neraca ekspor-impor antara China dan AS sangat timpang. Pada 2024, ekspor China ke Amerika mencapai $438 miliar, sementara ekspor AS ke China hanya $147 miliar. Trump memanfaatkan celah defisit ini sebagai alasan untuk meningkatkan tarif, namun tanggapan China justru memperkuat tensi perang dagang global.

    • Tantangan dan Peluang bagi Indonesia

    Bagi Indonesia, kebijakan ini jelas membawa tantangan besar. Tarif 32% yang dikenakan oleh AS terhadap produk ekspor kita bukan hanya ancaman bagi pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga sinyal kuat agar kita tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pasar luar negeri, terutama Amerika.

    Dua ekonom besar, Schumpeter dan Keynes, sepakat bahwa peran pemerintah sangat vital dalam menjaga stabilitas ekonomi. Pemerintah Indonesia harus cepat mengambil langkah strategis, mulai dari memperkuat inovasi dan hilirisasi industri, hingga mengurangi ketergantungan impor. Pengelolaan sumber daya alam yang efisien dan pembangunan SDM yang berkualitas harus menjadi fokus utama.

    Penguatan ekonomi nasional tidak bisa ditunda. Diversifikasi pasar ekspor, dukungan terhadap UMKM, efisiensi birokrasi, serta perlindungan investasi harus dijalankan secara konsisten. Pemerintah juga perlu membuka ruang renegosiasi dengan Amerika Serikat untuk mendapatkan keadilan tarif dan melindungi sektor-sektor strategis nasional.

    Trump memang “gila” dalam pendekatan ekonomi internasionalnya, namun dunia kini lebih siap dan sadar. Perang dagang yang terjadi bukan hanya tentang angka dan tarif, tapi tentang keadilan global dan kedaulatan ekonomi.

    Indonesia harus cermat membaca peta ini dan bersiap memperkuat fondasi ekonominya agar tidak mudah goyah dalam turbulensi global yang diciptakan oleh kebijakan sepihak negara adidaya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....