Perkuat Pembinaan dan Perlindungan Kerajinan Lokal di Ternate

  • 02 Okt 2026 13:12 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate–Pemerintah Kota Ternate bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Ternate terus memperkuat pembinaan dan perlindungan terhadap produk industri kerajinan, khususnya tenun khas Ternate.

Hal tersebut disampaikan Ketua Dekranasda Kota Ternate, Marliza M. Tauhid saat dialog Interaktif di RRI Ternate bertajuk “Perkuat Perkembangan Industri Kerajinan” dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional.

Ketua Dekranasda Kota Ternate, Marliza M. Tauhid saat dialog di RRI Ternate.(Foto:RRI/Sofyan).

Marliza mengatakan, Dekranasda terus mendorong kreativitas para penenun, termasuk yang berada di kawasan Benteng Oranje. Promosi tenun juga dilakukan melalui berbagai kegiatan dan event berskala nasional.

Salah satunya melalui penggunaan selendang tenun gedogan dan tenun Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) dalam kegiatan Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) di Ternate. Produk tenun tersebut dikenakan oleh sekitar 50 kepala daerah yang menghadiri kegiatan tersebut.

“Kita juga akan mengusulkan melalui Disperindag agar tenun menjadi pakaian kerja Aparatur Sipil Negara (ASN) pada hari-hari tertentu,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perindustrian, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Ternate, Talha Husen, mengatakan kondisi industri tenun di Ternate sempat berada dalam situasi memprihatinkan.

“Di tahun 2021, penenun tersisa empat orang. Kalau tidak didorong, maka akan hilang, punah, dan tidak diharapkan,” ujarnya.

Talha menjelaskan, pemerintah kemudian melakukan berbagai upaya pembinaan. Saat ini, lebih dari 20 orang telah mendapatkan pelatihan menenun menggunakan teknik gedogan. Dari jumlah tersebut, delapan orang di antaranya masih aktif menenun setiap hari.

Sementara untuk tenun menggunakan ATBM, terdapat tujuh penenun yang mampu menghasilkan lebih dari 20 lembar kain setiap bulan. Dari sisi pemasaran, produk kerajinan Ternate juga dipasarkan melalui Swalayan Ternate yang dikelola Dekranasda.

"Selain itu, pemasaran terus diperluas melalui media sosial dan marketplace. Penjualan digital paling intens dilakukan dalam kurun 2024 hingga 2026,” kata Talha.

Pengrajin Tenun Koloncucu, Sehat Lamasila mengatakan, kelompok penenun yang sebelumnya beranggotakan lebih dari 20 orang, kini hanya sekitar sembilan orang yang masih aktif.

Menurut Sehat, sebagian anggota kelompok memilih pekerjaan lain yang dapat memberikan penghasilan harian sehingga meninggalkan aktivitas menenun.

“Mereka juga mementingkan mata pencarian yang lain yang setiap hari bisa menghasilkan, jadi mereka tinggalkan tenun itu,” katanya.

Dia berharap semakin banyak generasi muda di Kota Ternate yang tertarik mempelajari dan mengembangkan tenun Koloncucu. Hal ini dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan kerajinan tradisional agar tidak hilang atau punah. (Reporter/Najla Firishta)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....