Desa Literat: Ilusi atau Peluang Nyata?

  • 18 Jan 2025 06:48 WIB
  •  Ternate
  • Oleh: Muliadi Tutupoho
  • Kepala Disarpus Maluku Utara
  • KBRN, Ternate: Istilah “literat” mungkin masih terdengar asing dibandingkan dengan “literasi,” meskipun keduanya saling berkaitan. Literasi sering dipahami sebagai kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung.

    Namun, dalam perkembangannya, literasi kini mencakup kemampuan individu untuk memanfaatkan potensi dan keterampilan dalam kehidupan sehari-hari.

    Sebaliknya, literat lebih mengarah pada individu yang telah mencapai kompetensi dan kecakapan hidup. Seperti dijelaskan oleh Tantrie Leonita dan Syarif Yunus, literat adalah orang yang berdaya, memiliki kesadaran belajar, memahami realitas, dan mampu mentransfer pikirannya ke dalam perilaku.

    Dengan tiga ciri utama—adaptif, kontribusi positif, dan solusi nyata—literat menjadi landasan terbentuknya masyarakat yang maju.

    • Mengapa Desa Literat Penting?

    Dalam konteks desa, gagasan “desa literat” mengacu pada komunitas yang anggotanya memiliki kompetensi hidup, karakter adaptif, serta kontribusi nyata dalam berbagai bidang.

    Desa literat tidak hanya mencerminkan tingkat kecerdasan individu, tetapi juga menjadi indikator kemajuan kolektif.

    Namun, membangun desa literat bukan tugas yang sederhana. Diperlukan sinergi antara berbagai pihak—pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta—untuk menciptakan ekosistem yang mendukung peningkatan literasi.

    Salah satu upaya nyata adalah kehadiran perpustakaan desa sebagai pusat pembelajaran aktif dan partisipatif.

    • Program TPBIS: Langkah Menuju Desa Literat

    Melalui program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), Perpustakaan Nasional Republik Indonesia telah membuka jalan bagi desa-desa di Indonesia untuk meningkatkan kualitas hidup warganya.

    Sejak diluncurkan pada 2018, TPBIS telah menjangkau 1.696 perpustakaan desa/kelurahan hingga 2022, dan terus diperluas hingga mencakup 450 perpustakaan tambahan pada 2023.

    Menurut Muhammad Syarif Bando, Kepala Perpusnas, program TPBIS bertujuan untuk membawa perpustakaan ke level inklusi sosial, di mana perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang untuk menemukan solusi atas masalah kehidupan masyarakat.

    Dengan fokus pada literasi berbasis kebutuhan lokal, program ini memungkinkan masyarakat desa mengakses pengetahuan yang relevan dengan sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan budaya.

    • Kolaborasi Kunci Sukses Desa Literat

    Untuk mewujudkan desa literat, kolaborasi lintas sektor adalah kunci. Pemerintah daerah, dinas pendidikan, dinas pemberdayaan masyarakat, dinas koperasi dan UMKM, serta perguruan tinggi perlu bekerja sama dalam program-program strategis.

    Kegiatan seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan program Merdeka Belajar dapat menjadi sarana untuk memperkuat literasi masyarakat desa.

    Selain itu, dukungan anggaran dari pemerintah daerah dan DPRD sangat penting untuk memastikan keberlanjutan program ini. Dengan kolaborasi yang baik, desa literat dapat menjadi kenyataan, bukan sekadar wacana.

    Maluku Utara, dengan populasi lebih dari 1,3 juta jiwa yang tersebar di 1.063 desa/kelurahan, memiliki potensi besar untuk mengembangkan desa literat. Jika dikelola dengan baik, desa literat dapat menjadi solusi untuk berbagai masalah sosial, seperti kemiskinan, pengangguran, stunting, dan putus sekolah.

    Pengalaman negara-negara maju menunjukkan bahwa masyarakat yang literat adalah fondasi kemajuan. Oleh karena itu, memimpikan desa literat di Maluku Utara bukanlah ilusi. Dengan niat tulus dan kerja sama lintas sektor, desa literat dapat menjadi kenyataan yang membawa perubahan nyata bagi masyarakat.

    Desa literat bukan hanya mimpi, tetapi harapan yang bisa diwujudkan. Ini adalah panggilan bagi kita semua untuk bergerak bersama membangun masyarakat yang lebih cerdas, adaptif, dan sejahtera.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....