Fenomena Bunuh Diri, Dimanakah Agama?

  • 02 Mar 2025 08:25 WIB
  •  Ternate
  • Muliadi Tutupoho (Kepala Disarpus Malut)
  • “Alasan sesungguhnya untuk tidak melakukan bunuh diri adalah karena kau tahu hidup akan dimulai lagi ketika neraka sudah usai.” (Ernest Hemingwai)

    KBRN, Ternate: Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Yurika Fauzia Wardhani (2024) mengungkapkan, angka bunuh diri menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) lebih dari 800 ribu per tahun. Tertinggi yaitu di usia muda. Sedangkan menurut data box terdapat 921 kasus, tertinggi adalah dengan usia muda atau produktif.

    Di Maluku Utara, fenomena bunuh diri seakan mulai menjadi jalan keluar bagi sebagian orang yang mengahadapi masalah. Awal tahun 2025 ini, tepatnya Januari-awal Februari setidaknya terdapat dua kasus bunuh diri yang terjadi di Kota Ternate yang dilakukan oleh seorang mahasiswa, dan seorang tukang ojek, dengan cara menggantung diri.

    Mirisnya lagi, tepat di 1 Ramadan 1446 Hijriah atau 1 Mart 2025, salah satu IRT di Kota Ternate, kembali merenggut nyawanya dengan bunuh diri.

    Tidak hanya itu, di Kabupaten Halmahera Tengah, seorang pelajar perempuan mencoba bunuh diri dengan melombat di dalam sungai. Di Kabupaten Halmahera Selatan, seorang remaja ditemukan gantung diri di dalam rumah orangtuanya pada malam hari.

    Beberapa hari kemudian, seorang perempuan muda memiliki satu anak yang suaminya telah pergi selama dua tahun, mencoba bunuh diri dengan melompat dari jembatan.

    Kasus-kasus bunuh diri tersebut dengan motif yang berbeda di antaranya masalah cinta. Di sisi lain mencerminkan tekanan hidup yang paling kecil bagi sebagian orang, justru menjadi begitu berat bagi pelaku bunuh diri. Hidup seakan tak ada artinya, dan tak lagi hidup menjadi pilihan terakhir. Miris.

    Kasus bunuh diri diakui beberapa kalangan menjadi masalah yang sangat kompleks, dan tidak bisa dikaji dan didiskusikan hanya dari satu sisi.

    Menurut Yurika (2024), untuk usia remaja, kasus bunuh diri terjadi karena tekanan akademis, sosial, harapan-harapan tinggi untuk lebih berprestasi dan berkompeten di bidang akademi, perubahan hormon, emosi, permasalahan keluarga, makin banyak bullying, cyber bullying, pengaruh media informasi bebas, masalah identitas diri, dan kurangnya akses sumber dukungan kepada para remaja.

    Pertanyaannya, mengapa bunuh diri menjadi pilihan? Bukankah semua masyarakat di daerah ini beragama dan terkenal kuat agamanya? Apakah ini bagian dari berkurang atau terkikisnya pendidikan beragama di lingkungan keluarga yang dilakukan sejak dini?

    • Agama Melarang Bunuh Diri

    Saya percaya bahwa semua agama tidak menghendaki pemeluknya mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalah dengan cara melakukan bunuh diri. Sebab, agama mengajarkan kebaikan.

    Dalam agama Islam, larangan membunuh diri sendiri terdapat dalam kitab suci Al-Qur’an dan Hadist Nabi Muhammad Saw. Dalam Al-Qur’an, salah satunya pada Surah an-Nisa’ayat 29-30, artinya:

    “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barang siapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”

    Selain itu, dalam beberapa Hadist Nabi Muhammad Saw. "Barangsiapa yang membunuh dirinya sendiri dengan suatu cara yang ada di dunia, niscaya kelak pada hari kiamat Allah akan menyiksanya dengan cara seperti itu pula." (HR. Bukhari no. 6047 dan Muslim no. 110).

    Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad Saw bersabda: "Barangsiapa yang membunuh dirinya sendiri dengan mencekik lehernya, maka ia akan mencekik lehernya pula di neraka. Barangsiapa yang bunuh diri dengan cara menusuk dirinya dengan benda tajam, maka di neraka dia akan menusuk dirinya pula dengan cara itu." (HR. Bukhari no. 1365)

    Kemudian, dari Abu Hurairah menyebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda: "Barangsiapa membunuh dirinya dengan sepotong besi, maka dengan besi yang tergenggam di tangannya itulah dia akan menikam perutnya dalam neraka Jahanam secara terus-terusan dan dia akan dikekalkan di dalamnya.

    Barangsiapa membunuh dirinya dengan meminum racun maka dia akan merasai racun itu dalam neraka jahanam secara terus-terusan dan dia akan dikekalkan di dalam neraka tersebut untuk selama-lamanya. Begitu juga, barangsiapa membunuh dirinya dengan terjun dari puncak gunung, maka dia akan terjun ke dalam neraka jahanam secara terus-terusan untuk membunuh dirinya dan dia akan dikekalkan dalam Neraka tersebut untuk selama-lamanya." (HR. Muslim no. 109).

    Ayat Al-Quran dan beberapa Hadist Nabi tersebut sudah jelas bahwa Islam sangat menentang keras dan mengharamkan bunuh diri, serta ancaman hukuman berat yang akan diterima di akhirat kelak. Selain akan melakukan hal serupa seperti caranya mengkahiri hidup di dunia, orang yang bunuh diri juga menjadi salah satu penghuni neraka jahanam.

    • Pendidikan Agama

    Yurika berpendapat, solusi agar terhindar dari bunuh diri yaitu meningkatkan kesadaran dan pendidikan, pelayanan kesehatan mental yang lebih baik, pelatihan dan dukungan untuk keluarga dan komunitas, bekerja sama dengan instansi-instansi terkait untuk membuat suatu program pencegahan bunuh diri, penelitian dan data serta pencatatan yang rapi dan tersentral yang bisa di akses oleh lembaga yang berkepentingan.

    Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN NLP Indi Dharmayanti (2024) mengungkapkan, bunuh diri tidak hanya memengaruhi individu, tetapi juga keluarga, lingkungan kerja, dan masyarakat luas. Kehilangan seseorang di usia produktif berarti kehilangan potensi dan kontribusi bagi pembangunan bangsa.

    Oleh karena itu, menurut Dharmayanti, pencegahan bunuh diri adalah tanggung jawab bersama, dan penting untuk memahami faktor-faktor penyebab bunuh diri, serta pemahaman yang lebih baik dapat mengembangkan strategi pencegahan yang efektif. Selain intervensi medis dan psikologis, pendekatan holistik yang mencakup pendidikan, kampanye kesadaran, dan kebijakan pendukung kesehatan mental sangat penting.

    Penulis sependapat dengan Yurika dan Dharmayanti, namun di sini penulis hanya mencoba melihat dari aspek pendidikan agama Islam dalam lingkungan keluarga sejak anak usia dini sebagai langkah mencegah bunuh diri.

    Pertama, ayat Al-Qur’an dan hadist Nabi di atas sudah jelas bahwa bunuh diri dilarang keras dalam Islam disertai hukuman berat yang akan diterima. Orang tua seyogyanya memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai larangan ini, sehingga sejak dini anak-anak sudah mulai menyadari bahwa Allah SWT sangat menyayangi mereka, dan karena itu diharamkan untuk bunuh diri.

    Kedua, orangtua harus menjadi teladan bagi anak-anak, sebab, sebagian besar anak-anak menghabiskan waktunya bersama orangtua dan keluarga di dalam rumah. Sejumlah studi menyebutkan bahwa anak-anak cenderung meniru orangtua, baik dalam ucapan, tindakan, perilaku, dan sebagainya.

    Ketiga, pendidikan agama di dalam lingkungan keluarga tidak hanya sekedar menyuruh atau memerintahkan anak untuk mengaji, salat, dan ygsebagainya. Tetapi juga membagi pengetahuan tentang keimanan, menghargai dan mensyukuri hidup.

    Keempat, orangtua dan keluarga di dalam rumah juga seharusnya memiliki budaya literasi agama dan nilai-nilai luhur yang tinggi, sehingga mampu membagi pengetahuan dengan baik kepada anak-anak.

    Lingkungan yang positif tersebut, akan berdampak positif terhadap anak-anak karena sejak dini sudah diberi asupan gizi pengetahuan dan keteladanan yang baik dan benar, sesuai dengan nilai-nilai agama. Anak-anak yang hidup dalam lingkungan postif dan terbuka, akan terbuka pula menyampaikan apa yang dialami tanpa canggung atau takut, meminta pendapat, membicarakan masalah dan mencari soulsi dengan orangtuanya.

    Jadikanlah anak kita sebagai teman berdiskusi agar kelak jika ada masalah yang dihadapinya selalu menjadikan orangtua sebagai satu satunya pemberi solusi dan jalan keluar yang terbaik di mata anaknya. Tentu saja hal tersebut membutuhkan proses, apalagi di zaman teknologi digital. Semoga pendidikan dilingkungan keluarga terutama nilai-nilai religi sebagai peredam keinginan dan pengaruh duniawi

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....