In Memoriam KH. Abdul Gani Kasuba: Ustadku, Gubernurku

  • 16 Mar 2025 17:31 WIB
  •  Ternate
  • Oleh: DR. Asrul Gailea, SE., MM.
  • KBRN, Ternate: Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kabar duka itu datang, meninggalkan kesedihan mendalam bagi masyarakat Maluku Utara.

    KH. Abdul Gani Kasuba, sosok ulama, pendidik, dan pemimpin yang telah mengabdikan hidupnya untuk agama, pendidikan, dan kemajuan daerah, berpulang ke rahmatullah pada Jumat, 14 Maret 2025, pukul 19.55 WIT di RSUD Chasan Boesoirie, Ternate.

    Jenazahnya dimakamkan pada Sabtu, 15 Maret 2025, di kampung halamannya, Desa Bibinoi, Kecamatan Bacan Timur Tengah, Kabupaten Halmahera Selatan—tempat yang selalu ia sebut dalam pesan-pesan terakhirnya sebelum menghadapi sakratul maut.

    Prosesi pelepasan jenazah berlangsung khidmat, dimulai dengan penghormatan resmi sebagai mantan pejabat negara. Gubernur Maluku Utara, Wakil Gubernur, serta tokoh masyarakat dan agama hadir memberikan penghormatan terakhir.

    Salat jenazah dilaksanakan di kediamannya di Tanah Tinggi, Ternate, sebelum dilanjutkan ke Masjid Al-Munawwar untuk disalatkan kembali oleh ribuan pelayat yang datang dari berbagai penjuru daerah.

    Laut Halmahera Turut Berkabung

    Namun, ada satu momen yang begitu membekas—sebuah peristiwa yang seakan menjadi pertanda bahwa alam pun ikut berduka.

    Jenazah KH. Abdul Gani Kasuba diantar ke Bibinoi menggunakan enam speedboat. Selama perjalanan tiga jam menyusuri perairan Halmahera, lautan yang biasanya berombak tenang seakan membisu. Langit begitu cerah, awan yang kerap gelap berubah menjadi putih tipis. Tak ada riak ombak besar, tak ada buih putih yang berkejaran di permukaan air. Seolah-olah Laut Halmahera tengah memberikan penghormatan terakhir bagi putra terbaiknya.

    Di atas speedboat, saya melihat wajah-wajah yang penuh duka—Ketua MUI Maluku Utara, Sekretaris ISNU, Ketua Almaarif, para politisi, serta santri-santri yang dulu menimba ilmu darinya. Kami semua menyaksikan keheningan itu, seakan-akan bumi Halmahera pun tunduk, bersedih, dan merasa kehilangan sosok ulama yang begitu dicintai.

    • Dari Bibinoi ke Madinah, dari Ulama ke Pemimpin

    Perjalanan hidup KH. Abdul Gani Kasuba adalah kisah inspiratif tentang perjuangan, ilmu, dan pengabdian.

    Lahir di Bibinoi dalam keterbatasan, ia tumbuh dengan tekad besar untuk menuntut ilmu agama. Pendidikan formalnya dimulai di Bacan, Halmahera Selatan, sebelum melanjutkan ke Palu, Sulawesi Tengah.

    Ketekunannya membawanya menembus Universitas Islam Madinah, Arab Saudi—sebuah prestasi langka yang hanya bisa diraih oleh mereka yang memiliki kecerdasan, ketekunan, dan tekad yang kuat.

    Baca Juga: Kabar Duka, Mantan Gubernur Malut AGK Meninggal Dunia

    Baca Juga: Gubernur Sherly: Perjuangan Abdul Gani Kasuba Patut Dikenang

    Sekembalinya ke Maluku Utara, ia memilih menjadi pendidik dan pendakwah. Tak hanya mengajar, ia juga mendirikan lembaga-lembaga pendidikan Islam, memberikan cahaya ilmu bagi generasi muda. Namun, pengabdiannya tak berhenti di sana. Ia menyadari bahwa perubahan harus diperjuangkan di berbagai lini, termasuk politik.

    Tahun 2004, ia terpilih sebagai anggota DPR RI dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Karier politiknya terus menanjak, hingga akhirnya dipercaya menjadi Wakil Gubernur Maluku Utara (2009-2014), mendampingi Gubernur Thaib Armayn. Pada 2014, ia melangkah lebih jauh—menjadi Gubernur Maluku Utara untuk periode pertama (2014-2019), lalu kembali terpilih untuk periode kedua (2019-2024).

    Sebagai pemimpin, ia dikenal sebagai negarawan yang sederhana, religius, dan visioner. Banyak kebijakan pro-rakyat lahir dari tangannya. Namun, di balik jabatan dan tanggung jawab besar itu, ia tetaplah seorang ustad, seorang guru, seorang ayah bagi umatnya.

    • Kepulangan yang Husnul Khotimah

    Kullu nafsin dzaiqatul maut—setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Namun, kepergian yang baik adalah milik mereka yang menghabiskan hidupnya dalam kebaikan, pengabdian, dan amal saleh.

    KH. Abdul Gani Kasuba berpulang di bulan suci Ramadan, bulan yang penuh keberkahan dan ampunan. Dalam Islam, meninggal di bulan Ramadan adalah tanda husnul khatimah—akhir yang baik.

    Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima semua amal baiknya, mengampuni dosa-dosanya, menerangi kuburnya, dan menempatkannya di surga-Nya yang tertinggi.

    Kepergiannya meninggalkan duka, tetapi juga warisan kebaikan yang akan terus dikenang. Ia telah menunaikan tugasnya, memberikan cahaya bagi Maluku Utara, dan kini ia berpulang dalam ketenangan.

    Selamat jalan, Ustadku. Selamat jalan, Gubernurku.

    Semoga kisah hidupnya menjadi inspirasi bagi kita semua, terutama generasi muda yang tengah merintis jalan menuju masa depan yang lebih baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....