Tersingkir di babak 32 Besar, Fans Belandan dan Jerman di Tidore Terima Nasib Batobo

  • 30 Jun 2026 16:34 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Tidore – Kekalahan dua raksasa sepak bola Eropa, Jerman dan Belanda, pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 membawa suasana berbeda di Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara. Bukan hanya kekecewaan yang dirasakan para pendukung, mereka juga harus menjalani tradisi khas masyarakat setempat yang dikenal dengan istilah batobo, yakni diceburkan atau berenang di laut sebagai bentuk konsekuensi atas kekalahan tim yang didukung.

Pendukung Tim Nasional Jerman menjadi yang pertama menjalani tradisi tersebut setelah tim berjuluk Die Mannschaft harus mengakui keunggulan Paraguay dalam pertandingan yang berlangsung pada Selasa 30 Juni 2026. Kekalahan itu sekaligus mengakhiri langkah Jerman di ajang Piala Dunia 2026.

Tak berselang lama, nasib serupa dialami para pendukung Tim Nasional Belanda. Tim berjuluk *Oranje* harus angkat koper setelah takluk dari Maroko melalui drama adu penalti yang berlangsung sengit. Hasil tersebut membuat para pendukung Belanda di Tidore juga tak bisa menghindari tradisi batobo yang telah lama menjadi bagian dari kemeriahan Piala Dunia di daerah tersebut.

Sejak hasil pertandingan dipastikan, para pendukung kedua tim langsung dikumpulkan oleh rekan-rekan mereka dan diarak menuju sejumlah lokasi yang menjadi pusat pelaksanaan tradisi batobo. Beberapa titik yang ramai dipadati warga di antaranya Pelabuhan Rum, Tanjung Seli, dan kawasan Pantai Tugulufa.

Di lokasi tersebut, para pendukung Jerman dan Belanda satu per satu diceburkan ke laut. Suasana berlangsung meriah dan penuh gelak tawa. Meski menjadi korban tradisi, para pendukung menerima hukuman tersebut dengan sportif sebagai bagian dari keseruan menikmati pesta sepak bola terbesar di dunia.

Tradisi batobo sendiri telah menjadi fenomena unik yang selalu mewarnai setiap gelaran Piala Dunia di Kota Tidore Kepulauan. Masyarakat setempat menjadikannya sebagai bentuk hiburan sekaligus simbol sportivitas antarsuporter. Siapa pun yang tim favoritnya kalah harus siap menerima konsekuensi berupa berenang atau diceburkan ke laut oleh sesama pendukung maupun warga.

Keunikan inilah yang membuat atmosfer Piala Dunia di Tidore berbeda dengan daerah lain. Tradisi tersebut tidak dimaksudkan sebagai bentuk perundungan atau permusuhan, melainkan menjadi bagian dari budaya kebersamaan yang dibangun di atas semangat persahabatan dan kecintaan terhadap sepak bola.

Setiap kali ada tim unggulan yang tersingkir dari turnamen, kawasan pesisir seperti Pelabuhan Rum, Tanjung Seli, dan Pantai Tugulufa selalu dipenuhi warga yang ingin menyaksikan prosesi batobo. Momen tersebut bahkan kerap menjadi tontonan yang menghibur sekaligus mempererat hubungan antarkomunitas pendukung berbagai negara.

Bagi masyarakat Tidore, batobo bukan sekadar tradisi mencemplungkan pendukung tim yang kalah ke laut, melainkan simbol bahwa dalam sepak bola kemenangan dan kekalahan harus diterima dengan lapang dada.

Tradisi ini pun terus menjadi salah satu warna khas euforia Piala Dunia di Kota Tidore Kepulauan, memperlihatkan bagaimana olahraga mampu menjadi sarana mempererat persaudaraan, membangun sportivitas, serta menghadirkan hiburan yang unik di tengah masyarakat.(*)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....