Kora-kora: Saksi Perjuangan Rakyat Moloku Kie Raha

  • 19 Sep 2024 09:16 WIB
  •  Ternate

KBRN, Ternate: Perahu Kora-kora bukan hanya sekedar salah satu wahana permainan di pasar malam. Namun kora-kora memiliki makna besar terhadap perjuangan rakyat Moloku Kie Raha mengusir bangsa penjajah. Sejarawan Adnan Amal, mengatakan perahu kora-kora adalah perahu perang yang digunakan di Maluku, disebut juga dengan Juanga di Maluku Utara.

Juanga atau kora-kora dengan ukuran sedang mampu menampung 200 orang, sementara ukuran besar dapat menampung 300 sampai 400 orang. Kora-kora dalam sejarahnya pernah dimanfaatkan oleh VOC dalam pelayaran Hongi. Perahu tersebut digunakan untuk pelayaran ke beberapa pulau seperti Moti, Makian, Bacan, Ternate dan Tidore.

Berdasarkan naskah Portugis yang ditulis oleh Antonio Galvao tahun 1544 tentang bentuk kora-kora, di bagian tengah memiliki bentuk seperti telur dengan kedua ujung yang lengkung ke atas, ini memudahkan perahu bergerak maju dan mundur. Kora-kora dibuat tanpa menggunakan paku, memiliki linggi di bagian depan dan belakang perahu untuk memperkuat tali ijuk, lunas serta rusuk.

Bahan yang digunakan untuk membuat perahu kora-kora 90 persen kayu gofasa dan 10 persen kayu arfala. Gofasa digunakan karena tingkat kekerasan kayu yang baik dan memiliki pori-pori yang sulit ditembus air.

Menurut beberapa sumber kora-kora terbagi menjadi tiga jenis yakni, kangunga, juanga dan kora-kora biasa. Kangunga adalah jenis kora-kora dari Kesultanan Tidore.

Juanga adalah kora-kora Kesultanan Ternate dengan ciri khas terdapat bangunan kecil di bagian tengahnya. Juanga, biasanya dinaiki oleh para Sultan. Sementara kora-kora biasa adalah perahu yang mengawal kora-kora juanga. Kora-kora biasa merupakan jenis kora-kora yang digunakan untuk berperang melawan penjajah.

Kini untuk melestarikan nilai sejarah perahu kora-kora, Pemerintah Kota Ternate setiap tahunnya melaksanakan Festival Kora-Kora.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....